Kandungan mineral yang kompleks membuat abu vulkanik jauh lebih berbahaya daripada debu pada umumnya. Bahaya ini baru akan terasa nyata ketika butirannya terhirup dan menumpuk di dalam organ tubuh manusia dalam waktu yang lama.
Para pakar mengimbau masyarakat memahami ancaman kesehatan akibat erupsi gunung berapi secara logis dan berdasarkan ilmu pengetahuan. Bencana erupsi ini sebaiknya dilihat sebagai proses alami bumi, bukan dijadikan ajang saling menyalahkan atau dianggap sekadar azab atas perilaku manusia.
Kandungan dan Ukuran Partikel Abu Vulkanik
Erupsi gunung berapi terjadi akibat tingginya tekanan magma di dalam bumi yang bisa mencapai 300 megapascal (MPa). Tekanan luar biasa tersebut memicu ledakan serta tumpahan material kompleks ke udara berupa campuran gelas vulkanik, oksida besi, garam, hingga kristal silika atau kuarsa.“Abu vulkanik itu bukan debu biasa. Di dalamnya terdapat kristal mineral, bahkan kristal silika atau kuarsa berukuran mikrometer,” kata Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Agustino Zulys, dalam program Behind the Science, dikutip Jumat, 11 September 2026.
Menurut Zulys, ukuran partikel abu vulkanik menjadi faktor utama yang menentukan seberapa jauh material tersebut dapat menembus organ pernapasan manusia. Semakin kecil ukurannya, semakin dalam pula partikel tersebut mampu mengendap di dalam paru paru.
Ia menjelaskan partikel berukuran 10 mikrometer mampu menembus hingga ke area laring dan toraks. Sementara itu, partikel yang lebih kecil dengan ukuran 4 mikrometer bahkan dapat masuk jauh lebih dalam ke saluran pernapasan bagian bawah.
Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Paparan kristal silika berpotensi memicu gangguan pernapasan serius, mulai dari tuberkulosis hingga risiko kanker paru. Besarnya risiko tersebut sangat bergantung pada jumlah, ukuran, komposisi partikel, serta durasi dan intensitas paparan yang dialami seseorang.“Paru paru itu tempat pertukaran oksigen dan CO2, bukan tempat penyimpanan batuan mineral geologi,” kata Zulys.
Pernyataan tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan abu vulkanik meski jumlahnya sedikit. Paparan berulang dalam waktu lama dinilai lebih berisiko dibandingkan paparan singkat dengan konsentrasi tinggi.
Oleh karena itu, memakai masker serta menghindari kegiatan di luar ruangan ketika gunung erupsi adalah cara pencegahan yang paling masuk akal secara ilmiah.
Kelompok rentan seperti lansia, anak anak, dan penderita gangguan pernapasan disarankan lebih waspada saat kondisi udara dipenuhi abu vulkanik. Pemahaman ilmiah semacam ini diharapkan dapat mendorong respons masyarakat yang lebih tepat saat menghadapi situasi erupsi.
Fenomena Geologis dan Hubungan Manusia dengan Alam
Selain membedah dampak kesehatan, fenomena geologi seperti letusan Gunung Anak Krakatau juga perlu dipahami melalui sudut pandang sains yang rasional. Anggapan bahwa erupsi gunung merupakan bentuk kemarahan alam akibat dosa manusia dinilai tidak sejalan dengan mekanisme vulkanologi.“Secara sains, letusan Anak Krakatau adalah fenomena geologi. Jangan kemudian kita mengatakan tekanan magma terjadi karena manusia berdosa, sebab itu bukan mekanisme vulkanologi,” kata Zulys.
Ia menukil pesan dalam Al Qur'an Surah Ar Rum ayat 41 mengenai kerusakan di darat dan laut sebagai bentuk introspeksi diri manusia. Kerusakan lingkungan mestinya menjadi renungan terkait pengelolaan alam dan hutan, bukan dikaitkan langsung dengan penyebab erupsi itu sendiri.
Aktivitas gunung berapi adalah hukum alam yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta sejak awal. Peristiwa ini menjadi pengingat alam bisa terus ada tanpa manusia, sedangkan manusia justru sangat bergantung agar alam tetap bisa bertahan. (Talitha Islamey)