The Panturas (Foto: Medcom/Rafi)
The Panturas (Foto: Medcom/Rafi)

Eksklusif: The Panturas Cerita Pengalaman Tampil di Fuji Rock hingga Rencana Album Ketiga

Rafi Alvirtyantoro • 17 Agustus 2026 11:00
Ringkasnya gini..
  • The Panturas menilai musik Indonesia punya potensi besar di panggung global, tetapi masih terkendala visa dan minim dukungan pemerintah.
  • The Panturas menganggap tampil di luar negeri sebagai kesempatan membawa nama Indonesia, dengan Fuji Rock menjadi salah satu momen paling membanggakan.
  • Setelah satu dekade berkarya, The Panturas bersiap menjalani California Tour dan mengembangkan album ketiga tanpa ingin terburu-buru dalam proses kreatif.
Jakarta: The Panturas membagikan pengalaman dan pandangan mereka mengenai makna membawa nama bangsa di kancah internasional.
 
Hal tersebut diungkapkan dalam wawancara eksklusif menyambut momen kemerdekaan Indonesia bersama Medcom.id. Mulai dari momen membanggakan saat tampil di panggung Fuji Rock Jepang hingga cerita napak tilas tur ke Amerika Serikat.
 
The Panturas bahkan secara blak-blakan menyoroti potensi besar musik lokal yang masih terbentur masalah regulasi dan lemahnya dukungan visa.

Band yang terdiri dari Gogon (bass), Ijal (gitar), Acin (vokal, gitar), dan Kuya (drum) ini juga membeberkan kunci bertahan selama satu dekade, rencana album ketiga, hingga harapan jujur mereka bagi masa depan Indonesia.

Simak wawancara The Panturas bersama Medcom.id secara lengkap di bawah ini:

Membawa Nama Indonesia di Panggung Internasional


Bagaimana kalian memaknai Indonesia di panggung internasional?
 
Gogon: Indonesia kan bendera yang kita bawa waktu kita main. Setiap kita ada kesempatan bisa main di luar negeri, entah itu waktu kita di Singapura sampai waktu kita main di Jepang (Fuji Rock), kita ditulisnya "The Panturas - Indonesia". Jadi kita hari itu jadi timnas-lah.
 
Kalau gue waktu itu mentalnya adalah: ini gimana caranya gue jadi kayak Rizky Ridho waktu gue manggung di luar? Karena orang yang menonton kita bakal mikir, kalau kita hari itu mainnya jelek, ya dia mungkin bisa mikir, "Ah semua band Indonesia jelek."
 
Makanya kalau gue dan anak-anak mikirnya, kita kayak pemain timnas aja nih yang lagi away day. Jadi kita menganggap Indonesia adalah bendera yang kita bawa dan jangan sampai dibikin malu lah.  

Masih terasa semangat nasionalismenya saat manggung di luar?

Acin: Sebagai orang yang lahir dan besar di sini mah tetap cinta ya. Di negara mana lagi yang ngerokoknya masih bebas?
 
Gogon: Indonesia doang ngerokoknya di mana-mana. Kita tidak antinasionalis. Kita juga enggak tutup mata kalau Indonesia lagi enggak baik-baik aja.
 
Acin: Sayang mah sayang.
 
Gogon: Ke Indonesia tuh, buat gue pribadi dan mungkin anak-anak juga, benar-benar love-hate relationship sih. Kalau kita enggak sayang sama Indonesia, timnas main gue enggak bakal nonton. Terus pas 17-an di rumah gue dipasang bendera Indonesia. Kita enggak antinasionalisme, cuma memang kita sebagai warga Indonesia juga enggak boleh tutup mata melihat kondisi Indonesia yang kayak hari ini.
 
Momen apa yang paling membanggakan selama manggung di luar negeri?
 
Gogon: Momen paling keren buat gue adalah waktu kita pertama kali manggung di luar negeri, waktu itu di Singapura. The Panturas tuh selalu di awal set bilang, "Jeng! Halo, kami The Panturas dari Jatinangor!" Kita selalu ngomong kayak gitu di semua panggung The Panturas dari awal manggung tahun 2017-an lah sampai hari ini.
 
Nah, waktu pertama kali manggung di Singapura di Rocking the Region tahun 2019 (sebelum Covid), itu pertama kalinya gue ngomong, "Halo, we are The Panturas from Jatinangor, Indonesia!" Terus kayak, "Anjir, keren banget, Coy!" Ada perasaan kayak gitu.
 
Akhirnya waktu kita dapat kesempatan main di Singapura lagi, melakukan hal yang sama, terus manggung di Malaysia, Taiwan, Thailand, sampai di Jepang, itu selalu kita keluarin dan gue selalu merasa momen itu keren.
 
Kuya: Di panggung internasional tuh enggak ada orang yang peduli lu dari mana sebenarnya, kecuali musik yang lu pertunjukkan. Jadi sebisa mungkin kita setotal-totalnya lah, sehingga orang lihat, "Ini band keren banget ya. Dari mana?" Dari Indonesia.
 
Waktu di Fuji Rock, ada teman-teman Jepang yang setelah itu datang ke Synchronize Festival di Indonesia untuk nge-discover musik Indonesia. Bangga banget ketika teman-teman dari luar tertarik dan datang ke negara kita untuk nonton band-band Indonesia.
 
Gogon: Pas di Fuji Rock tuh kita kayak lagi di Piala Dunia sebenarnya. Bukan cuma ada band Jepang doang dan kita sebagai undangan dari Indonesia, tapi ada band Afrika, band Thailand, band Irlandia, dll. Jadi hari itu kayak Erling Haaland, enggak mungkin Haaland main jelek. Pertanyaan pertama orang pasti "Where are you from?" dan kita jawab dari Indonesia.
 
Kuya: Dan teman-teman Indonesia pada streaming, itu yang bikin makin merinding.
 
Gogon: Banyak juga yang discover kita dari live streaming Fuji Rock itu, penontonnya dari seluruh dunia dan teman-teman di Indonesia juga pada nonton. Jadi itu waktunya kita, pokoknya enggak boleh main jelek nih.  

Dampak Penjaringan Pendengar Global


Bagaimana dampak tur Asia dan Fuji Rock terhadap angka pendengar global kalian?
 
Kuya: Itu signifikan banget sih. Negara ketiga yang top stream-nya The Panturas tuh Jepang setelah Fuji Rock. Jadi Indonesia, Malaysia, terus Jepang nomor tiganya.
 
Gogon: Singapura bahkan kegeser jadi nomor empat. Jepang tadinya bahkan enggak ada di 10 besar. Ya itu Fuji Rock effect lah. Alhamdulillah ada juga tawaran-tawaran setelah itu.

Tantangan Visa dan Permohonan Dukungan Pemerintah


Apa tantangan terbesar saat membawa musik Indonesia ke luar negeri?
 
Gogon: Tantangannya mungkin sebenarnya enggak ada yang gimana-gimana banget sih, kita kayak melawan diri sendiri aja: gimana caranya enggak tegang. Kalau masalah bahasa, menurut gue musik sudah jadi bahasa universal. Alhamdulillah waktu kita main di Taiwan dan Jepang, penontonnya yang bukan orang Indonesia tetap joget walaupun bahasa Inggris juga susah. Mengandalkan resonansi aja.
 
Tantangan terbesarnya cuma satu, karena tidak didukung oleh pemerintah.
 
Kuya: Visanya sulit.
 
Gogon: Paspornya lemah. Banyak band Indonesia yang gagal ke luar negeri padahal sudah dapat undangan cuma gara-gara visanya enggak keluar dan paspornya lemah.
 
Jadi kalau ada orang-orang sana (pemerintah) yang nonton video ini, tolonglah di-support. Karena dari segi musik, Asia lagi jadi fokus dunia dan Indonesia salah satu bagiannya. Banyak banget band potensial di Indonesia yang terbentur dua hal: visa enggak keluar dan enggak ada uangnya.
 
Kalau ada support yang bisa membantu sih bagus banget. Karena kita ngobrol sama band beberapa negara, ada pemerintah yang support musisinya untuk main di luar negeri.
 
Waktu di AXEAN Music Showcase Bali, ada perwakilan dari pemerintah Taiwan yang memang dikirim sama pemerintahnya untuk mengecek festival musik sidestream. Itu keren banget. Semoga di Indonesia ke depannya bisa kayak gitu.
 
Acin: Daripada invest ke K-Pop kan?
 
Gogon: Ngapain ke K-Pop, ada yang lebih keren kok di Indonesia, banyak! K-Pop musiknya bagus, cuma ngapain ngegedein luar tapi Indonesianya sendiri belum? Ada (grup musik) isinya orang-orang Indonesia, (contohnya) no na. Itu bagus banget, keren.
 
Ada juga band sidestream kita yang benar-benar bagus dan terbukti make it di luar, kayak Ali, Lair, Grrrl Gang, Milledenials. Semuanya rame di luar negeri, jadi sayang banget kalau enggak diperhatikan.

Respon Audien dan Instrumen Musik

Adakah musisi lain di backstage yang penasaran dengan instrumen atau aransemen kalian?
 
Gogon: Justru malah alat yang enggak tradisional yang ditanyain. Orang biasanya kayak, "Wah, ini bass-nya besar banget," atau "Gitarnya keren nih," sama case gitar kita.
 
Kuya: Terus paling di-review Fuji Express, mereka nyebutnya bukan terompet, tapi keliatannya dari jauh kayak Indonesian Flute.
 
Gogon: Tapi enggak ada yang nanya langsung sih. Banyak yang komenin musiknya sebenarnya. Orang baru sadar beberapa lagu The Panturas dibawain pakai aransemen Sunda, dan orang Jepang merasa itu mirip sama musik Enka di Jepang. Jadi bukan alatnya yang dilihat, tapi secara keseluruhan yang kita bawakan.

Potensi Musik Indonesia di Kancah Global


Seberapa besar peluang musisi Indonesia bersaing secara global saat ini?
 
Gogon: Wah, kalau ditanya peluang mah gede banget, percaya sama gua! Tapi ibarat lu punya striker jago-jago kayak Haaland, tapi enggak ada yang ngoper. Gimana caranya bisa ngegolin? Potensi kita besar banget, tapi kalau enggak didukung sama ekosistem musik Indonesia, kalau enggak saling mendukung bakal berat. Kalau saling mendukung sih, potensi musik Indonesia gila banget.
 
Acin: Mungkin karena di Indonesia musik enggak terlalu diperhatikan regulasinya, jadi longgar, makanya beragam kayak sekarang?
 
Gogon: Mungkin ya, bisa jadi musik Indonesia keren karena negaranya enggak keren kan? Bisa jadi. Tapi mumpung sekarang musiknya udah keren, kenapa enggak didukung?

Napak Tilas California Tour dan Karya Baru


Apa yang disiapkan untuk California Tour mendatang? Ada materi baru?
 
Gogon: Materi baru punya, cuma belum dirilis dan belum direkam secara proper, jadi belum akan dibawain. Tur Amerika ini sebenarnya yang kita sepakati kemarin di rapat adalah untuk merayakan 10 tahun The Panturas jalan-jalan ke Amerika sambil bawa gitar.
 
Kuya: Kita enggak ekspektasi terlalu tinggi kayak orang-orang bakal ramai. Kita memulai lagi hal yang baru sebagai band baru di sana, orang enggak tahu The Panturas sama sekali.
 
Acin: Ziarah ke roots kita.
 
Kuya: 10 tahun yang lalu kita membuat musik yang terinspirasi dari California, nah sekarang kita datang napak tilas 10 tahun ke sana, ke tanah suci surf rock.
 
Gogon: Alhamdulillah dapat 4 titik, dan syukurnya lagi di San Diego kita main di House of Blues, venue yang legendaris banget buat band rock di Amerika.
 
Kita main sebaik-baiknya, kalau ada potensi besar ya alhamdulillah, kalau enggak ada ya kita pulang lagi.
 
Kapan rencana rilis album ketiga?
 
Ijal: Ada. Cuma ya sedang nyicil prosesnya. Kapannya belum bisa menjanjikan, karena ada ‘ain’. Mendingan (tahan dulu aja) daripada udah dibilang mau showcase album tapi enggak jadi.
 
Gogon: Kalau ditanya rencana tentu mau dan memang sudah on the way, cuma belum rekaman juga. Kalau The Panturas rilis sesuatu enggak mau yang buru-buru atau dideadline, kerjanya sambil main sambil bikin lagu.

Kunci Bertahan Satu Dekade dan Harapan Masa Depan


Apa pesan kalian untuk band-band muda yang ingin tampil di luar negeri?
 
Gogon: Nongkrong! Bener-bener nongkrong adalah kunci.
 
Kuya: Awalnya kita nongkrong di kampus, terus melebar antar-fakultas, ke Bandung, Jakarta, Malang, Pulau Jawa, Bali, terus Southeast Asia, tiba-tiba Jepang, sekarang Amerika. Semuanya based on nongkrong.
 
Gogon: Kita dari Jatinangor bisa main di Bandung karena nongkrong sama teman-teman yang udah pernah main di Bandung. Kalau musiknya punya potensi tapi enggak kenal, orang kadang malas ngajakin.
 
Kuya: Sama tetap ngeband walaupun yang lain udah pada nyerah. Nanti ada masanya gitu, tetap ngeband aja sampai yang lain pada nyerah.
 
Ijal: Kita enggak tahu kapan kebuka jalannya. Contohnya Perunggu, kebuka jalannya ketika mereka udah pada jadi COO/kerja kantoran.
 
Acin: The Jansen album ketiga kan. Mantap lah pokoknya, bikin karyanya dulu.
 
Gogon: Make music when nongkrong.
 
Apa harapan kalian untuk Indonesia?
 
Gogon: Harapannya adalah GWS aja deh, get well soon Indonesia. Karena memang lagi meriang, negara kita lagi meriang, jadi cepat sembuh aja.
 
Ijal: Semoga cepat satu periode enggak terasa aja.
 
Acin: Intinya makin nyaman ditinggali dan tidak bikin was-was buat masa depan.
 
Kuya: Jadi tempat yang aman dan nyaman untuk semuanya, termasuk anak cucu kita.
 

 

 

 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA