Guru SMAN 1 Tambun Bekasi, Jawa Barat, Dian Rosalina Sihotang, saat memberikan pembelajaran daring. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Guru SMAN 1 Tambun Bekasi, Jawa Barat, Dian Rosalina Sihotang, saat memberikan pembelajaran daring. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra

Pontang-panting Merancang Pembelajaran Daring

Pendidikan sekolah Pembelajaran Daring Pendidikan Jarak Jauh pandemi covid-19 Konvergensi MGN
Citra Larasati, Ilham Pratama Putra • 17 November 2020 19:38
Jakarta: “Hari itu sibuk banget, kami kaget, juga bingung. Suasana tegang. Guru-guru masih masuk sekolah dan kami akhirnya berkumpul di ruangan serbaguna ini,” beber Fajar Selawati, guru PPKn SMAN 77 Jakarta, ketika menceritakan hiruk pikuk hari pertama penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ), 16 Maret 2020 lalu.
 
Sesuai dengan instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, daerah yang berada di zona oranye dan merah covid-19 harus melaksanakan imbauan belajar dari rumah. Keputusan itu ditindaklanjuti Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, melalui Surat Edaran Nomor 32/SE/2020 tentang Kebijakan Belajar dari Rumah di Masa Darurat Covid-19 selama dua pekan, 16-29 Maret 2020.
 
Namun hari itu, dengan penuh keterpaksaan, kepala sekolah meminta seluruh guru SMAN 77 untuk tetap masuk. Meski, tak satu pun siswa berada di sekolah. Kepsek menambahkan perintah agar seluruh guru membawa serta laptop. Semua serba tak biasa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Semua bawa laptop, kami mulai rapat dan merumuskan aplikasi apa yang akan kami gunakan untuk mendukung belajar dari rumah,” terang Sela, panggilan akrabnya ketika ditemui Medcom.id di Ruang Serbaguna SMAN 77 Jakarta.
 
Begitu banyak aplikasi yang mendadak harus dijelajahi. Mulai dari Zoom, Google Classroom, hingga SiPintar milik Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Rapat pertama itu hendak memutuskan aplikasi mana yang paling mudah diakrabi oleh siswa hingga guru untuk digunakan saat PJJ di masa darurat.
 
“Kami memilih mana yang dekat dengan guru, familiar dengan anak, dan bisa kami kembangkan terus. Akhirnya kami mengembangkan LMS (learning management system) yang sekolah punya. E-learning yang sudah sekolah miliki bernama Moodle,” ujar Sela.
Pontang-panting Merancang Pembelajaran Daring
Fajar Selawati, guru PPKn SMAN 77 Jakarta saat mengajar secara daring. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra
 
Persoalan memilih aplikasi selesai, muncul tantangan berikutnya, yakni mengatasi tak seragamnya daya adaptasi guru dalam menggunakan aplikasi pembelajaran. Maklum saja, tak semua guru datang dari kalangan milenial yang merupakan ‘penghuni asli’ era teknologi.
 
“Tapi saya salut, semua guru di sekolah ini berusaha keras untuk cepat beradaptasi. Semua belajar keras menggunakan teknologi pembelajaran yang mau tidak mau akan kami gunakan sepanjang PJJ,” terang Sela.
 



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif