Ketua Umum Pusat Himpsi Andik Matulessy. Foto: Zoom
Ketua Umum Pusat Himpsi Andik Matulessy. Foto: Zoom

Atasi Trauma Kebakaran Kemayoran, Kemendikdasmen dan Himpsi Bentuk Tim Sekolah Tangguh

Ilham Pratama Putra • 10 Agustus 2026 10:34
Ringkasnya gini..
  • Kebakaran di Kemayoran berdampak pada 23 siswa SDN Kebon Kosong 09 yang mengalami gangguan tidur hingga kecemasan.
  • Himpsi bersama Kemendikdasmen merancang Program Layanan Dukungan Psikososial untuk pemulihan mental warga sekolah.
  • Rangkaian pelatihan bagi guru, siswa, dan orang tua akan berlangsung Agustus 2026 demi mitigasi bencana.
Jakarta: Kebakaran yang melanda kawasan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 2 Juni 2026 menghanguskan 304 bangunan membawa trauma kepada 649 warga. Bencana itu turut berdampak langsung pada 23 siswa SDN Kebon Kosong 09.
 
Warga korban kebakaran itu kehilangan tempat tinggal dan menjalani hari-hari di pengungsian. Dalam menghadapi trauma akibat kebakaran tersebut, Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) turut memberikan pendampingan psikologis.
 
"Yang hilang dari anak-anak ini bukan cuma rumah, tapi rasa aman yang biasa mereka rasakan setiap hari," kata Ketua Umum Pusat Himpsi Andik Matulessy dalam keterangannya, Senin, 10 Agustus 2026. 

Asesmen awal terhadap kondisi korban dilakukan Korps Relawan Bencana (Kresna) Himpsi bersama Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen. Dari asesmen tersebut terungkap siswa terdampak mengalami gangguan tidur, rasa takut, kesedihan, dan kecemasan. 
 
Baca juga: 
 
 

 
Sebagian dari mereka bahkan mulai sulit berkonsentrasi. Ada juga siswa yang mengalami perubahan nafsu makan, hingga dihantui pikiran menakutkan yang muncul berulang.
 
"Data ini jadi alarm bagi kita semua bahwa luka batin anak butuh perhatian sama seriusnya dengan luka fisik," kata Andik.
 
Kondisi itu diperparah dengan catatan wilayah tersebut telah tiga kali dilanda kebakaran sepanjang 2024-2026. Berangkat dari situasi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kresna Himpsi merancang Program Layanan Dukungan Psikososial khusus untuk SDN Kebon Kosong 09.
 
"Berulangnya kejadian ini membuat kami sadar, penanganan psikologis nggak bisa lagi jadi respons sesaat," kata Andik.
 
Program ini dirancang untuk membangun sistem Sekolah Tangguh yang mencakup empat sasaran utama. Keempat sasaran yang dimaksud, yakni pemulihan psikologis siswa, penguatan kapasitas guru, pendampingan ketahanan psikologis keluarga, hingga menjadikan sekolah sebagai pusat mitigasi bencana berbasis komunitas. 
 
Sasaran program ini menjangkau siswa, guru, orang tua, dan komunitas di sekitar sekolah.  Program resmi dibuka pada 6 Agustus 2026 melalui pertemuan daring yang dihadiri Ketua Tim Kerja Direktorat PKPLK Kemendikdasmen, Budi Priantoro, mewakili kementerian. 
 
Rangkaian kegiatan untuk guru dan tenaga kependidikan berupa penguatan kapasitas pendampingan psikososial akan berlangsung pada 10-11 Agustus 2026. Sementara itu, siswa akan mengikuti Pelatihan Stabilisasi Emosi dan Dukungan Psikososial bertajuk "Kelas Aman dan Tangguh" pada 12-14 Agustus 2026.
 
Program penguatan keluarga bagi orang tua siswa terdampak dijadwalkan pada 21 Agustus 2026, disusul sesi untuk orang tua siswa kelas 1-3 pada 27 Agustus dan kelas 4-6 pada 28 Agustus 2026. Kegiatan pembentukan tim Sekolah Tangguh yang melibatkan berbagai elemen komunitas sekolah akan digelar pada 28-29 Agustus 2026.
 
Baca juga: Psikologi Anak: Usia 7-8 Tahun Sudah Terpapar Pornografi  

 
Tim Sekolah Tangguh Bencana rencananya diresmikan pada 31 Agustus 2026, menandai berakhirnya rangkaian program yang berlangsung selama sebulan penuh. Peresmian ini diharapkan menjadi tonggak awal keberlanjutan sistem mitigasi berbasis sekolah di wilayah rawan kebakaran tersebut.
 
"Program ini kami harap jadi bekal, bukan cuma buat hari ini, tapi buat menghadapi kemungkinan yang belum tentu bisa kita duga," kata Andik.
 
Melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, HIMPSI, keluarga, dan masyarakat, program ini diharapkan tidak hanya memulihkan korban dari dampak bencana hari ini. Program ini juga dipercaya mampu membangun sistem jangka panjang agar warga sekolah lebih siap, lebih aman, dan lebih tangguh menghadapi masa depan.
 
"Kami harapkan program ini tak sekadar melindungi, tapi juga menyembuhkan. Pemulihan anak-anak di sini kami harapkan dapat tuntas," ujar dia. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan