Stephanie Poetri (Foto: Instagram/stephaniepoetri)
Stephanie Poetri (Foto: Instagram/stephaniepoetri)

Eksklusif: Stephanie Poetri Ungkap Tantangan Jadi Wajah Indonesia di Panggung Musik Dunia

Rafi Alvirtyantoro • 17 Agustus 2026 09:00
Ringkasnya gini..
  • Stephanie Poetri membawa identitas Indonesia ke panggung global lewat musik, budaya lokal, dan kolaborasi dengan musisi Tanah Air.
  • Ia menyisipkan unsur Indonesia dalam karya, termasuk batik dan bahasa Indonesia, sebagai cara mengenalkan budaya kepada pendengar internasional.
  • Stephanie Poetri mendorong musisi muda untuk tetap autentik, mengembangkan suara sendiri, dan saling mendukung demi membawa nama Indonesia ke dunia.
Jakarta: Stephanie Poetri membagikan kisah perjalanannya dalam membawa identitas Indonesia ke panggung musik internasional.
 
Hal tersebut diungkapkannya dalam wawancara bersama Medcom.id. Stephanie menceritakan kebanggaannya menyelipkan unsur budaya lokal dalam setiap karya dan penampilan, cerita unik di balik proses kreatif pembuatan lagu, hingga pandangannya mengenai tantangan musisi muda di era digital.
 
Ia juga mengungkapkan dinamika kariernya secara jujur dan otentik. 

Berikut adalah wawancara eksklusif selengkapnya bersama Stephanie Poetri:

Membawa Nama Indonesia di Kancah Global


Apa arti membawa nama Indonesia di luar negeri bagi kamu?
Stephanie Poetri: Mungkin karena aku bukan cuma darahnya orang Indonesia, tapi lahir juga di Tangerang sama sekolah juga di sana. Jadi emang rasa aku itu emang orang Indonesia, walaupun paspor aku paspor Amerika lah gitu ya. Dan juga di sini tuh serunya banyak banget komunitas orang-orang Indonesia yang kita suka ketemu.

Tadinya kita tanggal 17-an tuh mau main badminton, tapi kayaknya nggak jadi deh. Jadi buat aku emang walaupun aku di LA—dan di sini kan termasuk banyak orang dari mana-mana negara—tapi aku tetap cari waktu untuk selalu hangout sama temen-temen aku yang dari Indonesia juga. Dan itu juga termasuk dalam karier aku di mana aku coba kerja sama dengan beberapa musisi Indonesia juga di sini.
 
Dan selalu kalau bisa misalnya visualnya, musik videonya, atau apanya tuh ada nuansa Indonesia-nya gitu.  

Suasana Perayaan Kemerdekaan Indonesia di Amerika


Bagaimana rencana perayaan 17 Agustus kamu di Los Angeles?
Stephanie Poetri: Biasanya tuh aku kalau misalnya nggak ketemu sama temen-temen aku yang dari Indonesia, aku mengajak temen-temen bule aku terus kayak aku bawa ke restoran Indonesia atau apa gitu pas 17-an. Cuman kali ini aku lagi keluar kota buat ketemu keluarga suami aku. Jadi kayaknya kita di Ohio. Jadi, random banget kayaknya nggak ada restoran Indonesia.
 
Tapi kalau ada yang tahu ada restoran Indonesia di Ohio, boleh kabarin.

Tanggung Jawab Menjadi Wajah Pop Indonesia


Apakah ada rasa bangga atau beban menjadi representasi Indonesia?
Stephanie Poetri: Pastinya, soalnya ada suatu hari di mana kita sadar kayak, "Oh, ini lebih besar dari diri aku sendiri," gitu. Kayak apa yang aku bilang, apa yang aku lakukan, itu ujung-ujungnya bisa aja jadi representasi orang Indonesia untuk pertama kali bagi orang lain kan. Jadi aku selalu coba untuk jadi representatif yang bagus tapi juga tetap authentic gitu ya. Nggak terlalu kayak memaksa gitu.
 
Jadi buat aku yang penting stay down to earth sih, jangan terlalu kayak heboh dan nggak terlalu sok-sok gimana gitu. Soalnya at the end of the day, Indonesia tuh kita ada berapa sih? Hampir 300 juta orang kan.
 
Jadi semuanya kita punya pengalaman yang beda-beda, dan kita nggak harus punya satu pengalaman untuk merepresentasi kita semua.
 
Beda orang kan beda pengalaman, jadi yang penting jadi authentic aja gitu.

Momen Kebanggaan dan Koneksi dengan Pendengar


Momen apa yang paling membanggakan saat berinteraksi dengan penonton luar negeri?
Stephanie Poetri: Setiap kali aku perform sih aku selalu nanya kayak, "Oh, ada orang Indonesia nggak di crowd?" So far sih 100% selalu akan ada at least satu gitu. Dan itu bikin aku seneng aja sih, soalnya kayak no matter what kita ada di mana-mana, akan selalu ada orang yang menurut aku kayak, "Oh my God, one of my people."
 
Bikin aku seneng aja gitu. No matter where I am akan selalu ada a piece of home.

Menyisipkan Unsur Budaya dalam Karya


Seberapa penting menunjukkan identitas Indonesia di pasar internasional?
Stephanie Poetri: Menurut aku sih untuk aku personally penting. Tapi kayak aku bilang kan, beda orang punya beda cerita dan beda keinginan juga. Untuk aku, karena mungkin aku punya kakak-kakak, terus aku juga punya banyak teman-teman yang dari kecil aku lihat, aku pengen banget melakukan sesuatu yang bikin mereka juga bangga.
 
Jadi aku selalu coba bawa hal-hal kecil yang mungkin untuk orang bule nggak terlalu kelihatan, tapi untuk orang Indonesia mereka kayak, "Oh..." Kayak misalnya kemarin aku nyanyi di festival, aku beli bahan batik terus aku ikat jadi tali pinggang gitu. Dan untuk orang-orang yang lihat mereka kayak, "Oh, itu tali pinggangnya batik."
 
Buat aku penting karena pas aku kecil lihat hal-hal kecil kayak gitu aja aku udah seneng. Kayak aku gitu banget nonton film ada yang bilang "Indonesia" atau ada yang bilang "Jakarta", aku suka, "Oh, itu negara aku!" Jadi aku coba selalu bawa hal-hal kecil gitu untuk siapapun yang lihat easter egg-nya.  

Peluang Musisi Muda dan Semangat Saling Mendukung


Bagaimana peluang musisi muda Indonesia untuk bersaing secara global saat ini?
Stephanie Poetri: Sekarang sih udah jauh lebih... misalnya tidak se-eksklusif dulu. Apalagi dengan adanya social media, dan lain-lain gitu kan. Cuman yang kita harus selalu ingat bahwa kita punya privilege kan.
 
Jadi misalnya, of course kalau kita punya background ekonomi yang membantu banget, of course kita akan lebih gampang untuk terbang ke sini, untuk kerja di sini. Jadi buat aku sih, aku ingin mengingatkan kita-kita yang cukup beruntung untuk selalu cari cara bawa balik (kebermanfaatan) kepada orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita.
 
Jadi misalnya setiap kali aku ke Indonesia, aku coba DM-DM-an sama artis-artis Indonesia, terus aku juga coba lihat mereka lagi pada ngapain. Dan karena aku kerjanya di Amerika, setelah ketemu orang baru aku suka cerita kayak, "Kamu tahu Naykilla nggak? Kamu tahu Hipdut?" Aku coba cerita-cerita ke orang di sini. You know, mungkin yes bisa banget aku rekomendasiin penyanyi-penyanyi Indonesia yang nyanyi bahasa Inggris. Tapi buat aku, lebih seru lagi rekomendasiin penyanyi-penyanyi yang nyanyi bahasa Indonesia dan mungkin ada Inggrisnya sedikit gitu.
 
So far sepertinya marketing aku cukup sukses, banyak temen-temen aku di sini yang bule suka dengerin Naykilla.

Reaksi Pendengar Asing terhadap Musik Indonesia


Bagaimana reaksi awal mereka saat mendengarkan musik Indonesia?
Stephanie Poetri: Mereka tuh kayak... gimana ya, mereka bilang, "Ini bahasa Indonesia?" Aku jawab, "Iya." Terus mereka bilang, "Kok ngomongnya kayak ada aksen bulenya?" Aku kayak, "Iya, iya, memang lucu kan?" gitu.
 
Jadi walaupun teman-teman aku bukan orang Indonesia, mereka juga bisa pick up gitu. "Oh, kok nyanyinya gini?" Dan menurut aku lucu banget sih denger reaksi orang bule.

Proses Kreatif di Balik Lagu Nona


Apakah kamu menyangka keterlibatanmu di lagu Nona akan sangat populer?
Stephanie Poetri: Sebenarnya nggak terlalu nyangka, soalnya aku udah kerja sama bareng Nona tuh udah lama banget. Lagu kedua mereka juga aku yang nulis. Tapi emang original-nya tuh kita mau bikin fokusnya lebih ke nuansa '80-an dan lebih ke semua orang gitu, mau di Amerika maupun di Indonesia.
 
Cuman baru-baru ini, nggak tahu kenapa kita di ruangan tuh pengen banget—apalagi aku bilang, "Kita boleh nggak tambahin satu-dua kata gitu?" Ujung-ujungnya juga biasanya dari cerita-cerita aku, terus penulis-penulis lainnya pada kayak, "Oh ya?" gitu-gitu.
 
Jadi soal angkot tuh aku lagi cerita aja kayak, "Ih, aku males banget jalan ke tempat kerja, ih panas banget di sini. Enak kali ya kita naik angkot aja, guys." Terus aku cerita ke penulis lain kayak, "Ada dong satu dari kalian beli mobil gede terus jemput kita semua gitu, jadinya kita bisa nebeng."
Terus aku bilang, "Iya, namanya ntar Angkot Piao." Kan Piao salah satu penulisnya, dia best friend aku. Terus aku ceritain deh tentang angkot.
 
Jadi banyak banget konsepnya dari cerita-cerita aku pas growing up di Indonesia gitu.
 
Dan lucunya juga, cewek-cewek Nona tuh pas udah selesai lagunya, mereka yang bikin lebih detail lagi karena mereka punya experience sendiri-sendiri kan.
 
Mereka suka bilang kayak, "Aku mau ganti ini doang." So, like, okay, of course, anything you guys wanna do, monggo.
 
Jadi emang kolaborasi banget dan aku sangat-sangat bangga sama semua hal yang mereka lakuin. Kemarin habis festival kan kita nonton mereka nyanyi kayak... aduh, aku ingat banget aku sama penulis-penulis lainnya pada nonton terus pertama kali lihat mereka nyanyiin itu secara live.

Sentuhan Bahasa Indonesia yang Viral


Apakah kamu yang menciptakan bagian lirik bahasa Indonesia yang viral itu?
Stephanie Poetri: Iya, kebanyakan kalau ada yang bahasa Indonesia palingan aku sih, soalnya penulis-penulis lain kan dari sini. Cuman emang beda-beda sih, salah satu penulisnya ada yang orang Filipina-Meksiko, ada yang dari China. Jadi emang kita coba punya ruangan yang cukup beragam. Tapi kalau ada tulisan-tulisan Indonesia, itu karena aku.
 
Makanya aku tahu banyak yang komen kayak, "Ini kok rada aneh gitu ya?" Itu karena bahasa Indonesia aku yang mungkin rada aneh ya, maaf ya. Tapi ya begitulah kosakata saya, mau gimana lagi.

Inspirasi Lirik Lincah ala Gen Z


Apakah lirik bagian tersebut juga diangkat dari pengalaman pribadi?
Stephanie Poetri: Kalau itu lebih ke... kita udah bikin lagu namanya Rollerblade gitu, habis itu kita kayak, "Aduh kayaknya perlu verse bahasa Indonesia deh." Terus aku kayak, "Waduh, sepatu roda gimana ya?"
 
Terus di kepala aku, cewek-cewek centil Gen Z itu kalau ngomong kayak gimana ya? Terus aku bilang, "Oh, jalan-jalan ya, jalan-jalan ya..." gitu. Terus mereka kayak, "Iya dong, masukin-masukin!"
 
Jadi "jalan-jalan dengan sepatu roda". Original-nya malah lebih gitu lagi, ngomongnya kayak, "Aduh, hello, kiri-kanan..." gitu.

Fokus Eksplorasi Peran di Balik Layar


Apakah ke depannya kamu lebih fokus di balik layar atau merilis karya sendiri?
Stephanie Poetri: Sebenarnya lebih fokus di balik layar. Soalnya kayaknya aku jauh lebih seneng nulis untuk orang lain. Mungkin karena ada sesuatu yang bikin aku merasa lucu banget melihat mereka nari-nari pakai lirik-lirik aku, sedangkan aku nggak bisa nari gitu.
 
Tapi tim aku dan aku udah mulai kerja untuk mungkin ngeluarin proyek tahun depan, cuma masih baru mulai banget. Aku emang pengen lebih fokus jadi produser juga. Dari kemarin aku lagi belajar main beda-beda instrumen dan ngobrol sama teman-teman aku yang produser juga. Beberapa dari mereka orang Indonesia. Jadi mereka suka rekomendasi plugin gamelan atau angklung gitu-gitu.
 
Jadi fokus aku lebih ke nulis untuk orang lain, tapi emang lagi banyak latihan. Semua yang aku pelajari dari nulis buat orang lain, aku serap untuk semoga suatu hari bisa keluarin proyek sendiri juga.  

Pesan Keotentikan dan Penolakan AI dalam Bermusik


Apa pesan kamu untuk musisi muda yang ingin tembus pasar internasional?
Stephanie Poetri: Menurut aku, selalu ikuti isi hatimu. Karena di dunia ini banyak yang bicara, banyak yang di online, jangan dengerin mereka. Yang paling penting itu kamu authentic dan bercerita tentang diri kamu sendiri. Soalnya di dunia ini gak ada orang lain yang punya cerita sama kayak kamu. Jadi gak usah coba ngikutin orang lain terlalu banyak.
 
Dan yang paling penting, gak usah pakai AI. Soalnya menurut aku, sesuatu yang paling penting untuk dipelajari dalam musik itu cara gimana kita mencari genre kita sendiri, suara kita sendiri. Dan kalau kita pakai AI, itu hilang semuanya. The struggle is part of the process.
 
Dan itu yang pengen aku bilang ke semua orang: kamu gak harus sempurna dari pertama. Malah itu yang bikin musik indah, yaitu tidak sempurna dari pertama tapi kita olah terus, kita coba sampai nemu yang sangat authentic.

Harapan untuk Persatuan Musisi Indonesia


Apa harapan kamu untuk Indonesia ke depannya?
Stephanie Poetri: Jadi semoga kita semua selalu support satu sama lain. Of course dunia ini mungkin kadang aneh ya guys, mungkin ada yang tidak bikin kita senang. Namun di hari-hari di mana teman-teman kita ada yang sedih atau orang-orang online ada yang tidak senang, kita harus coba support satu sama lain. Jangan terlalu banyak komen-komen yang jahat ya. Karena at the end of the day, kalau satu orang Indonesia sukses, semuanya kebawa ke atas juga.
 
So I hope as Indonesian kita selalu support satu sama lain, selalu ngebantu satu sama lain. Kalau kamu seperti saya punya banyak privilege, selalu support orang-orang yang tidak seberuntung kita. And be proud to be Indonesian, because it's very special to be Indonesian.
 

 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA