Head of Music Spotify South East Asia, Kossy Ng (Foto: Spotify)
Head of Music Spotify South East Asia, Kossy Ng (Foto: Spotify)

Wawancara Eksklusif Bos Spotify: Musik Lokal Indonesia Sedang Masuki Era Keemasan

Rafi Alvirtyantoro • 27 Juni 2026 09:00
Ringkasnya gini..
  • Musik lokal buatan anak bangsa sukses mendominasi hingga 80% porsi tangga lagu teratas di platform Spotify Indonesia.
  • Aksesibilitas platform streaming membuka jalur baru bagi musisi luar Jakarta dan lagu berbahasa daerah untuk sukses di tingkat nasional.
  • Data Spotify 2026 menunjukkan royalti musisi Indonesia tumbuh 16% dengan kontribusi pendapatan terbesar datang dari luar negeri.
Jakarta: Karya musisi lokal mengalami lonjakan pertumbuhan dan berhasil mendominasi hampir keseluruhan tangga lagu di platform Spotify. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
 
Spotify melaporkan bahwa 80% tangga lagu Indonesia telah dikuasai oleh musik buatan anak bangsa. Dominasi yang terjadi saat ini tentu sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu, saat masih ada karya musik internasional yang terlihat di dalam daftar lagu teratas.
 
Kehadiran para musisi dari berbagai daerah di Indonesia juga menjadi hal menarik yang terlihat di tangga lagu Spotify. Selain tidak berasal dari Jakarta, lagu-lagu mereka juga memiliki lirik yang bukan berbahasa Indonesia, melainkan bahasa daerah masing-masing.

Bahkan, lagu dengan genre K-Pop sudah jarang terlihat di tangga lagu Indonesia. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki basis penggemar K-Pop yang besar.
 
Untuk membahas lebih dalam lagi tentang bagaimana fenomena tersebut bisa terjadi, Medcom.id berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Head of Music Spotify South East Asia, Kossy Ng.

Tanya Jawab Medcom.id bersama Kossy Ng

Saat ini musik lokal sedang berkembang pesat di Indonesia, bahkan sampai menggeser popularitas musik pop Barat yang sempat mendominasi selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari Spotify, seberapa besar sebenarnya pergeseran ini, dan mengapa masyarakat sekarang begitu menggandrungi musik lokal?
 
Kossy Ng: Kalau melihat data dari sisi musik lokal, saat ini sekitar 80% dari daftar Top 50 Charts diisi oleh musisi Indonesia. Angka konsumsi konten lokal pun mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Menurut saya, pemicu utamanya dari sudut pandang pendengar adalah karena mereka mulai mengapresiasi keberagaman yang ada dalam musik Indonesia. Sekarang pilihan musisinya jauh lebih banyak dan mereka juga sangat kreatif dalam melahirkan genre-genre baru. Mulai dari musik Hip-Dut hingga musisi dari Indonesia Timur, semuanya sedang menggeliat. Pertumbuhan ekonomi kreatif ini membuat pilihan lagu dan musik lokal yang bisa dieksplorasi jadi jauh lebih kaya, sehingga setiap komunitas pendengar bisa menemukan musik yang sesuai dengan selera mereka. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor utama mengapa musik lokal bisa berkembang begitu pesat.
 
Tadi saya juga sempat menyinggung sedikit tentang bagaimana Spotify mempermudah proses kurasi dan penemuan lagu baru agar lebih aksesibel. Kami merilis fitur-fitur baru yang membuat pengguna lebih berinteraksi, salah satunya adalah Song DNA yang khusus untuk pengguna Premium. Fitur ini memandu pendengar berselancar dari satu musisi ke musisi lain secara berkesinambungan, sehingga perjalanan mendengarkan musik jadi lebih mendalam. Ditambah lagi, sekarang sudah ada fitur video musik yang membuat pengalaman mendengarkan jadi jauh lebih interaktif dan bikin betah. Semua inovasi ini tentu sangat membantu mendongkrak popularitas musik lokal.
 
Selain itu, Spotify sudah hadir di sini selama sepuluh tahun dan kami telah membangun tim lokal yang sangat kuat. Khususnya di divisi saya yang menangani bidang musik, tim editor dan kemitraan kami turun langsung ke lapangan setiap hari. Mereka berkolaborasi dengan musisi-musisi baru, membantu mereka mengemas cerita lewat media sosial, serta menggandeng talenta baru melalui program RADAR. Semua upaya kolektif ini pada akhirnya memudahkan pengguna untuk menemukan dan menikmati lebih banyak musik lokal secara menyeluruh.

Pergeseran Tren ke Musisi Daerah

Kita melihat banyak musisi dari luar Jakarta yang mulai naik daun, contohnya seperti Tabola Bale. Mereka membawakan lagu dengan bahasa daerah masing-masing. Bagaimana fenomena ini memengaruhi dinamika tangga lagu di Spotify, dan apakah ini menandakan bahwa struktur industri musik secara keseluruhan juga sedang berubah?
 
Kossy Ng: Menurut saya, saat ini kita memang sedang menyaksikan kesuksesan para musisi daerah. Seperti yang kita bahas tadi, Tabola Bale bahkan sempat menduduki peringkat pertama. Kita juga melihat musisi seperti Raim Laode—meski dia bernyanyi dalam bahasa Indonesia, dia berasal dari Sulawesi. Ini membuktikan bahwa untuk bisa sukses, seorang musisi tidak harus selalu berbasis di ibu kota atau pusat industri musik konvensional. Menariknya, label musik saat ini bahkan mulai aktif turun ke daerah-daerah untuk mencari talenta baru.
 
Mengenai tangga lagu (charts), jika kita melihat gambaran besarnya, tangga lagu sebenarnya belum mencerminkan total konsumsi musik secara menyeluruh. Mengapa? Karena kalau kita melihat musisi yang bekerja sama dengan kami seperti Aftershine—yang juga merupakan bagian dari program RADAR—angka pemutaran (streaming) mereka terus melonjak. Begitu pula dengan Ndarboy Genk. Mereka semua membawakan lagu berbahasa Jawa, dan trennya terus meningkat. Baru-baru ini, ada juga musisi dari Sumatra Barat yang lagunya sangat viral meski belum masuk tangga lagu utama, yaitu Fauzana.
 
Dia punya lagu yang judulnya... "Ciinan Bana," kalau tidak salah pelafalan saya. Dia berasal dari Sumatra Barat dan lagunya menggunakan bahasa Minang. Meskipun belum masuk ke tangga lagu teratas, jumlah streaming-nya sudah sangat besar. Jadi, jalur kesuksesan konvensional kini telah berubah berkat aksesibilitas yang ditawarkan oleh platform streaming. Platform ini membuka jalan bagi musisi untuk menjangkau pendengar yang lebih luas; mulai dari skala lokal, naik ke tingkat regional, hingga akhirnya dikenal secara nasional. Menghadiri proses perkembangan ini tentu sangat menyenangkan.  

Potret Industri Musik di Asia Tenggara

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Filipina atau Thailand, apakah dominasi musik lokal ini juga terjadi di sana, atau fenomena ini memang sedang berlangsung secara global?
 
Kossy Ng: Fenomena ini sebenarnya merata di seluruh Asia Tenggara. Di Thailand sudah pasti terjadi. Namun, yang cukup menarik adalah Filipina. Pasar Filipina secara historis sangat didominasi oleh musik Barat. Sampai sekarang pun musik internasional masih kuat di sana, tetapi pergerakan musik lokal mereka menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat.
 
Musik hip-hop di sana sedang sangat digandrungi, dan band-band lama juga mulai bangkit kembali. Kondisinya mirip dengan di sini. Bisa dibilang ini adalah era keemasan karena keberagaman pasarnya. Dengan semakin banyaknya musisi baru yang mengeksplorasi berbagai genre, pilihan musik lokal yang bisa dinikmati penonton pun menjadi lebih kaya. Alhasil, sekarang kita bisa melihat musisi Filipina menguasai tangga lagu mereka sendiri, sama seperti musisi Indonesia di sini.
 
Bagaimana dengan Malaysia? Apakah industri musik lokal di Malaysia juga berkembang pesat seperti di Indonesia?
 
Kossy Ng: Ya, musik lokal di Malaysia juga menunjukkan tren pertumbuhan. Namun, Anda benar, musisi Indonesia memang meraih sukses besar di sana. Contohnya Idgitaf, dia memiliki lebih dari setengah juta pendengar di Malaysia. Sekarang juga banyak musisi kita yang menggelar tur di sana. Secara umum, saya melihat ada kebangkitan rasa bangga terhadap produk lokal di kawasan Asia, dan ini adalah perkembangan yang sangat positif.  

Eksistensi dan Loyalitas Fandom K-Pop

Mengingat musik lokal di Indonesia sedang tumbuh pesat hingga mampu mengungguli K-Pop di tangga lagu domestik, menurut Anda apakah K-Pop mulai kehilangan pengaruhnya di sini, atau sebenarnya pasarnya saja yang sama-sama membesar untuk semua genre?
 
Kossy Ng: Saya menilai pasarnya memang tumbuh secara keseluruhan untuk semua genre. Hanya saja, akselerasi pertumbuhan musik lokal saat ini jauh lebih cepat. K-Pop sendiri tidak mengalami penurunan. Berdasarkan data yang kami miliki, Indonesia merupakan pasar ekspor K-Pop terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Bahkan tahun lalu, pertumbuhan jumlah pendengar baru yang pertama kali mendengarkan K-Pop paling tinggi tercatat di Indonesia. Jadi, basis penggemarnya masih terus tumbuh dan mereka sangat militan. Itulah mengapa banyak grup K-Pop yang sering kembali menggelar konser di Indonesia.
 
Grup K-Pop mana saja yang saat ini masih memiliki angka pemutaran (streaming) paling kuat di Indonesia?
 
Kossy Ng: Tentu saja BTS. Selain itu ada BLACKPINK, ENHYPEN, dan SEVENTEEN. Namun yang menarik, musisi-musisi baru juga mulai mencuri perhatian, seperti BABYMONSTER. Hearts2Hearts, kita punya mereka di (Spotify) Wrapped tahun lalu. Tentu saja, Carmen. CORTIS yang performanya sangat bagus. Jadi, pendengar di Indonesia tidak hanya mendengarkan grup-grup dari generasi terdahulu, tetapi mereka juga sangat terbuka menerima grup-grup pendatang baru yang sedang naik daun.
 
Berarti penikmatnya tetap ada, hanya saja pasarnya yang membesar.
 
Kossy Ng: Benar, pasarnya terus berkembang. Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah variasi konten yang dikonsumsi juga semakin beragam. ENHYPEN, misalnya, mereka sangat populer di Indonesia dan mereka juga memiliki podcast resmi bernama STAN:A yang diproduksi oleh HYBE. Ini menciptakan berbagai bentuk interaksi baru. Ketika kedekatan emosional penggemar sudah terbangun, mereka akan kembali mendengarkan lagunya di platform streaming. Hal inilah yang menjaga loyalitas fandom mereka di Indonesia tetap stabil.  

Pertumbuhan Royalti dan Dukungan terhadap Musisi Indie

Apa pencapaian terbesar bagi musisi Indonesia pada tahun 2026 ini berdasarkan data Loud & Clear? Apakah musisi lokal kini bisa menghasilkan pendapatan yang menjanjikan dari platform streaming?
 
Kossy Ng: Singkatnya, ya. Jika merujuk pada data yang kami rilis, terdapat pertumbuhan sebesar 16% dibandingkan tahun lalu (year-on-year), dan menariknya, 60% dari royalti tersebut justru mengalir dari luar Indonesia. Namun bagi kami, yang lebih penting adalah bagaimana terus memperbesar ekosistem ini. Industri musik Indonesia saat ini sedang berada di masa paling produktif, dan kami ingin terus mendorong pengguna agar mengapresiasi nilai dari pengalaman mendengarkan musik secara legal (berlangganan). Langkah ini akan sangat membantu meningkatkan total pendapatan royalti, dan kami berharap tren positif ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.
 
Dengan pertumbuhan platform streaming yang begitu pesat di sini, bagaimana cara Spotify memastikan agar perputaran dana tersebut juga mengalir sampai ke musisi independen atau musisi daerah, bukan hanya dinikmati oleh musisi-musisi papan atas saja?
 
Kossy Ng: Sejujurnya, sejak awal beroperasi, komitmen kami adalah selalu mendukung dan mewadahi semua jenis musik. Musik indie bahkan menjadi salah satu genre dan komunitas pertama yang kami rangkul sejak kami meluncur sepuluh tahun lalu. Kami memiliki daftar putar (playlist) khusus seperti "Indienesia", dan di dalam "Suara Dari Indonesia" kami selalu melibatkan musisi indie serta musisi daerah. Jika melihat angka statistiknya, angka pemutaran untuk musisi indie tumbuh sekitar 20% dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan ekosistem konsumsi yang sangat sehat. Kalau Anda perhatikan tangga lagu saat ini, banyak di antaranya yang diisi oleh musisi indie. Jadi, saya bisa katakan aliran pendapatan ini sudah terdistribusi dengan baik ke berbagai lapisan musisi. Tentu saja, semakin sering pengguna mendengarkan dan menemukan lagu baru, maka royalti yang mengalir ke para musisi tersebut juga akan semakin besar.

Karakter Unik Penggemar Musik di Indonesia

Penggemar musik di Indonesia terkenal sangat loyal dan suportif. Menurut pengamatan Anda, bagaimana perbedaan perilaku penggemar di Indonesia dibandingkan dengan penggemar global dalam hal menemukan talenta baru dan mengantarkan mereka ke tangga lagu?
 
Kossy Ng: Indonesia adalah rumah bagi beberapa fandom paling militan yang pernah kami tahu. Fenomena K-Pop adalah contoh nyata bagaimana besarnya basis massa di sini. Perilaku kolektif ini sangat berdampak positif bagi perkembangan karier musisi. Dalam sesi diskusi panel tadi pagi, Idgitaf juga sempat membagikan pengalamannya tentang bagaimana ia membangun kedekatan dengan para penggemar. Komunitas di Indonesia ini sangat berbasis digital (digital-first). Mereka aktif di dunia maya, berinteraksi langsung dengan musisi idola mereka, dan kedekatan emosional inilah yang memicu tingginya angka konsumsi musik serta interaksi. Bahkan setiap tahun saat periode Spotify Wrapped, Indonesia selalu menjadi salah satu pasar paling aktif dalam hal berbagi konten di media sosial. Mereka senang mengekspresikan selera musik mereka, dan konektivitas digital yang kuat ini sangat membantu industri.  

Kunci Menembus Pasar Internasional

Musik lokal kita sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi menurut Anda, apa yang masih dibutuhkan oleh musisi lokal agar bisa menembus pasar internasional dan menjadi fenomena global layaknya K-Pop? Apakah Anda punya saran atau pandangan mengenai hal ini?
 
Kossy Ng: Saya ingin mengutip apa yang disampaikan oleh Reality Club tadi pagi mengenai pentingnya sebuah autentisitas. Pandangan itu sangat masuk akal bagi saya; mereka tidak perlu mengubah jati diri mereka demi pasar, dan orang-orang justru menikmati musik mereka karena karya itu lahir dari kejujuran berkarya. Di era sekarang, pendengar mencari sesuatu yang organik dan nyata. Itulah mengapa budaya lokal kini sangat dihargai. Kita bisa melihat contoh seperti Nona... mereka tampil menggunakan “Rollerblade”, dan di bait pertama lagu mereka langsung menegaskan, "Kami dari Indonesia!" Lagunya memadukan unsur reggaeton dengan sentuhan ketukan dangdut. Mereka sempat tampil di Amerika Serikat, dan penonton di sana bisa menikmati lagunya karena musik itu terasa jujur dan autentik. Menurut saya, itulah kunci utamanya. Autentisitas adalah formula rahasia yang membuat pendengar terpikat. Pendengar bisa merasakan jika seorang musisi hanya sekadar meniru orang lain. Karakter yang kuat inilah yang kami lihat berhasil membawa banyak musisi sukses di panggung global.  

Strategi Jangka Panjang Spotify

Apa rencana jangka panjang Spotify untuk membantu musisi daerah di Indonesia dalam menjaga momentum ini sekaligus membangun karier internasional mereka?
 
Kossy Ng: Langkah kami merupakan kombinasi dari beberapa strategi. Kami memiliki tim editor yang fokus penuh untuk memastikan musisi Indonesia mendapatkan panggung di kancah global. Tim kami ini mengurasi dan membagikan karya-karya musisi Indonesia ke jaringan editor Spotify di negara lain untuk membuka peluang baru secara global. Kami sudah melakukan ini untuk mendukung musisi seperti Shakira Jasmine dan Reality Club. Mereka berhasil mendapatkan pendengar baru di luar negeri karena karya mereka dimasukkan ke dalam daftar putar oleh editor kami di berbagai belahan dunia.
 
Selain itu, kami akan terus berinvestasi pada pengembangan produk. Kami aktif membangun fitur-fitur yang dirancang untuk mempererat hubungan antara musisi dan penggemar, seperti fitur video musik, listening party, dan Song DNA. Semua inovasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan fitur kurasi lagu baru. Jika alat kurasi ini bekerja dengan baik, akses bagi pendengar global untuk menikmati musik Indonesia akan terbuka semakin lebar. Ini adalah strategi jangka panjang kami untuk terus mendukung perkembangan musik lokal.
 
Mengenai program promosi luar ruang seperti pemasangan papan reklame di Times Square, New York; selain visualnya yang menarik, dampaknya juga sangat masif karena sering diangkat oleh media massa, sehingga popularitas musisi tersebut langsung terdongkrak. Kami akan terus konsisten menjalankan program-program seperti ini. Seperti yang disampaikan oleh Gustav tadi pagi, Indonesia adalah pasar yang sangat krusial bagi Spotify, dan kami berkomitmen untuk terus tumbuh bersama dengan industri musik di sini.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA