FITNESS & HEALTH

Trauma Bakal Selamanya Ada atau Bisa Hilang? Nih Faktanya!

Yatin Suleha
Rabu 12 Agustus 2026 / 18:36
Ringkasnya gini..
  • Banyak dari kita ngira pengalaman traumatis bakal ninggalin luka seumur hidup.
  • Padahal, riset membuktikan kalau respons tiap orang itu beda-beda.
  • Penelitian menunjukkan sebagian besar orang dapat kembali pulih setelah mengalami peristiwa traumatis.
Jakarta: Banyak dari kita ngira pengalaman traumatis bakal ninggalin luka seumur hidup. Padahal, riset membuktikan kalau respons tiap orang itu beda-beda. 

Di artikel Psychology Today berjudul "Is Trauma Forever?", Karla McLaren ngebahas temuan soal resiliensi pasca-trauma. 

Penelitian tersebut menemukan empat pola respons utama setelah seseorang mengalami peristiwa yang berpotensi traumatis, yakni resiliensi, pemulihan, kondisi kronis, dan gejala yang muncul secara tertunda.
   

Sekitar dua pertiga orang punya sifat resiliensi


McLaren nyebutin sekitar dua pertiga orang (66,6%, didukung studi Galatzer-Levy dan Bonanno) nunjukkin pola resiliensi. 

Resiliensi di sini bukan berarti enggak ngerasain susah sama sekali, tapi kondisi psikologis yang relatif stabil seiring waktu. 

Jadi, angka itu bukan berarti "65,7% orang pasti sembuh total", melainkan proporsi rata-rata yang punya pola adaptasi stabil.
 

Ada 4 pola respons setelah trauma



(Trauma belum tentu PTSD karena PTSD adalah gangguan mental spesifik yang butuh diagnosis khusus. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Penelitian nemuin empat pola utama yaitu:

1. Resiliensi (65,7%): Relatif stabil dari waktu ke waktu

2. Pemulihan (20,8%): Sempat bergejala, lalu berangsur membaik

3. Kondisi kronis (10,6%): Gejala menetap

4. Gejala tertunda (8,9%): Gejala muncul belakangan
 

Trauma belum tentu PTSD dan pemulihannya unik


Ngalamin trauma enggak otomatis bikin seseorang kena Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Proses pemulihannya juga jarang yang mulus; bisa ada gangguan tidur, perubahan emosi, atau keinginan narik diri. Tapi, reaksi itu wajar dan bukan tanda gangguan jangka panjang.
 

Kenapa trauma dianggap permanen?


Pandangan ini sering muncul karena observer bias (terapis biasanya cuma ketemu orang yang lagi struggling) serta narasi di media sosial yang sering bikin trauma kelihatan pasti permanen, padahal banyak yang bisa beradaptasi.
   

Tetap butuh bantuan profesional?


Resiliensi bukan berarti semua orang bisa pulih sendiri. Kalau dampak traumanya sudah mengganggu tidur, pekerjaan, atau aktivitas harian, sangat disarankan buat tetap cari bantuan psikolog atau psikiater. 

Manusia punya kapasitas beradaptasi, tapi setiap orang punya proses unik dan sah-sah saja jika butuh dukungan profesional.


Desi Indasari

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH