Siskaeee (Foto: Instagram/official.siskaeee)
Siskaeee (Foto: Instagram/official.siskaeee)

EKSKLUSIF Wawancara Siskaeee: Bongkar Sisi Gelap Industri Konten Dewasa

Rafi Alvirtyantoro • 08 Oktober 2026 11:15
Ringkasnya gini..
  • Siskaeee resmi meninggalkan industri konten dewasa akibat jera dua kali terjerat kasus hukum dan ingin membangun citra lebih positif.
  • Ia membongkar sisi gelap industri kreator dewasa, mulai dari risiko eksploitasi agensi hingga perlakuan tidak menyenangkan dari publik.
  • Saat ini Siskaeee fokus pada kesehatan mental, kegemaran membaca buku, serta berencana membangun perpustakaan dan sekolah mandiri.
Jakarta: Fransiska Candra Novitasari, yang lebih dikenal dengan nama panggung Siskaeee, memutuskan untuk meninggalkan industri konten dewasa. Keputusan ini bukanlah proses yang instan, melainkan buah dari perenungan panjang serta proses pendewasaan diri.

Kepada Medcom.id, Siskaeee membagikan kisah di balik keputusannya meninggalkan dunia yang pernah membesarkan sekaligus menjeratnya. Mulai dari titik balik akibat dua kali berhadapan dengan hukum, makna di balik nama panggungnya, hingga realitas dan sisi gelap industri konten dewasa yang jarang diketahui publik.

Tak hanya membahas masa lalu, Siskaeee juga bercerita tentang upayanya membangun citra baru yang lebih positif, strategi menjaga kesehatan mental dari gempuran hujatan netizen, hingga impian besarnya di bidang pendidikan dan literasi. Berikut adalah wawancara selengkapnya:
 

Titik Balik dan Alasan Berhenti


Apa alasan Siskaeee memutuskan berhenti dari industri konten dewasa?

Sebenarnya simpel sih. Jawabannya adalah proses hukum yang pernah aku jalanin kemarin. Itu yang benar-benar bikin aku untuk udalah, stop. Stop right there. Gitu aja sih. Karena terlalu kompleks dan complicated banget.


Apakah ada ketakutan atau kekhawatiran saat awal mengambil keputusan tersebut?

Sebenarnya kekhawatiran atau keputusan untuk tidak lagi berkecimpung di dunia dewasa atau industri dewasa itu adalah, pasti lagi-lagi karena saya masih tinggal di suatu negara di mana yang menjunjung tinggi norma dan soal hukum yang berlaku gitu kan, ya pasti ya itu sih. Karena balik lagi karena kayak dua kali loh. Kayak, ini udah cukup ya, gitu.

Kalau untuk move on, ya life must go on dan orang pasti akan bertumbuh dan berproses. Tidak selalu dan tidak selamanya seseorang berada di satu titik tertentu. Jadi nggak ada yang salah juga ketika aku juga udah mulai meninggalkan hal-hal yang mungkin itu yang membentuk aku, jadi kayak harusnya udah mulai be a positive lah. Jadi ya harus merubah.


Apakah keputusan ini murni keinginan sendiri atau ada dorongan pihak lain?

Kalau itu apa sih yang kayak, motivasi apa sih yang ngebuat lu—ngebuat aku berhenti ada di industri dewasa adalah, yang pertama otomatis diri sendiri. Itu tadi yang seperti yang aku sampaikan sebelumnya, karena memang aku sudah dua kali menghadapi kasus hukum yang serupa, jadi kayak udah kapok kali ya. Kasarnya udah kapok.

Yang kedua adalah seharusnya itu tuh dulu aku cuma jadikan kayak personal branding aja gitu. Jadi bukan, bukan secara apa ya, real life-nya begitu tuh bukan. Jadi kayak cuma satu personal branding doang.
   

Makna Filosofis di Balik Nama Panggung


Apa arti nama "Siskaeee" dengan huruf "e" tiga dan alasan masih menggunakannya?

Sebenarnya kalau "e"-nya tiga tuh kenapa, aku tuh dulu nggak pernah kepikiran ya, kalau "e"-nya tuh berapa-berapa. Cuma kayak kalau disambung-sambungin, kalau berdasarkan dari orang-orang terdekatku yang mengomentari atau berpendapat soal "e"-nya tiga tuh mungkin ada sangkut pautnya sama kayak unsur kehidupan adalah tiga, kayak gitu-gitu. Terus atau nggak, "Oh ya karena dulu lu sering bikin konten dewasa yang mempersatukan bangsa, jadi kayak sila ketiga nih, Persatuan Indonesia," kayak gitu-gitu. Itu sih lebih ke jokes, bercandaan aja.

Kenapa masih dipakai? Karena itu sudah melekat di aku. Terus itu aku sudah menjadikan nama Siskaeee itu sebuah stage name gitu, kayak yang nama panggung, nama yang gampang didengar atau kayak easy listening aja. Kayak orang tuh kayak langsung, "Oh, Siska yang e-nya tiga." Udah gitu. Jadi kayak orang udah melekat dengan nama Siskaeee, jadi ya itu nama brand aja, gitu.
   

Sisi Gelap dan Realitas Industri Konten Dewasa


Bagaimana sisi gelap dan realita industri konten dewasa di balik layar?

Dari sini aku mau ngejelasin dulu dan harus semua orang tahu ya, karena tidak semua orang atau content creator di industri dewasa itu adalah orang yang solo konten. Maksudnya dalam artian yang kayak apa ya? Kalau aku kan kayak solo karier kasarnya nih. Kalau orang-orang lihat kayak solo karier yang apa-apa ngonten sendiri, ngedit sendiri, posting sendiri gitu kan.

Nah, di industri yang seperti itu sekarang itu sudah memiliki agensi-agensi. Bahkan banyak agensi yang besar gitu lho. Jadi ada banyak content creator dewasa yang masuk ke industri dewasa yang tergabung dengan agensi. Nah, kebetulan karena dulu aku kasarnya bersolo karier, jadi aku tuh nggak tahu tuh sisi gelapnya seperti apa.

Namun, dari berdasarkan beberapa cerita teman-teman, itu banyak yang menilai bahwasanya di agensi industri kreator dewasa itu juga memiliki sisi gelap, yakni kayak eksploitasi, kemudian underpaid, kemudian sengaja diberi hutang atau kredit yang kayak nominalnya nggak make sense, jadi dia harus bekerja untuk memenuhi target berapa syuting film, berapa dan dengan siapa aja, kayak gitu tuh sebenarnya pasti ada gitu. Cuma ya untungnya aku dulu tidak bergabung ke suatu agensi tersebut.


Apa pengalaman pahit yang pernah dialami selama menjadi kreator solo?

Kalau selama ini, nggak ya. Paling ya lebih ke kalau udah ketahuan dan kontennya goes viral, end up-nya ya berhadapan dengan hukum. Balik lagi, karena kita melakukannya di negara hukum. Gitu sih, responsibility-nya di situ sih.
   

Bentuk Tekanan dan Relasi antar-Kreator


Apa saja bentuk tekanan terbesar yang dirasakan kreator konten dewasa?

Kalau dulu tuh yang aku rasain dan aku alamin sendiri itu kayak, misal nih kita ketemu orang yang tahu kita dari konten-konten dewasa yang ada di internet, kemudian mereka bertemu dengan kita dengan harapan mereka bisa melakukan hal yang sama yang ada pada konten. Jadi kayak, sorry to say, kayak being rude atau kayak yang agak pervert gitu.

Nah, tapi balik lagi, sebenarnya itu juga udah risiko dari si content creator dewasa ini juga sebenarnya. Jadi ya bijak-bijaknya kita untuk menanggapi atau kayak mengabaikan aja sih.


Bagaimana hubungan antar-kreator di industri tersebut, apakah saling dukung atau individualis?

