FITNESS & HEALTH
Dehidrasi Bisa Dimulai sebelum Kamu Merasa Haus
A. Firdaus
Selasa 15 September 2026 / 09:10
- Cuaca panas bisa membuat tubuh kehilangan banyak cairan.
- Dehidrasi ringan sebenarnya bisa mulai terjadi sebelum rasa haus muncul.
- Cairan bisa didapatkan selain dari minum air putih juga dari buah-buahan yang berair.
Jakarta: Cuaca panas bukan cuma bikin gerah dan gampang berkeringat. Tanpa disadari, tubuh juga bisa kehilangan banyak cairan. Masalahnya, rasa haus yang muncul belum tentu menjadi tanda awal tubuh mulai kekurangan cairan.
Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Fitri Hudayani, SST., S.Gz, MKM, RD, mengatakan tubuh kehilangan cairan ketika berkeringat dalam kondisi panas. Penguapan cairan juga dapat terjadi melalui saluran pernapasan.
Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) itu menjelaskan, seseorang biasanya mulai merasa haus ketika tubuh sudah kehilangan sekitar 1–2 persen cairan.
Artinya, dehidrasi ringan sebenarnya bisa mulai terjadi sebelum rasa haus muncul.
“Kita akan merasa haus jika tubuh kita mulai kehilangan 1-2 persen cairan dan orang bisa mulai dehidrasi ringan saat belum mulai terasa haus,” kata Fitri melansir Antara.
Karena itu, salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan saat cuaca panas adalah tidak menunggu rasa haus datang baru minum.
Fitri menyarankan kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter atau delapan hingga 10 gelas per hari. Jumlah tersebut dapat bertambah ketika tubuh banyak mengeluarkan keringat akibat aktivitas atau kondisi cuaca yang panas.
Dalam kondisi tersebut, asupan cairan sebaiknya ditambah sekitar 0,5–1 liter dari kebutuhan biasanya.
Buat kamu yang banyak beraktivitas di luar ruangan, minum secara berkala bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.
“Jika sedang beraktivitas di luar dapat lebih sering minum, misal 15-20 menit minum satu gelas air atau 250 cc,” ujar Fitri.
Jadi, daripada menunggu tenggorokan terasa kering atau haus berat, biasakan membawa botol minum dan mengonsumsi cairan secara berkala.
Kebutuhan cairan tubuh tidak selalu harus dipenuhi dari air putih. Makanan dengan kandungan air tinggi juga dapat membantu.
Fitri menyebut buah-buahan yang banyak mengandung air, kuah sayuran, serta makanan dengan kandungan air sebagai sumber cairan tambahan.
Buah juga memiliki manfaat lain karena dapat membantu memenuhi kebutuhan mineral tubuh. Mengonsumsinya secara rutin bisa menjadi pilihan, terutama ketika cuaca sedang panas.
“Cairan bisa didapatkan selain dari minum air putih juga dari buah-buahan yang berair, kuah sayuran, dan makanan yang mengandung air,” katanya.
Sementara itu, kopi, teh, atau minuman berenergi masih dapat menjadi bagian dari asupan cairan. Namun, Fitri mengingatkan agar konsumsi minuman dengan kandungan gula tinggi tetap dibatasi.
Pasalnya, terlalu banyak mengonsumsi minuman manis justru dapat menimbulkan masalah kesehatan lain.
Selain menjaga cairan, pola makan bergizi juga tetap penting. Tubuh membutuhkan energi yang cukup untuk menjalani aktivitas, terlebih ketika cuaca panas membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal.
“Intinya, konsumsi makanan bergizi untuk memenuhi kebutuhan energi juga sangat penting,” kata Fitri.
Kewaspadaan terhadap kebutuhan cairan menjadi semakin penting karena Indonesia tengah menghadapi musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa musim kemarau 2026 diprakirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari biasanya di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG juga memprakirakan musim hujan akan datang secara bertahap mulai pertengahan Oktober 2026. Beberapa wilayah seperti Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada periode tersebut.
Sementara itu, Banten dan Jawa Barat diprakirakan memasuki musim hujan pada awal November 2026.
Sambil menunggu perubahan musim, menjaga asupan cairan menjadi salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.
Terutama jika aktivitas lebih banyak dilakukan di luar ruangan, jangan hanya mengandalkan rasa haus sebagai pengingat untuk minum. Minum secara berkala, tambah asupan cairan ketika banyak berkeringat, konsumsi buah dan makanan berair, serta tetap penuhi kebutuhan energi dari makanan bergizi.
