FITNESS & HEALTH
Kenapa Kecemasan Sering Muncul di Malam Hari? Ini Penjelasan Ahli
A. Firdaus
Jumat 12 Juni 2026 / 10:36
- Kondisi tersebut bukanlah tanda kelemahan pribadi atau gangguan tidur semata.
- Otak tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat saat siang hari.
- Kadar hormon stres atau kortisol yang masih tinggi juga dapat memicu kecemasan pada malam hari.
Jakarta: Banyak orang merasa lebih tenang saat malam tiba. Namun, bagi sebagian lainnya, malam justru menjadi waktu ketika pikiran dipenuhi kecemasan, kekhawatiran, hingga overthinking yang sulit dihentikan.
Pendiri dan Direktur Gateway of Healing, Dr. Chandni Tugnait, menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah tanda kelemahan pribadi atau gangguan tidur semata. Menurutnya, kecemasan yang muncul pada malam hari sering kali merupakan respons tubuh setelah seharian berada dalam kondisi penuh tekanan.
"Bagi banyak orang, malam hari bukanlah waktu istirahat, melainkan momen ketika tubuh dan pikiran mulai memproses berbagai hal yang terabaikan sepanjang hari," ujarnya, seperti dikutip dari Hindustan Times.
Salah satu penyebab utama munculnya kecemasan di malam hari adalah karena otak tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat saat siang hari. Berbagai notifikasi, tenggat waktu pekerjaan, media sosial, hingga distraksi digital membuat pikiran terus aktif tanpa jeda.
Ketika malam tiba dan suasana menjadi lebih tenang, berbagai emosi, stres, serta kekhawatiran yang sebelumnya tertahan mulai muncul ke permukaan. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah merasa cemas atau sulit tidur.
Selain faktor aktivitas mental yang padat, kadar hormon stres atau kortisol yang masih tinggi juga dapat memicu kecemasan pada malam hari.
Stimulasi berlebihan sepanjang hari membuat sistem saraf tetap berada dalam mode waspada. Meski ancaman yang dihadapi sudah berakhir, tubuh masih merespons seolah-olah sedang menghadapi situasi yang harus diwaspadai.
Kondisi ini membuat seseorang merasa gelisah, sulit rileks, bahkan sulit memulai tidur meskipun tubuh sebenarnya sudah lelah.
Kesibukan sehari-hari sering kali menjadi pengalih perhatian dari berbagai pikiran atau masalah yang belum terselesaikan. Saat bekerja, beraktivitas, atau berinteraksi dengan orang lain, otak memiliki banyak fokus lain yang harus diprioritaskan.
Namun ketika malam datang dan aktivitas mulai berkurang, pikiran-pikiran tersebut kembali muncul dan terasa lebih intens. Tidak jarang, hal ini memicu overthinking yang berlarut-larut hingga mengganggu kualitas tidur.
Untuk membantu tubuh dan pikiran lebih rileks, Dr. Chandni menyarankan membangun rutinitas tidur yang konsisten. Beberapa aktivitas sederhana yang bisa dilakukan antara lain mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, menulis jurnal, membaca buku, melakukan peregangan ringan, atau mendengarkan musik yang menenangkan.
Kebiasaan tersebut dapat membantu sistem saraf bertransisi dari kondisi aktif menuju keadaan yang lebih tenang, sehingga tubuh lebih siap untuk beristirahat.
Menjaga kualitas tidur tidak hanya penting untuk kesehatan mental, tetapi juga berperan besar dalam menjaga kesehatan fisik secara keseluruhan. Karena itu, jika kecemasan malam hari terjadi terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Pendiri dan Direktur Gateway of Healing, Dr. Chandni Tugnait, menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah tanda kelemahan pribadi atau gangguan tidur semata. Menurutnya, kecemasan yang muncul pada malam hari sering kali merupakan respons tubuh setelah seharian berada dalam kondisi penuh tekanan.
"Bagi banyak orang, malam hari bukanlah waktu istirahat, melainkan momen ketika tubuh dan pikiran mulai memproses berbagai hal yang terabaikan sepanjang hari," ujarnya, seperti dikutip dari Hindustan Times.
Otak terlalu sibuk seharian
Salah satu penyebab utama munculnya kecemasan di malam hari adalah karena otak tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat saat siang hari. Berbagai notifikasi, tenggat waktu pekerjaan, media sosial, hingga distraksi digital membuat pikiran terus aktif tanpa jeda.
Ketika malam tiba dan suasana menjadi lebih tenang, berbagai emosi, stres, serta kekhawatiran yang sebelumnya tertahan mulai muncul ke permukaan. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah merasa cemas atau sulit tidur.
Hormon stres masih tinggi
Selain faktor aktivitas mental yang padat, kadar hormon stres atau kortisol yang masih tinggi juga dapat memicu kecemasan pada malam hari.
Stimulasi berlebihan sepanjang hari membuat sistem saraf tetap berada dalam mode waspada. Meski ancaman yang dihadapi sudah berakhir, tubuh masih merespons seolah-olah sedang menghadapi situasi yang harus diwaspadai.
Kondisi ini membuat seseorang merasa gelisah, sulit rileks, bahkan sulit memulai tidur meskipun tubuh sebenarnya sudah lelah.
Pikiran yang selama ini tertunda muncul kembali
Kesibukan sehari-hari sering kali menjadi pengalih perhatian dari berbagai pikiran atau masalah yang belum terselesaikan. Saat bekerja, beraktivitas, atau berinteraksi dengan orang lain, otak memiliki banyak fokus lain yang harus diprioritaskan.
Namun ketika malam datang dan aktivitas mulai berkurang, pikiran-pikiran tersebut kembali muncul dan terasa lebih intens. Tidak jarang, hal ini memicu overthinking yang berlarut-larut hingga mengganggu kualitas tidur.
Cara menenangkan pikiran sebelum tidur
Untuk membantu tubuh dan pikiran lebih rileks, Dr. Chandni menyarankan membangun rutinitas tidur yang konsisten. Beberapa aktivitas sederhana yang bisa dilakukan antara lain mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, menulis jurnal, membaca buku, melakukan peregangan ringan, atau mendengarkan musik yang menenangkan.
Kebiasaan tersebut dapat membantu sistem saraf bertransisi dari kondisi aktif menuju keadaan yang lebih tenang, sehingga tubuh lebih siap untuk beristirahat.
Menjaga kualitas tidur tidak hanya penting untuk kesehatan mental, tetapi juga berperan besar dalam menjaga kesehatan fisik secara keseluruhan. Karena itu, jika kecemasan malam hari terjadi terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)