FITNESS & HEALTH
Dopamin Rusak Gara-gara Butuh Validasi? Berujung Hilangnya Rasa Bangga dari Diri Sendiri
A. Firdaus
Kamis 30 Juli 2026 / 08:17
- Saat pengakuan dari orang lain menjadi sumber utama motivasi, sistem penghargaan di dalam otak juga dapat mengalami perubahan secara bertahap.
- Otak mulai terbiasa menunggu pujian, persetujuan, atau pengakuan dari orang lain untuk benar-benar merasakan bahwa usaha tersebut memiliki nilai.
- Penting untuk membangun kembali motivasi yang berasal dari dalam diri.
Jakarta: Keinginan untuk dihargai dan diakui merupakan hal yang wajar. Hampir setiap orang merasa senang, ketika usaha yang dilakukan mendapatkan pujian atau apresiasi.
Namun, ketika pengakuan dari orang lain berubah, menjadi satu-satunya sumber semangat untuk bertindak, motivasi yang berasal dari dalam diri dapat mulai melemah.
Akibatnya, kepuasan atas pencapaian pribadi tidak lagi terasa cukup. Karena, otak terbiasa menunggu penilaian dari luar sebelum merasa berhasil.
Saat pengakuan dari orang lain menjadi sumber utama motivasi, sistem penghargaan di dalam otak juga dapat mengalami perubahan secara bertahap.
Sebuah tinjauan yang telah ditelaah sejawat pada 2017, yang diterbitkan dalam Frontiers in Human Neuroscience menjelaskan bahwa, jalur dopamin di otak yang secara alami berfungsi memberikan rasa puas atas usaha dan kemajuan pribadi, dapat bergeser sehingga lebih bergantung pada rangsangan dari luar.
Dengan kata lain, rasa bangga karena berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan, atau mencapai sebuah target tidak lagi memberikan kepuasan yang sama seperti sebelumnya.
Sebaliknya, otak mulai terbiasa menunggu pujian, persetujuan, atau pengakuan dari orang lain untuk benar-benar merasakan bahwa usaha tersebut memiliki nilai.
Dilansir dari Psychology Today, menurut Mark Travers, Ph.D., seorang psikolog Amerika, akibatnya, seseorang bisa mulai mengalami beberapa perubahan berikut:
Menyelesaikan tugas atau mencapai target terasa kurang memuaskan, jika belum mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain.
Semangat untuk bertindak muncul ketika ada peluang memperoleh apresiasi, tetapi mudah menurun jika respons yang diharapkan tidak datang.
Seseorang menjadi lebih sering mempertanyakan keputusan atau hasil kerjanya, karena merasa membutuhkan validasi dari orang lain untuk memastikan bahwa apa yang dilakukan sudah benar.
Pola tersebut bukan berarti seseorang memiliki kelemahan karakter. Justru, kebiasaan ini sering kali terbentuk sebagai respons, terhadap pengalaman hidup yang dapat dipahami. Beberapa faktor yang dapat memengaruhinya, yaitu:
- Riwayat keterikatan yang cemas sehingga lebih membutuhkan kepastian dari orang lain.
- Lingkungan kerja atau lingkungan sosial yang penuh tekanan, dan menempatkan penilaian eksternal sebagai ukuran utama keberhasilan.
- Pola pengasuhan atau dinamika keluarga yang menjadikan persetujuan, sebagai bentuk penghargaan atau bahkan alat untuk mengendalikan perilaku.
Memahami penyebab tersebut dapat membantu melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Tujuannya bukan menjadi pribadi, yang acuh terhadap pendapat orang lain atau menolak semua masukan. Umpan balik tetap penting untuk belajar dan berkembang.
Yang lebih penting adalah membangun kembali motivasi yang berasal dari dalam diri. Artinya, mulai belajar menghargai usaha, proses, dan kemajuan pribadi tanpa selalu menunggu pengakuan dari luar.
Ketika kepuasan internal kembali terbentuk, motivasi cenderung menjadi lebih stabil, tidak mudah goyah oleh penilaian orang lain, dan lebih mampu bertahan dalam jangka panjang.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Namun, ketika pengakuan dari orang lain berubah, menjadi satu-satunya sumber semangat untuk bertindak, motivasi yang berasal dari dalam diri dapat mulai melemah.
Akibatnya, kepuasan atas pencapaian pribadi tidak lagi terasa cukup. Karena, otak terbiasa menunggu penilaian dari luar sebelum merasa berhasil.
Saat pengakuan dari orang lain menjadi sumber utama motivasi, sistem penghargaan di dalam otak juga dapat mengalami perubahan secara bertahap.
Sebuah tinjauan yang telah ditelaah sejawat pada 2017, yang diterbitkan dalam Frontiers in Human Neuroscience menjelaskan bahwa, jalur dopamin di otak yang secara alami berfungsi memberikan rasa puas atas usaha dan kemajuan pribadi, dapat bergeser sehingga lebih bergantung pada rangsangan dari luar.
Dengan kata lain, rasa bangga karena berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan, atau mencapai sebuah target tidak lagi memberikan kepuasan yang sama seperti sebelumnya.
Sebaliknya, otak mulai terbiasa menunggu pujian, persetujuan, atau pengakuan dari orang lain untuk benar-benar merasakan bahwa usaha tersebut memiliki nilai.
Dilansir dari Psychology Today, menurut Mark Travers, Ph.D., seorang psikolog Amerika, akibatnya, seseorang bisa mulai mengalami beberapa perubahan berikut:
• Kepuasan terhadap hasil kerja sendiri semakin berkurang
Menyelesaikan tugas atau mencapai target terasa kurang memuaskan, jika belum mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain.
• Motivasi menjadi bergantung pada respons dari luar.
Semangat untuk bertindak muncul ketika ada peluang memperoleh apresiasi, tetapi mudah menurun jika respons yang diharapkan tidak datang.
• Kepercayaan terhadap penilaian diri sendiri melemah.
Seseorang menjadi lebih sering mempertanyakan keputusan atau hasil kerjanya, karena merasa membutuhkan validasi dari orang lain untuk memastikan bahwa apa yang dilakukan sudah benar.
Pola tersebut bukan berarti seseorang memiliki kelemahan karakter. Justru, kebiasaan ini sering kali terbentuk sebagai respons, terhadap pengalaman hidup yang dapat dipahami. Beberapa faktor yang dapat memengaruhinya, yaitu:
- Riwayat keterikatan yang cemas sehingga lebih membutuhkan kepastian dari orang lain.
- Lingkungan kerja atau lingkungan sosial yang penuh tekanan, dan menempatkan penilaian eksternal sebagai ukuran utama keberhasilan.
- Pola pengasuhan atau dinamika keluarga yang menjadikan persetujuan, sebagai bentuk penghargaan atau bahkan alat untuk mengendalikan perilaku.
Memahami penyebab tersebut dapat membantu melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Tujuannya bukan menjadi pribadi, yang acuh terhadap pendapat orang lain atau menolak semua masukan. Umpan balik tetap penting untuk belajar dan berkembang.
Yang lebih penting adalah membangun kembali motivasi yang berasal dari dalam diri. Artinya, mulai belajar menghargai usaha, proses, dan kemajuan pribadi tanpa selalu menunggu pengakuan dari luar.
Ketika kepuasan internal kembali terbentuk, motivasi cenderung menjadi lebih stabil, tidak mudah goyah oleh penilaian orang lain, dan lebih mampu bertahan dalam jangka panjang.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)