Dengan begitu, cuaca panas tidak harus membuat aktivitas sehari-hari terganggu hanya karena tubuh kekurangan cairan.
(FIR)
Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Fitri Hudayani, SST., S.Gz, MKM, RD, mengatakan tubuh kehilangan cairan ketika berkeringat dalam kondisi panas. Penguapan cairan juga dapat terjadi melalui saluran pernapasan.
Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) itu menjelaskan, seseorang biasanya mulai merasa haus ketika tubuh sudah kehilangan sekitar 1–2 persen cairan.
Artinya, dehidrasi ringan sebenarnya bisa mulai terjadi sebelum rasa haus muncul.
“Kita akan merasa haus jika tubuh kita mulai kehilangan 1-2 persen cairan dan orang bisa mulai dehidrasi ringan saat belum mulai terasa haus,” kata Fitri melansir Antara.
Jangan Tunggu Haus untuk Minum
Karena itu, salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan saat cuaca panas adalah tidak menunggu rasa haus datang baru minum.
Fitri menyarankan kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter atau delapan hingga 10 gelas per hari. Jumlah tersebut dapat bertambah ketika tubuh banyak mengeluarkan keringat akibat aktivitas atau kondisi cuaca yang panas.
Dalam kondisi tersebut, asupan cairan sebaiknya ditambah sekitar 0,5–1 liter dari kebutuhan biasanya.
Buat kamu yang banyak beraktivitas di luar ruangan, minum secara berkala bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.
“Jika sedang beraktivitas di luar dapat lebih sering minum, misal 15-20 menit minum satu gelas air atau 250 cc,” ujar Fitri.
Jadi, daripada menunggu tenggorokan terasa kering atau haus berat, biasakan membawa botol minum dan mengonsumsi cairan secara berkala.
Tak Hanya dari Air Putih
Kebutuhan cairan tubuh tidak selalu harus dipenuhi dari air putih. Makanan dengan kandungan air tinggi juga dapat membantu.
Fitri menyebut buah-buahan yang banyak mengandung air, kuah sayuran, serta makanan dengan kandungan air sebagai sumber cairan tambahan.
Buah juga memiliki manfaat lain karena dapat membantu memenuhi kebutuhan mineral tubuh. Mengonsumsinya secara rutin bisa menjadi pilihan, terutama ketika cuaca sedang panas.
“Cairan bisa didapatkan selain dari minum air putih juga dari buah-buahan yang berair, kuah sayuran, dan makanan yang mengandung air,” katanya.
Sementara itu, kopi, teh, atau minuman berenergi masih dapat menjadi bagian dari asupan cairan. Namun, Fitri mengingatkan agar konsumsi minuman dengan kandungan gula tinggi tetap dibatasi.
Pasalnya, terlalu banyak mengonsumsi minuman manis justru dapat menimbulkan masalah kesehatan lain.
Selain menjaga cairan, pola makan bergizi juga tetap penting. Tubuh membutuhkan energi yang cukup untuk menjalani aktivitas, terlebih ketika cuaca panas membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal.
“Intinya, konsumsi makanan bergizi untuk memenuhi kebutuhan energi juga sangat penting,” kata Fitri.
Kemarau 2026 Diprakirakan Lebih Kering
Kewaspadaan terhadap kebutuhan cairan menjadi semakin penting karena Indonesia tengah menghadapi musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa musim kemarau 2026 diprakirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari biasanya di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG juga memprakirakan musim hujan akan datang secara bertahap mulai pertengahan Oktober 2026. Beberapa wilayah seperti Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada periode tersebut.
Sementara itu, Banten dan Jawa Barat diprakirakan memasuki musim hujan pada awal November 2026.
Sambil menunggu perubahan musim, menjaga asupan cairan menjadi salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.
Terutama jika aktivitas lebih banyak dilakukan di luar ruangan, jangan hanya mengandalkan rasa haus sebagai pengingat untuk minum. Minum secara berkala, tambah asupan cairan ketika banyak berkeringat, konsumsi buah dan makanan berair, serta tetap penuhi kebutuhan energi dari makanan bergizi.
Dengan begitu, cuaca panas tidak harus membuat aktivitas sehari-hari terganggu hanya karena tubuh kekurangan cairan.
(FIR)