FITNESS & HEALTH

Terlalu People Pleaser Bikin Semangat Auto-Off? Cek Penjelasan Psikologinya di Sini!

A. Firdaus
Kamis 30 Juli 2026 / 12:09
Ringkasnya gini..
  • Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.
  • Kebiasaan terus-menerus mencari validasi dari luar, dapat perlahan mengikis rasa otonomi.
  • Lambat laun muncul keyakinan bahwa setiap keputusan harus mendapat pengakuan terlebih dahulu sebelum dianggap benar.
Jakarta: Semangat untuk mengejar tujuan tidak selalu hilang karena kegagalan besar. Justru, dalam banyak kasus, motivasi memudar secara perlahan akibat kebiasaan-kebiasaan kecil, yang dilakukan berulang kali tanpa disadari. 

Misalnya, selalu menunggu persetujuan orang lain sebelum mengambil keputusan, menahan pendapat karena takut dinilai, atau baru berani bertindak setelah mendapat dukungan. 

Jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri, dan semakin bergantung pada penilaian orang lain untuk merasa yakin.
Motivasi jarang menghilang hanya karena satu pengalaman yang mengecewakan. Yang lebih sering terjadi adalah motivasi terkikis sedikit demi sedikit, akibat kebiasaan menyerah dalam situasi sehari-hari. 

Awalnya mungkin hanya mengikuti suasana, menunggu isyarat dari orang lain, atau menyensor diri sebelum berbicara. Namun, ketika pola ini terus berulang, perilaku tersebut tidak lagi terasa sebagai bentuk penyesuaian sosial, melainkan menjadi cara utama seseorang menjalani kehidupannya.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai regulasi eksternalisasi. Konsep ini membantu menjelaskan mengapa motivasi dapat menurun, bahkan pada orang-orang yang dari luar terlihat baik-baik saja, dan tidak memiliki masalah yang mencolok.
 

Kebiasaan mencari validasi eksternal secara kronis


Konsep regulasi eksternalisasi berasal dari teori determinasi diri. Salah satu teori yang paling banyak digunakan dan diuji dalam bidang psikologi motivasi. 

Sebuah tinjauan tahun 2020 yang diterbitkan dalam Contemporary Educational Psychology, oleh para perintis teori tersebut merangkum hasil penelitian selama puluhan tahun. 

Dilansir dari Psychology Today, menurut Mark Travers, Ph.D., seorang psikolog Amerika, hasilnya menunjukkan bahwa motivasi yang bertahan dalam jangka panjang, bergantung pada tiga kebutuhan psikologis utama, yaitu:

• Rasa kompeten, yaitu keyakinan bahwa diri mampu menghadapi tantangan dan menyelesaikan tugas.

• Rasa keterikatan, yaitu merasa diterima, dihargai, dan memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain.

• Rasa otonomi, yaitu keyakinan bahwa tindakan yang dilakukan benar-benar berasal dari pilihan dan keinginan diri sendiri, bukan semata-mata karena tekanan atau persetujuan orang lain.

Kebiasaan terus-menerus mencari validasi dari luar, dapat perlahan mengikis rasa otonomi tersebut. Pada awalnya, perilaku ini sering kali terlihat wajar, bahkan dianggap sebagai bentuk sopan santun atau kepedulian terhadap orang lain. Yuk simak contohnya!

• Selalu meminta pendapat pasangan sebelum mengambil keputusan, atau menerima sebuah proyek.

• Menunggu melihat suasana sekitar sebelum berani mengungkapkan pendapat.

• Mengunggah sesuatu di media sosial lalu terus menunggu respons atau penilaian dari orang lain.

Perilaku-perilaku tersebut sebenarnya tidak selalu bermasalah. Namun, ketika berubah menjadi kebiasaan yang membuat seseorang, hanya berani bertindak setelah memperoleh persetujuan, motivasi intrinsik dapat mulai melemah. Lambat laun muncul keyakinan bahwa setiap keputusan harus mendapat pengakuan terlebih dahulu sebelum dianggap benar.

Akibatnya, dorongan untuk bertindak bukan lagi berasal dari nilai, tujuan, atau keinginan pribadi, melainkan dari harapan memperoleh penerimaan dari orang lain. Dalam jangka panjang, pola ini dapat membuat motivasi menjadi lebih rapuh dan mudah hilang ketika validasi, yang diharapkan tidak kunjung datang.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH