FITNESS & HEALTH
Ladies, Kamu Gak Sendirian! Ini Faktanya Mengapa Wanita Sulit Menurunkan Berat Badan
Aulia Putriningtias
Sabtu 14 Maret 2026 / 17:10
- Tidak seperti pria, wanita mengalami berbagai transisi biologis yang memengaruhi metabolisme mereka.
- Kondisi hormonal seperti PCOS, hipotiroidisme, dan diabetes gestasional dapat semakin memperumit pengelolaan berat badan.
- Keberhasilan pengelolaan berat badan jarang terjadi.
Jakarta: Ladies, pernah tidak kamu bertanya mengapa pria banyak sekali makan tetapi tidak cepat gemuk? Ternyata hal ini memang wajar terjadi dan ini alasannya!
Bagi banyak wanita, menurunkan berat badan jauh lebih rumit daripada sekadar mengurangi kalori atau berolahraga lebih banyak. Tak heran masih banyak yang merasa gagal bisa menurunkan berat badan sesuai targetnya.
Menurut Dr. Gagan Priya , MD, DM Endokrinologi, Konsultan Senior Endokrinologi di Rumah Sakit Fortis, berat badan bukan hanya angka di timbangan. Namun, terkait erat dengan keseimbangan hormon, kesuburan, risiko diabetes, dan kesehatan jantung jangka panjang.
Tidak seperti pria, wanita mengalami berbagai transisi biologis yang memengaruhi metabolisme mereka. Ini termasuk pubertas, kehamilan, pemulihan pasca melahirkan, dan menopause.
Kondisi hormonal seperti PCOS, hipotiroidisme, dan diabetes gestasional dapat semakin memperumit pengelolaan berat badan. Dr. Priya menjelaskan bahwa perubahan fisiologis ini memerlukan pendekatan yang dipersonalisasi.
Selain soal hormonal, terdapat faktor sosial yang berkontribusi. Banyak perempuan harus menyeimbangkan berbagai tanggung jawab, termasuk pekerjaan, pengasuhan, dan tugas rumah tangga, sehingga hanya menyisakan sedikit waktu untuk perawatan diri.
Selain itu, akses layanan kesehatan yang terbatas, stigma seputar berat badan, dan kurangnya pengawasan medis seringkali mendorong perempuan untuk melakukan diet cepat atau rencana penurunan berat badan ekstrem.
Pendekatan ini mungkin memberikan hasil jangka pendek tetapi seringkali menyebabkan berat badan kembali naik. Tanpa panduan terstruktur, upaya tersebut juga dapat mengakibatkan kekurangan nutrisi atau komplikasi kesehatan lainnya.
Keberhasilan pengelolaan berat badan jarang terjadi hanya melalui pengobatan atau diet saja. Para ahli menekankan pentingnya program dukungan pasien yang terstruktur yang menggabungkan perawatan medis dengan panduan gaya hidup.
Adapun beberapa program yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
- Rencana nutrisi yang dipersonalisasi dengan protein dan mikronutrien yang cukup.
- Aktivitas fisik teratur, khususnya latihan kekuatan atau latihan beban.
- Pemantauan berkelanjutan terhadap respons pengobatan dan efek samping.
- Konseling perilaku dan tindak lanjut jangka panjang.
Perjalanan penurunan berat badan yang diawasi secara medis dimulai dengan penilaian kesehatan yang komprehensif. Hal ini bertujuan agar memastikan bahwa strategi penurunan berat badan efektif dan sesuai untuk setiap individu.
Dokter mengevaluasi beberapa indikator penting, termasuk indeks massa tubuh (BMI), lingkar pinggang, kadar gula darah, HbA1c, profil kolesterol, dan tekanan darah. Fungsi hati, kesehatan metabolisme, dan kesehatan mental juga perlu dilihat.
Ahli berpendapat bahwa fokus menurunkan berat badan harus pada kesehatan metabolisme jangka panjang, peningkatan kualitas hidup, dan kebiasaan yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Bagi banyak wanita, menurunkan berat badan jauh lebih rumit daripada sekadar mengurangi kalori atau berolahraga lebih banyak. Tak heran masih banyak yang merasa gagal bisa menurunkan berat badan sesuai targetnya.
Menurut Dr. Gagan Priya , MD, DM Endokrinologi, Konsultan Senior Endokrinologi di Rumah Sakit Fortis, berat badan bukan hanya angka di timbangan. Namun, terkait erat dengan keseimbangan hormon, kesuburan, risiko diabetes, dan kesehatan jantung jangka panjang.
Tidak seperti pria, wanita mengalami berbagai transisi biologis yang memengaruhi metabolisme mereka. Ini termasuk pubertas, kehamilan, pemulihan pasca melahirkan, dan menopause.
Kondisi hormonal seperti PCOS, hipotiroidisme, dan diabetes gestasional dapat semakin memperumit pengelolaan berat badan. Dr. Priya menjelaskan bahwa perubahan fisiologis ini memerlukan pendekatan yang dipersonalisasi.
Selain soal hormonal, terdapat faktor sosial yang berkontribusi. Banyak perempuan harus menyeimbangkan berbagai tanggung jawab, termasuk pekerjaan, pengasuhan, dan tugas rumah tangga, sehingga hanya menyisakan sedikit waktu untuk perawatan diri.
Selain itu, akses layanan kesehatan yang terbatas, stigma seputar berat badan, dan kurangnya pengawasan medis seringkali mendorong perempuan untuk melakukan diet cepat atau rencana penurunan berat badan ekstrem.
Pendekatan ini mungkin memberikan hasil jangka pendek tetapi seringkali menyebabkan berat badan kembali naik. Tanpa panduan terstruktur, upaya tersebut juga dapat mengakibatkan kekurangan nutrisi atau komplikasi kesehatan lainnya.
Bagaimana cara menurunkan berat badan yang baik untuk wanita?
Keberhasilan pengelolaan berat badan jarang terjadi hanya melalui pengobatan atau diet saja. Para ahli menekankan pentingnya program dukungan pasien yang terstruktur yang menggabungkan perawatan medis dengan panduan gaya hidup.
Adapun beberapa program yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
- Rencana nutrisi yang dipersonalisasi dengan protein dan mikronutrien yang cukup.
- Aktivitas fisik teratur, khususnya latihan kekuatan atau latihan beban.
- Pemantauan berkelanjutan terhadap respons pengobatan dan efek samping.
- Konseling perilaku dan tindak lanjut jangka panjang.
Perjalanan penurunan berat badan yang diawasi secara medis dimulai dengan penilaian kesehatan yang komprehensif. Hal ini bertujuan agar memastikan bahwa strategi penurunan berat badan efektif dan sesuai untuk setiap individu.
Dokter mengevaluasi beberapa indikator penting, termasuk indeks massa tubuh (BMI), lingkar pinggang, kadar gula darah, HbA1c, profil kolesterol, dan tekanan darah. Fungsi hati, kesehatan metabolisme, dan kesehatan mental juga perlu dilihat.
Ahli berpendapat bahwa fokus menurunkan berat badan harus pada kesehatan metabolisme jangka panjang, peningkatan kualitas hidup, dan kebiasaan yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)