Secara bersama-sama, kata dia, diharapkan
online learning climate dan
autonomous learning mengarahkan mahasiswa untuk memiliki
self regulated online learning, yaitu kemampuan mahasiswa dalam mengatur proses belajarnya sendiri dengan mengaktifkan kognisi, afeksi, dan perilaku, untuk mencapai tujuan belajar
online.
Sosok
self regulated learner harapannya dapat menunjukkan keterlibatan optimal dalam kuliah secara daring. Online student engagement dapat dilihat dari beragam indikator.
Sisi
skill, misalnya, mampu mendengarkan dan membaca materi perkuliahan sampai paham, membuat dan mengecek catatan penting, mencari cara agar materi perkuliahan bisa relevan dengan pengalamannya, mencari cara untuk membuat kuliah
online menarik baginya.
Baca:
Catat! Tiga Persiapan Penting Sebelum UTBK-SBMPTN 2021
Kemudian, dari sisi partisipasi, terlibat aktif dalam diskusi, bersedia membantu rekan mahasiswa lain, terlibat perbincangan
online (chat, diskusi, email), mengunggah pendapat dalam forum diskusi secara reguler, dan berusaha mengenal mahasiswa lain di kelas.
Dari sisi emosi, antusias belajar, menikmati komunikasi online misal via e-mail dengan dosen atau rekan mahasiswa lain, Kemudian, sisi performance, mendapatkan nilai yang baik, dapat mengerjakan ujian atau kuis.
Pada akhirnya, yang harus belajar sepanjang hayat bukan hanya perlu dilakukan mahasiswa. Dosen sebagai fasilitator diharapkan pula menemukan cara baru. Sementara, pihak kampus diharapkan memberikan fasilitas penunjang dan kebijakan yang relevan dan terkini.
"Dimilikinya
present moment awareness harapannya dari pihak-pihak yang terlibat tersebut diharapkan dapat membantu terlaksananya pembelajaran jarak jauh dengan kendala psikologis yang minimal," ungkapnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(AGA)