Ilustrasi. Dok Media Indonesia.
Ilustrasi. Dok Media Indonesia.

5 Faktor Penyebab Angka Putus Sekolah Meningkat Selama Pandemi

Pendidikan kpai putus sekolah pandemi covid-19
Arga sumantri • 06 Maret 2021 12:39
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut terjadi peningkatan jumlah anak putus sekolah selama pandemi covid-19. Ada lima alasan menyebabkan anak putus sekolah, yaitu karena menikah, bekerja, menunggak Iuran SPP, kecanduan game online dan meninggal dunia.
 
Wilayah pemantauan KPAI meliputi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Provinsi DKI Jakarta. Pemantauan dilakukan dengan pengawasan langsung untuk Kota Bandung dan Cimahi, dan wawancara secara online dengan guru dan Kepala Sekolah jaringan guru Federasi Serikat guru Indonesia (FSGI).
 
"Pemantauan dilakukan pada Februari 2021," ucap Komisioner KPAI Retno Listyarti melalui keterangan tertulis, Sabtu, 6 Maret 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Retno, pemerintah daerah seharusnya sudah dapat memetakan permasalahan pendidikan di wilayahnya, sehingga tidak ada peserta didik yang putus sekolah. Pasalnya, pandemi sudah berjalan selama setahun.
 
"Namun faktanya, KPAI justru menemukan data-data lapangan yang menunjukan angka putus sekolah cukup tinggi, terutama menimpa anak-anak yang berasal dari keluarga miskin," ungkap Retno. 
 
 

Berdasarkan hasil pantauan KPAI selama Januari-Februari 2021 menunjukkan  angka putus sekolah yang memprihatinkan. Uraian datanya sebagai berikut: 

1. Siswa Putus Sekolah karena Menikah

Jumlah siswa yang berhenti sekolah karena menikah jumlahnya mencapai 33 peserta didik dari kabupaten Seluma, Kota Bengkulu dan Kabupaten Bima. Rata-rata siswa yang menikah berada di kelas XII, yang beberapa bulan lagi ujian  kelulusan sekolah.  
 
Akibat masih Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), maka mayoritas  yang sudah menikah tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Wali kelas atau guru Bimbingan Konseling (BK) baru mengetahui setelah dilakukan home visit karena tidak pernah lagi ikut PJJ.
 
Baca: Nadiem: Intoleransi Pemantik Kasus Perundungan di Sekolah
 
Retnomengatakan, angka 33 di awal tahun 2021 merupakan angka yang cukup tinggi. Pada 2020 dari hasil pengawasan penyiapan sekolah tatap muka, diperoleh data angka putus sekolah mencapai 119 kasus, yang wilayahnya meliputi Kabupaten Bima, Sumbawa Barat, Dompu,  Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara, kota Mataram, Kota Bengkulu, Seluma, Wonogiri, Jepara, dan kabupaten Bandung. 
 
"Di Buton, baru saja berlangsung perkawinan antara anak usia 14 tahun dengan anak usia 16 tahun, ini tentu menambah jumlah anak yang putus sekolah karena menikah," ujar Retno. 
 
 

2. Siswa Putus Sekolah karena Bekerja 

KPAI mendapati sejumlah siswa SMK dan SMP terpaksa bekerja karena orang tua terdampak secara ekonomi selama pandemi, sehingga anak harus membantu ekonomi keluarga. Ada satu siswa SMPN di Cimahi bekerja sebagai tukang bangunan demi membantu ekonomi keluarganya. 
 
"Ada satu siswa di Jakarta yang bekerja di percetakan membantu usaha orang tuanya karena sudah tidak memiliki karyawan sejak pandemi dan sepinya orderan cetakan," ujarnya.

3. Siswa Putus Sekolah karena Menunggak SPP

Kasus menunggak iuran SPP yang mengadu ke KPAI jumlahnya cukup tinggi, ada 34 kasus, terhitung mulai Maret 2020 sampai Februari 2021. Dari 34 kasus tersebut, tiga di antaranya berasal dari sekolah yang sama. Hampir 90 persen kasus berasal dari sekolah swasta dan 75 persen kasus berada dari jenjang SMA/SMK.
 
Baca: 7.600 Dosen Antre Kenaikan Pangkat
 
Penunggak sekolah terjadi karena dampak pandemi. Eekonomi keluarga dari anak-anak tersebut terdampak secara signifikan, sehingga memenuhi kebutuhan sehari-hari pun sulit, akibatnya bayar SPP yang dikorbankan. Rata-rata yang mengadu ke KPAI, sudah tidak membayar SPP enam sampai 11 bulan.
 
Pihak sekolah swasta yang  juga turut terdampak dari penunggakan tersebut, umumnya melayangkan surat tagihan kepada orang tua siswa dan memberikan syarat harus membayar dengan mengangsur. Namun, kata Retno, karena tidak ada uang untuk membayar, maka banyak orang tua memutuskan mengeluarkan anaknya dari sekolah. 
 
 

Bahkan, lanjut dia, ada pengaduan dari Pekanbaru yang ketiga anaknya di sekolah swasta yang sama sudah tidak dapat mengakses pembelajaran daring. Sudah dikeluarkan dari grup WhatsApp kelas. Padahal, salah satu anak akan ujian kelulusan sebentar lagi. 
 
"Kasus ini dalam proses penanganan oleh KPAI, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan kota Pekanbaru sudah dimintai klarifikasi. Tahapan selanjutnya adalah mediasi demi pemenuhan ha katas pendidikan  ketiga anak tersebut," jelasnya.
 
Baca: Survei: Hampir 70% Mahasiswa Punya Sikap Toleransi Beragama yang Tinggi
 
Menurut Retno, beberapa sekolah memang melakukan penahanan ijazah anak yang lulus 2020 lalu, karena belum melunasi pembayaran SPP. Ada juga yang tidak dikeluarkan tetapi tidak diberi akses PJJ dan bahkan Try Out (TO) karena sang anak akan ujian kelulusan sebentar lagi. Bahkan, ada sekolah yang sampai mengeluarkan anak tersebut.
 
"Kasus-kasus ini berasal dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Bandar Lampung, Makasar, Denpasar, Pekanbaru, kota Tangerang Selatan, Cirebon dll," pungkas Retno. 

4. Putus Sekolah akibat Kecanduan Game Online 

Saat pengawasan di kota Cimahi, KPAI mendapatkan data bahwa ada dua anak kelas 7 SMP yang berhenti sekolah karena kecanduan game online. Satu di antaranya berhenti sementara selama satu tahun untuk proses pemulihan secara psikologi.
 
 

Kisah dari para guru di beberapa daerah juga menunjukkan fakta yang mengejutkan, bahwa anak-anak yang pagi hari tidak muncul di PJJ online ternyata masih tidur karena main game online hingga menjelang subuh. PJJ secara online yang mensyaratkan alat daring dan kuota internet ternyata berdampak pada anak-anak kecanduan 'game online'. 
 
"Bisa saja hal ini dikarena pengawasan orang tua yang lemah dan dapat juga karena upaya anak mengalihkan kejenuhan selama pandemi yang mengharuskannya berada di rumah saja," ungkapnya.
 
Baca: Jejak Kebijakan Pendidikan Selama Satu Tahun Covid-19
 
Menurut Retno, kemungkinan besar jumlah anak-anak yang mengalami kecanduan game online selama Belajar Dari Rumah (BDR) meningkat selama pandemi. Jika di rata-rata di setiap kabupaten/kota ada minimal dua kasus saja, maka total  di seluruh Indonesia bisa jadi ada seribuan anak atau lebih  mengalami kecanduan game online. 

5. Siswa Meninggal Dunia

Hasil pemantauan kasus siswa putus sekolah karena meninggal dunia terjadi di salah satu SMAN di Kabupaten Bima karena terseret arus ketika bencana banjir Januari lalu. Satu lagi, berasal dari salah satu SMK Swasta di Jakarta yang meninggal karena kecelakaan motor.
 
"Jadi secara data KPAI, ada dua siswa yang meninggal pada semester genap tahun ajaran 2020/2021," ujarnya.
 
(AGA)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif