FITNESS & HEALTH
Vicky Shu Bongkar Perjuangan Lawan Body Shaming usai Melahirkan
A. Firdaus
Kamis 14 Mei 2026 / 12:10
- Tekanan sosial serupa sempat dialami penyanyi Vicky Shu.
- Vicky juga mulai menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berjalan kaki.
- Program Halofit sendiri dapat diakses melalui aplikasi Halodoc dengan layanan berupa konsultasi dokter.
Jakarta: Gaya hidup modern yang serba cepat membuat banyak orang kesulitan menjaga pola hidup sehat. Kurangnya aktivitas fisik, tingginya tingkat stres, hingga pola makan yang tidak teratur menjadi faktor yang memicu kenaikan berat badan, termasuk pada perempuan pascamelahirkan.
Sayangnya, kondisi tersebut kerap dipandang hanya sebagai persoalan kurang disiplin menjaga pola hidup. Padahal, kenaikan berat badan juga dipengaruhi faktor hormonal, metabolisme, hingga genetik yang kompleks. Stigma ini sering kali memicu tekanan mental dan membuat sebagian orang memilih jalan pintas lewat diet ekstrem yang berisiko bagi kesehatan.
Tekanan sosial serupa sempat dialami penyanyi Vicky Shu. Setelah melahirkan anak keduanya, ia mengaku mengalami kenaikan berat badan yang cukup signifikan hingga menjadi sasaran body shaming dan mom shaming di media sosial.
Di tengah tekanan tersebut, Vicky memilih fokus pada kesehatan fisik dan mentalnya. Transformasi tubuhnya bahkan sempat memicu asumsi publik bahwa dirinya menjalani operasi potong lambung. Namun, Vicky menegaskan bahwa ia mengikuti program weight management berbasis medis dari Halodoc melalui layanan Halofit.
Program yang dijalani selama delapan minggu itu menggabungkan pengawasan dokter, meal plan personal, terapi medis, hingga dukungan teknologi digital. Selain itu, Vicky juga mulai menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berjalan kaki dan mengatur pola makan sehari-hari.
“Aku memilih program Halofit karena aku ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mentalku, bukan semata karena ingin menurunkan berat badan saja,” ujar Vicky Shu.
Ia menjelaskan bahwa program tersebut membantunya mengontrol pola makan melalui pendampingan dokter dan terapi GLP-1 yang membantu mengendalikan nafsu makan.
“Perjalanan transformasi ini ngajarin aku bahwa kita nggak harus memenuhi standar kecantikan orang lain. Tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan, tapi memiliki tubuh dan mental yang sehat,” lanjutnya.
Fenomena yang dialami Vicky disebut mencerminkan kondisi yang lebih luas di masyarakat. Obesitas dan kelebihan berat badan masih sering dianggap sekadar masalah gaya hidup, padahal banyak faktor medis yang memengaruhinya.
Data Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan hingga akhir 2025 menunjukkan satu dari tiga masyarakat Indonesia mengalami obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut. Kondisi ini diketahui meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Sementara itu, studi Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) APAC 2022 menemukan hanya 43 persen individu dengan obesitas di Asia Pasifik yang pernah mendiskusikan kondisi berat badannya dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir.
VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim, mengatakan penanganan obesitas seharusnya tidak hanya berfokus pada angka timbangan, tetapi juga membangun pola hidup sehat berkelanjutan.
“Melalui Halofit kami menghadirkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan menggabungkan edukasi, pendampingan dokter dan ahli gizi, teknologi, serta terapi medis berbasis bukti ilmiah,” ujarnya.
Program Halofit sendiri dapat diakses melalui aplikasi Halodoc dengan layanan berupa konsultasi dokter, meal plan personal dari ahli gizi, obat pendamping, hingga pendampingan selama 30 hari.
Jika diperlukan secara medis, pengguna juga dapat memperoleh terapi GLP-1 yang bekerja dengan meniru hormon alami usus untuk membantu mengontrol rasa kenyang dan kadar gula darah. Terapi ini dilakukan di bawah pengawasan dokter dan bukan ditujukan sebagai solusi instan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Sayangnya, kondisi tersebut kerap dipandang hanya sebagai persoalan kurang disiplin menjaga pola hidup. Padahal, kenaikan berat badan juga dipengaruhi faktor hormonal, metabolisme, hingga genetik yang kompleks. Stigma ini sering kali memicu tekanan mental dan membuat sebagian orang memilih jalan pintas lewat diet ekstrem yang berisiko bagi kesehatan.
Tekanan sosial serupa sempat dialami penyanyi Vicky Shu. Setelah melahirkan anak keduanya, ia mengaku mengalami kenaikan berat badan yang cukup signifikan hingga menjadi sasaran body shaming dan mom shaming di media sosial.
Di tengah tekanan tersebut, Vicky memilih fokus pada kesehatan fisik dan mentalnya. Transformasi tubuhnya bahkan sempat memicu asumsi publik bahwa dirinya menjalani operasi potong lambung. Namun, Vicky menegaskan bahwa ia mengikuti program weight management berbasis medis dari Halodoc melalui layanan Halofit.
Program yang dijalani selama delapan minggu itu menggabungkan pengawasan dokter, meal plan personal, terapi medis, hingga dukungan teknologi digital. Selain itu, Vicky juga mulai menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berjalan kaki dan mengatur pola makan sehari-hari.
“Aku memilih program Halofit karena aku ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mentalku, bukan semata karena ingin menurunkan berat badan saja,” ujar Vicky Shu.
Ia menjelaskan bahwa program tersebut membantunya mengontrol pola makan melalui pendampingan dokter dan terapi GLP-1 yang membantu mengendalikan nafsu makan.
“Perjalanan transformasi ini ngajarin aku bahwa kita nggak harus memenuhi standar kecantikan orang lain. Tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan, tapi memiliki tubuh dan mental yang sehat,” lanjutnya.
Fenomena yang dialami Vicky disebut mencerminkan kondisi yang lebih luas di masyarakat. Obesitas dan kelebihan berat badan masih sering dianggap sekadar masalah gaya hidup, padahal banyak faktor medis yang memengaruhinya.
Data Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan hingga akhir 2025 menunjukkan satu dari tiga masyarakat Indonesia mengalami obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut. Kondisi ini diketahui meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Sementara itu, studi Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) APAC 2022 menemukan hanya 43 persen individu dengan obesitas di Asia Pasifik yang pernah mendiskusikan kondisi berat badannya dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir.
VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim, mengatakan penanganan obesitas seharusnya tidak hanya berfokus pada angka timbangan, tetapi juga membangun pola hidup sehat berkelanjutan.
“Melalui Halofit kami menghadirkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan menggabungkan edukasi, pendampingan dokter dan ahli gizi, teknologi, serta terapi medis berbasis bukti ilmiah,” ujarnya.
Program Halofit sendiri dapat diakses melalui aplikasi Halodoc dengan layanan berupa konsultasi dokter, meal plan personal dari ahli gizi, obat pendamping, hingga pendampingan selama 30 hari.
Jika diperlukan secara medis, pengguna juga dapat memperoleh terapi GLP-1 yang bekerja dengan meniru hormon alami usus untuk membantu mengontrol rasa kenyang dan kadar gula darah. Terapi ini dilakukan di bawah pengawasan dokter dan bukan ditujukan sebagai solusi instan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)