Balik lagi karena dulu aku bersolo karier dan tidak gabung dengan agensi, dan kebetulan dulu teman-teman konten kreator dewasa juga saling bersolo karier, which is kayak kolaborasi di mana itu juga dalam kolaborasi itu kita berarti saling support satu sama lain, gitu.

Tapi tidak menutup kemungkinan untuk di luar agensi lain bisa terjadi seperti itu. Karena apa ya? Kadang kan yang dikejar mungkin sebuah fame atau viewers atau apa pun itulah yang bisa mereka dapatkan dengan cara apa pun. Aku juga nggak pernah tahu karena balik lagi aku nggak pernah ada di agensi tersebut, gitu. Tapi so far, aku dan teman-temanku dulu ya saling support sih, bahkan kita berkolaborasi.
   

Proses Transisi Citra dan Menghadapi Stigma


Bagaimana proses adaptasi Siskaeee saat bertransisi ke citra konten yang baru?

Kalau memang soal adaptasi di industri atau di dunia content creator kan itu sangat apa ya, beratlah pastinya ya. Karena kan stigma dan self-branding yang sudah melekat sekali itu kan susah banget ya untuk dilepas atau untuk dihilangkan gitu.

Tapi ya balik lagi, namanya kita beradaptasi di dunia content creator di mana aku tetap bisa menunjukkan sisi keseksianku tapi juga dengan komedi atau sinematik atau artistik gitu. Jadi tidak melulu menunjukkan soal keseksian dengan konotasi yang jorok atau konotasi kayak yang, sorry to say, kayak telanjang atau naked gitu kan. Jadi di mana aku masih bisa membuat konten yang masih seksi tapi masih diterima dalam batas gitu loh, atau yang masih diterima dalam masyarakat atau teman-teman pada umumnya aja.


Bagaimana cara Siskaeee merespons publik yang belum bisa beranjak dari stigma lama?

Aku sih jarang ngerespons orang ya. Karena balik lagi seperti yang aku percaya bahwasanya ketika aku sudah memulai sesuatu, apalagi membangun self-branding dengan sebegitu melekatnya, risikonya adalah ya mendapatkan either itu judgmental atau itu dari pandangan orang terhadap kita, ya itu suatu risiko menurut aku. Itu sebuah timbal baliknya.

Aku juga tidak pernah menyalahkan orang lain yang mungkin masih melihat aku berada di masa itu atau di masa lalu itu. Ya itu nggak salah, itu bukan salah mereka. Itulah kenapa aku tetap konsisten untuk membuat konten yang tidak begitu lagi gitu, tapi tetap ada unsur seksinya.


Pernahkah merasa dihakimi secara sosial oleh masyarakat?

Pasti, dong. Mana mungkin ada seseorang yang apa ya, berani dalam konotasi menunjukkan sesuatu yang harusnya tidak ditunjukkan di depan publik atau di tempat umum gitu. Sudah pasti dihakimi, sudah pasti mendapatkan kritik dan mendapatkan judgment itu sudah pasti.

Cuma kan aku selalu menegaskan bahwasanya, gini-gini, aku selalu kayak berusaha untuk membuat orang yang bertemu atau secara langsung ngobrol sama aku tuh memiliki pandangan atau point of view yang berbeda ketika mereka melihat aku di sosial media atau hanya sekadar dari layar gitu kan. Ketika ketemu, ngobrol, pasti yang mereka dapatkan kayak, "Kok bukan kayak Siskaeee yang ada di video-video?" gitu. Kebanyakan orang pasti akan ngomong seperti itu.

Makanya aku selalu menegaskan bahwasanya itu hanya self-branding gitu. Tapi ketika orang lain menghakimi itu, ya nggak apa-apa, itu adalah timbal baliknya. Jadi yaudah anggap aja itu sebuah engagement.
   

Strategi Menjaga Kesehatan Mental


Bagaimana cara menjaga kesehatan mental di tengah gempuran hujatan netizen?

Terus terang kalau aku tuh orangnya jarang bacain DM (direct message), jarang baca komen. Kalaupun ada baca komen ya gimana ya. Harusnya sih ketika kita sudah memutuskan untuk, "Ya udah aku mau jadi," pada saat itu, "aku mau jadi kayak content creator dewasa yang udah pasti ditolak dan udah pasti nggak diterimalah di masyarakat." Jadi kayak udah siap aja, udah siap mental. Karena segala sesuatu yang kita lakukan pasti berisiko dan berakibat sesuatu, ya itu yang harus kita terima.

Nah, termasuk dengan hujatan, cacian, atau kayak mungkin cyberbullying di media sosial, itu udah pasti salah satu bagian dari itu, part of apa yang kita lakukan di konten sosial media. Dulu gitu. Jadi ketika udah dulu dibully apa segala macam, ya sekarang udah bawa santai aja, kayak ya udah.

Balik lagi, kadang hate comment yang ada di media sosial aku itu, aku anggap engagement. Negative comment, still engagement. Hate comment, still engagement. Jadi tetap engagement.


Pernahkah merasa tersakiti oleh komentar jahat di media sosial?

Aku kalau ngomong gini nggak tahu ya, terlalu ini nggak ya? Karena gini, aku cuma percaya orang itu nggak kenal aku in person. Jadi mereka cuma hanya melihat aku di sosial media. Jadi, nggak apa-apa, itu hak mereka untuk berkomentar seperti apa pun. Begitu juga aku memiliki hak untuk tidak membalas, tidak merespons, dan tidak membaca. That's all.

Tapi kalau untuk komen yang nyelekit, kayaknya aku rasa nggak ada yang bisa bikin aku senyelekit atau sesakit itu deh karena komentar-komentar netizen.
   

Tanggung Jawab Kreator dan Peran Orang Tua


Menurut Siskaeee, sejauh mana tanggung jawab orang tua dan kreator terkait konten anak di bawah umur?

Pertama, aku mau negasin aku juga belum pernah punya anak dan belum pernah jadi orang tua gitu. Jadi aku juga nggak bisa ngomong banyak atau aku ngerasa aku tidak capable untuk soal parenting, apalagi dengan tantangan dunia digitalisasi dan lain-lain ya. Cuma yang aku bisa lakukan sebagai content creator adalah aku bisa membatasi viewers aku di usia range-nya berapa sampai berapa.

Di Instagram misal, aku membatasi viewers aku di usia 19 tahun. Jadi ketika orang membuat akun Instagram, ketika usianya terdeteksi di bawah 19 tahun, sudah otomatis profil aku tidak akan muncul di FYP atau explore akun anak tersebut. Begitu. Selama ini itu yang bisa aku usahakan sebagai content creator. Aku juga nggak mau konten-konten aku dilihat oleh anak kecil atau anak di bawah usia, itu juga sangat tidak maulah ya.

Terus kemudian YouTube juga sudah bisa membatasi usia seberapa minimal kayak 18 tahun atau 21 tahun. Itu yang bisa kita lakukan sebagai content creator. Sisanya sih ya itu peran orang tua yang bekerja gitu kan, either mereka membatasi penggunaan gawai atau gadget-nya, either mereka menggunakan batas usia juga. Kemudian kan juga pihak Komdigi juga sudah membatasi akun-akun media sosial untuk anak-anak juga kan? Jadi harusnya sih sudah mulai bekerja sama sih antara kreator dan orang tua dan pengawasan dari Komdigi atau pemerintah gitu mungkin.
   

Pelajaran Hidup dan Filosofi Zen


Apa pelajaran termahal yang didapatkan Siskaeee dari perjalanan hidup dan kasus hukum?

Setelah apa dinamika lika-liku yang pernah aku hadapi kemarin itu, satu hal yang aku tekankan sama orang di sekitar aku atau teman-teman di real life aku adalah: berani berbuat, berani bertanggung jawab. That's it.

Karena apa pun yang akan kita lakukan itu pasti memiliki impactful, either kepada diri sendiri atau kepada orang terdekat atau lingkungan sekitar. Intinya itu. Kayak misalnya kemarin aku melakukan kesalahan yang amat fatal sehingga aku berhadapan dengan hukum, jadi ya aku nggak akan lari ke mana pun gitu. Aku tetap bertanggung jawab, aku tetap menghadapi proses hukum sesuai aturan dan undang-undang yang berjalan, gitu. Satu, itu.

Kedua, sekarang lebih ke ketenangan di atas segalanya. Sekarang lebih ke Zen ya. Jadi kayak tenang, nggak terlalu banyak drama atau gimana-gimana gitu sih.  

Mimpi Pendidikan dan Kecintaan pada Buku


Apa proyek atau impian masa depan Siskaeee di luar dunia hiburan?

Jadi kalau untuk mimpi sendiri, aku pengin punya kayak sekolah mandiri ya untuk anak-anak yang mungkin susah mendapatkan akses pendidikan. Karena menurut aku kayak pendidikan itu it really matters gitu kan, apalagi buat anak-anak yang nggak semuanya bisa mengakses suatu pendidikan gitu. Satu, itu.

Kemudian kedua, karena aku sekarang lagi suka banget sama buku, jadi aku pengin bangun perpustakaan untuk siapa pun yang mau mengakses. Lagi-lagi buku dan pendidikan sih, lebih ke situ sih.


Sejauh mana progres mewujudkan impian perpustakaan dan sekolah mandiri tersebut?

Untuk yang perpus lagi ongoing process. Tapi untuk sekolah, aku masih so far cuma bisa kayak membantu, tapi nggak seberapalah. Cuma belum—aku pengin punya sendiri gitu. Cuma sekarang cuma ada keterlibatan, tapi nggak banyak gitu aja.


Apa saja buku favorit rekomendasi Siskaeee?

Yang pertama itu aku punya buku Emma Goldman yang Anarchy and the Sex Question, anarkisme gitu-gitu. Karena nggak tahu kenapa kayaknya aku ideologinya anarkis, sama Bakunin juga. Terus ada lagi yang aku suka tuh Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer.

Rata-rata aku sekarang karena seringnya baca buku sejarah sama apa ya, paham-paham kiri gitu sih, ideologi sih.


Apa alasan Siskaeee sangat menyukai dan jatuh cinta pada buku?

Sebenarnya untuk jatuh cinta terhadap buku tuh aku dari kecil, cuma memang baru berani menunjukkan ke sosial media itu lately lah, baru akhir-akhir ini, baru setahun dua tahun belakangan. Karena dulu aku berpikir ternyata kontradiktif sekali ketika punya self-branding sebagai content creator dewasa dalam tanda kutip, kemudian aku tiba-tiba posting Story baca buku, itu kan kayak, "Hah?"

Takut banget dihujat, padahal udah biasa dihujat gitu kan. Tapi ini takut dihujat karena melakukan hal yang positif, gitu kan jadi aneh di pikiranku. Giliran dulu dihujat dengan kondisi konten-konten negatif aku mah bodo amat, tapi ketika aku melakukan hal positif dihujat tuh kayak, "Hah, aneh," gitu kan.

Tapi akhirnya aku tetap memberanikan diri dan karena juga support dari dukungan teman-teman klub buku juga, kayak, "Nggak apa-apa, share aja. Nggak apa-apa, orang juga harus tahu kamu baca buku." "Oh ya udah, oke." Akhirnya aku berani.

Kemudian untuk kenapa aku cinta buku, karena dunia ini udah terlalu riuh, dunia ini terlalu berisik. Di kepala kita udah terlalu banyak hal yang harus kita pikirkan. Once kita punya waktu baca buku tuh kayak membuat dunia ini agak berhenti gitu loh, kayak diam gitu, kayak kepala kita nggak berisik lagi. Itu sih, dan ya biar enak aja kalau diajak ngobrol.


Pesan utama Siskaeee untuk masyarakat yang masih sering menghakimi?

Kita tidak bisa menghakimi seseorang atas apa yang dia lakukan, karena terkadang kita nggak tahu ke depannya orang ini akan menjadi seperti apa. That's all.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA