Harapan tersebut disampaikan para personel The Panturas, yakni Gogon (bass), Ijal (gitar), Acin (vokal, gitar), dan Kuya (drum), dalam wawancara eksklusif bersama Medcom.id dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
Menurut Gogon, Indonesia sebenarnya memiliki banyak musisi dan band potensial yang mampu bersaing di tingkat global. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang telah mendapatkan undangan untuk tampil dalam berbagai gelaran musik di luar negeri.
Namun, pengalaman The Panturas menjalani tur di sejumlah negara Asia membuat mereka melihat masih terdapat sejumlah kendala yang harus dihadapi musisi independen ketika hendak membawa karya ke luar negeri.
Persoalan visa, paspor Indonesia, hingga keterbatasan biaya menjadi beberapa hambatan yang kerap membuat kesempatan tersebut sulit direalisasikan.
"Banyak banget band-band potensial di Indonesia gitu yang punya kesempatan tapi terbentur sama dua hal yaitu keluarnya visa sama nggak ada uangnya gitu. Jadi kalau ada support-support yang bisa ngebantu sih bagus banget," ungkap Gogon.
Baca Juga :
Eksklusif: The Panturas Cerita Pengalaman Tampil di Fuji Rock hingga Rencana Album Ketiga
Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara lain yang menurutnya telah memiliki sistem dukungan pemerintah terhadap musisi yang ingin tampil di luar negeri.
"Kita ngobrol ya sama band-band dari beberapa negara, itu udah ada negara-negara yang emang pemerintahnya sincerely support musisinya untuk bisa main di luar negeri gitu," lanjutnya.
Belajar dari Pemerintah Taiwan
Gogon kemudian menceritakan pengalaman The Panturas ketika tampil di AXEAN Festival 2024 di Bali. Festival tersebut dikenal sebagai salah satu ajang yang mempertemukan musisi-musisi sidestream Asia dengan promotor serta pelaku industri musik internasional.Saat berada di festival tersebut, Gogon mengaku sempat berbincang dengan seorang pegawai pemerintah Taiwan. Ia baru mengetahui bahwa pegawai tersebut memang ditugaskan pemerintahnya untuk menghadiri festival musik guna mempelajari perkembangan skena musik di negara lain.
"Waktu itu kita pernah tampil di AXEAN Bali itu ada perwakilannya dari Taiwan. Gue ngobrol sama Pegawai Negeri Sipil (PNS) nya Taiwan sana gitu. Jadi ternyata dia emang dikirim sama pemerintahnya buat ngecek ke sebuah festival musik sidestream," tutur Gogon.
Menurut Gogon, langkah tersebut menjadi contoh menarik mengenai bagaimana pemerintah dapat terlibat langsung dalam memantau serta mendukung perkembangan ekosistem musik.
"Maksud gua, itu keren banget gitu bisa kayak gitu. Nah semoga di Indonesia ke depannya bisa kayak gitulah," ungkapnya penuh harap.
The Panturas Soroti Dukungan terhadap Musik Lokal
Harapan serupa juga disampaikan Acin. Ia menilai pemerintah Indonesia dapat mengambil contoh dari negara-negara yang memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan musisi lokal sebelum memperluas dukungan terhadap industri musik dari luar negeri.Acin bersama Gogon juga menyoroti wacana investasi pemerintah Indonesia di sektor media, hiburan, serta industri K-Pop Korea Selatan melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang sempat mencuat pada tahun 2025 lalu.
"Daripada invest ke K-Pop kan katanya kemarin ada tuh," tutur Acin.
Gogon menilai Indonesia sebenarnya memiliki banyak talenta musik yang layak mendapatkan dukungan agar dapat berkembang dan membawa nama Indonesia ke kancah global.
"Ngapain ke K-Pop? Ada yang lebih keren kok di Indonesia banyak. Maksud gua, ya K-Pop musiknya bagus juga, cuman kan ngapain nge-gedein musik luar tapi Indonesia-nya sendiri belum? Padahal kita ada orang-orang Indonesia seperti grup idol NoNa sekarang gitu, udah bagus dan keren banget bawa nama Indonesia," tegas Gogon.
Banyak Musisi Sidestream Indonesia Sudah Mendunia
Gogon menilai potensi tersebut dapat dilihat dari sejumlah musisi dan band Indonesia yang telah berhasil membangun basis penggemar di luar negeri. Menurutnya, keberhasilan mereka menjadi bukti bahwa karya musisi Tanah Air sebenarnya memiliki daya saing internasional.Ia mencontohkan Ali, band funk bernuansa Timur Tengah asal Jakarta yang telah menjalani tur di Jepang, Eropa, hingga Australia. Ada pula LAIR, grup psych-soul/funk asal Majalengka, Jawa Barat, yang berhasil tampil secara langsung dalam program radio independen KEXP (90.3 FM) yang berbasis di Amerika Serikat.
Selain itu, terdapat Milledenials, band midwest emo asal Bali yang juga telah menggelar rangkaian tur di Jepang, serta Grrrl Gang yang turut memperluas kiprah musik independen Indonesia di luar negeri.
"Banyak band yang lebih sidestream yang bener-bener bagus gitu, band dari musik lokal. Dan terbukti udah banyak juga gitu yang berhas make it di luar kayak: Ali, LAIR, ada Grrrl Gang, dan Milledenials. Mereka bagus-bagus dan semuanya rame di luar negerinya gitu. Jadi sayang banget kalau emang nggak diperhatikan," tutup Gogon mewakili The Panturas.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda