FITNESS & HEALTH
Kasus Campak di Indonesia Masih Tinggi, Orang Dewasa Juga Perlu Waspada
A. Firdaus
Sabtu 16 Mei 2026 / 15:08
- Sekitar 8 persen kasus bahkan terjadi pada kelompok usia dewasa di atas 18 tahun.
- Infeksi campak dapat memicu komplikasi serius.
- Edukasi publik terkait vaksinasi perlu terus diperkuat, termasuk melalui media sosial
Jakarta: Tingginya kasus campak di Indonesia kembali menjadi perhatian. Meski kerap dianggap sebagai penyakit anak-anak, data terbaru menunjukkan bahwa kelompok usia dewasa juga berisiko terinfeksi.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) melaporkan terdapat 10 kematian terkait campak secara nasional sepanjang 2026. Sekitar 8 persen kasus bahkan terjadi pada kelompok usia dewasa di atas 18 tahun. Kondisi ini menandakan bahwa perlindungan terhadap campak tidak hanya penting bagi anak, tetapi juga orang dewasa yang memiliki risiko tinggi.
Meski tren kasus disebut mengalami penurunan dibandingkan awal tahun, otoritas kesehatan tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Pasalnya, campak termasuk penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi.
Virus campak atau measles virus (MeV) dapat menyebar dengan cepat, sehingga dibutuhkan cakupan vaksinasi di atas 95 persen untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity. Namun, data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan cakupan imunisasi campak-rubela (MR) pada 2024 baru mencapai 92 persen untuk dosis pertama (MR1) dan 82,3 persen untuk dosis kedua (MR2).
Padahal, infeksi campak dapat memicu komplikasi serius. Selain pneumonia, campak juga bisa menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak, subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), hingga kematian.
Melihat kondisi tersebut, kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memperkuat perlindungan masyarakat terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.
GSK menyebut pencegahan penyakit menular membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, hingga masyarakat.
“Di GSK, kami meyakini bahwa pencegahan adalah tanggung jawab bersama dan setiap individu yang terlindungi merupakan langkah menuju masyarakat yang lebih kuat dan sehat,” ujar Calvin Kwan.
Menurut Calvin, edukasi publik terkait vaksinasi perlu terus diperkuat, termasuk melalui media sosial dan kanal informasi kesehatan yang mudah diakses masyarakat.
Hal senada juga disampaikan Reswita Dery Gisriani. Ia mengapresiasi langkah cepat BPOM dalam memberikan izin edar vaksin MMR (measles, mumps, rubella) guna memperluas perlindungan masyarakat terhadap wabah campak.
“Respons yang cepat sangat penting dalam menangani wabah campak yang sedang berlangsung, sekaligus mencerminkan komitmen dalam melindungi masyarakat, khususnya anak-anak,” ujarnya.
Secara global, World Health Organization merekomendasikan pemberian dosis pertama vaksin campak pada usia sekitar 9 bulan di wilayah dengan risiko tinggi. Dosis kedua umumnya diberikan pada usia 15 hingga 18 bulan untuk memastikan perlindungan optimal.
Tak hanya anak-anak, vaksinasi pada orang dewasa juga dinilai penting dalam membentuk kekebalan komunal. Kelompok berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, serta individu yang sering berkontak dengan pasien imunokompromais disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait vaksinasi lanjutan.
Dengan cakupan imunisasi yang belum sepenuhnya optimal, para ahli menilai kesadaran masyarakat untuk melengkapi vaksinasi masih menjadi kunci penting dalam menekan penularan campak dan melindungi kelompok rentan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) melaporkan terdapat 10 kematian terkait campak secara nasional sepanjang 2026. Sekitar 8 persen kasus bahkan terjadi pada kelompok usia dewasa di atas 18 tahun. Kondisi ini menandakan bahwa perlindungan terhadap campak tidak hanya penting bagi anak, tetapi juga orang dewasa yang memiliki risiko tinggi.
Meski tren kasus disebut mengalami penurunan dibandingkan awal tahun, otoritas kesehatan tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Pasalnya, campak termasuk penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi.
Virus campak atau measles virus (MeV) dapat menyebar dengan cepat, sehingga dibutuhkan cakupan vaksinasi di atas 95 persen untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity. Namun, data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan cakupan imunisasi campak-rubela (MR) pada 2024 baru mencapai 92 persen untuk dosis pertama (MR1) dan 82,3 persen untuk dosis kedua (MR2).
Padahal, infeksi campak dapat memicu komplikasi serius. Selain pneumonia, campak juga bisa menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak, subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), hingga kematian.
Melihat kondisi tersebut, kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memperkuat perlindungan masyarakat terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.
GSK menyebut pencegahan penyakit menular membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, hingga masyarakat.
“Di GSK, kami meyakini bahwa pencegahan adalah tanggung jawab bersama dan setiap individu yang terlindungi merupakan langkah menuju masyarakat yang lebih kuat dan sehat,” ujar Calvin Kwan.
Menurut Calvin, edukasi publik terkait vaksinasi perlu terus diperkuat, termasuk melalui media sosial dan kanal informasi kesehatan yang mudah diakses masyarakat.
Hal senada juga disampaikan Reswita Dery Gisriani. Ia mengapresiasi langkah cepat BPOM dalam memberikan izin edar vaksin MMR (measles, mumps, rubella) guna memperluas perlindungan masyarakat terhadap wabah campak.
“Respons yang cepat sangat penting dalam menangani wabah campak yang sedang berlangsung, sekaligus mencerminkan komitmen dalam melindungi masyarakat, khususnya anak-anak,” ujarnya.
Secara global, World Health Organization merekomendasikan pemberian dosis pertama vaksin campak pada usia sekitar 9 bulan di wilayah dengan risiko tinggi. Dosis kedua umumnya diberikan pada usia 15 hingga 18 bulan untuk memastikan perlindungan optimal.
Tak hanya anak-anak, vaksinasi pada orang dewasa juga dinilai penting dalam membentuk kekebalan komunal. Kelompok berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, serta individu yang sering berkontak dengan pasien imunokompromais disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait vaksinasi lanjutan.
Dengan cakupan imunisasi yang belum sepenuhnya optimal, para ahli menilai kesadaran masyarakat untuk melengkapi vaksinasi masih menjadi kunci penting dalam menekan penularan campak dan melindungi kelompok rentan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)