Gunung Anak Krakatau. Foto: BNPB
Gunung Anak Krakatau. Foto: BNPB

Kenapa Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Jabodetabek? Ini Penjelasan Pakar IPB

Citra Larasati • 09 September 2026 14:46
Ringkasnya gini..
  • Fenomena pembelokan arah angin sebabkan abu vulkanik halus Gunung Anak Krakatau terbawa jauh hingga ke Jabodetabek.
  • Pakar IPB ungkap pertemuan massa udara di Selat Sunda ubah arah angin pembawa material erupsi hingga "nyasar" ke Jawa.
  • Tak cuma cemari udara Jakarta, pakar sebut abu vulkanik yang jatuh ke laut justru bisa bawa nutrisi bagi ekosistem.
Jakarta: Warga di wilayah Jabodetabek dan Bandung belakangan ini dikejutkan oleh paparan abu vulkanik berukuran halus dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Fenomena ini memunculkan rasa penasaran; bagaimana bisa material vulkanik tersebut menyebar sejauh itu hingga ke langit Pulau Jawa, padahal normalnya angin berhembus menuju kawasan Sumatra.

Pakar Oseanografi IPB University, Prof. Agus Atmadippoera, membeberkan penjelasan ilmiah di balik pergerakan anomali tersebut. Menurutnya, pada periode Juli hingga September, pola angin musim timur secara natural akan membawa material erupsi ke arah barat, yakni menuju wilayah Lampung atau daratan Sumatera lainnya.

Namun, abu halus ini bisa terbang ke Jabodetabek akibat adanya titik konvergensi, yakni pertemuan berbagai massa udara di sekitar bagian tengah-utara Selat Sunda. Pertemuan antara angin monsun, angin dari selatan, dan angin Laut Jawa ini memicu pembelokan arah hembusan angin yang membawa material erupsi.

“Jika aktivitas erupsi terus berlangsung, pola sebaran abu diperkirakan masih dapat mengalami pembelokan ke arah Jawa, terutama menjelang masa pergantian musim pada November hingga Februari,” kata Agus dalam siaran pers IPB, Rabu, 9 September 2026.

Bagaimana Dampaknya ke Lautan?

Selain menyebar ke daratan, curahan abu vulkanik Anak Krakatau tentu memengaruhi perairan laut Selat Sunda dan sekitarnya. Menjawab kekhawatiran apakah laut akan tercemar, Agus yang juga terlibat dalam riset bawah laut kerja sama Indonesia-China ‘Cinodex’ menegaskan bahwa proses fisik seperti gelombang dan arus akan menetralisasi dampaknya.

“Abu vulkanik yang jatuh ke perairan laut tidak serta-merta menjadi bahan pencemar atau racun bagi ekosistem. Itu bergantung pada intensitas dan besarannya,” ujarnya, Rabu, 9 September 2026.

Meski begitu, ia mengingatkan jika volume abu sangat besar, perairan bisa menjadi keruh sehingga memblokir penetrasi cahaya matahari. Hal ini berpotensi mengganggu proses fotosintesis organisme laut. Kawasan dasar laut terdekat dengan kawah Anak Krakatau pun kini didominasi sedimen kasar dan sisa longsoran yang membuat ekosistemnya cukup ekstrem.

Sisi Positif Abu Vulkanik bagi Ekosistem

Menariknya, material dari perut bumi ini tak melulu membawa petaka. Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Prof Setyo Budi Susilo, mengungkap adanya "berkah tersembunyi" di balik hujan abu.

“Abu vulkanik juga dapat berpotensi memberikan manfaat ekologis. Material tersebut mengandung sejumlah mikronutrien, termasuk silika dan besi,” ujarnya.

Setelah masuk ke perairan, ombak akan menjalankan tugasnya sebagai pengaduk alami. "Setelah mengalami pengadukan oleh arus, gelombang, dan pasang surut, unsur-unsur tersebut berpotensi memperkaya ekosistem laut dan mendukung proses fotosintesis. Dengan demikian, abu vulkanik tidak selalu menjadi ancaman bagi ekosistem laut," lanjutnya.

Bagi ekologi ikan, Setyo menyebut satwa perairan memiliki insting tajam untuk menghindari kondisi berbahaya. Suhu panas dan kekeruhan air justru mendorong ikan untuk bermigrasi sejenak.

“Ikan dapat bergerak menuju wilayah yang lebih jauh dari sumber erupsi, termasuk ke arah perairan Samudera Hindia maupun Laut Jawa, bergantung pada kondisi oseanografi dan lingkungan saat erupsi berlangsung,” jelasnya.

Untuk mendapatkan akurasi data yang lebih presisi, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Henry Munandar Manik, turut menerapkan teknologi akustik laut. Alat canggih ini diterjunkan khusus guna memetakan sebaran abu vulkanik di dalam kolom air dan menghitung seberapa cepat material itu mengendap di dasar.

“Pemantauan juga akan mencakup tutupan terumbu karang dan lamun serta potensi bioakumulasi material tertentu pada organisme laut,” ucapnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan