FITNESS & HEALTH
Suka Ketawa Pas Doi Kena Musibah Kecil? Santai, Itu Bukan Dosa Kok
Yatin Suleha
Senin 10 Agustus 2026 / 10:05
- Dalam dunia percintaan, kita sering mengira kalau cinta itu harus selalu serius.
- Tapi kenyataannya, gak jarang kan kita malah spontan ngakak pas pasangan ngelakuin kecelakaan kecil atau apes.
- Menurut pakar filsafat dari Psychology Today, Aaron Ben-Zeév, Ph.D., schadenfreude ini gak selamanya jelek.
Jakarta: Dalam dunia percintaan, kita sering mengira kalau cinta itu harus selalu serius: saling support, ikut senang pas pasangan sukses, dan selalu ada di saat susah.
Tapi kenyataannya, gak jarang kan kita malah spontan ngakak pas pasangan ngelakuin kecelakaan kecil—kayak salah parkir, kesandung, atau malu sendiri gara-gara over-pede?
Dalam bahasa psikologi, fenomena senang melihat kemalangan orang lain ini dikenal sebagai schadenfreude.
Menurut pakar filsafat dari Psychology Today, Aaron Ben-Zeév, Ph.D., schadenfreude ini gak selamanya jelek, lho, terutama kalau kejadiannya di dalam hubungan asmara.
Bayangkan pasanganmu yang tadinya sok yakin tiba-tiba nabrak pintu kaca atau salah alamat. Kalau reaksimu dan pasangan cuma ketawa-tawa kecil, itu bukan berarti kamu gak peduli. Justru, hal itu nunjukin kalau kalian udah sedekat dan senyaman itu satu sama lain!
Dalam porsi yang pas, ketawa bareng atas kecerobohan kecil justru jadi tanda kalau hubungan kalian sehat, setara, dan aman secara emosional. Ini ngebuktiin kalau kalian gak perlu jaim atau nuntut satu sama lain buat selalu kelihatan sempurna.

(Schadenfreude yang tidak berbahaya cuma bakal muncul kalau musibahnya kecil banget dan jauh dari kata penderitaan serius. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selama ini, schadenfreude memang punya reputasi yang buruk. Tokoh sastra Gore Vidal pernah bilang, "Tidak cukup hanya berhasil; orang lain harus gagal."
Para filsuf dan peneliti terdahulu juga sering mengaitkan emosi ini dengan kekejaman, niat jahat murni, bahkan kecenderungan merendahkan orang lain.
Pandangan itu tentu ada benernya—terutama kalau rasa senang itu muncul karena melihat orang lain menderita secara serius atau memang berniat menjatuhkan.
Tapi, psikologi membuktikan kalau schadenfreude itu punya spektrum yang luas:
Di satu sisi yang gelap: Muncul rasa senang atas penderitaan serius orang lain (ini jelas tidak sehat dan didorong niat buruk).
Di sisi sebaliknya: Muncul sebagai hiburan ringan saat melihat kesalahan kecil yang sama sekali gak berbahaya, seperti pasangan yang kepeleset ringan atau salah sebut nama. Inilah bentuk yang paling sering kita temui sehari-hari.
Makanya, kita gak bisa asal nge-judge schadenfreude sebagai hal yang negatif tanpa melihat konteksnya.
Biar lebih jelas, emosi ini harus dinilai dari tiga hal utama: apa alasan di balik rasa senang itu, seberapa serius tingkat kemalangannya, dan seberapa dekat hubungan antara orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Tapi kenyataannya, gak jarang kan kita malah spontan ngakak pas pasangan ngelakuin kecelakaan kecil—kayak salah parkir, kesandung, atau malu sendiri gara-gara over-pede?
Dalam bahasa psikologi, fenomena senang melihat kemalangan orang lain ini dikenal sebagai schadenfreude.
Menurut pakar filsafat dari Psychology Today, Aaron Ben-Zeév, Ph.D., schadenfreude ini gak selamanya jelek, lho, terutama kalau kejadiannya di dalam hubungan asmara.
Baca Juga :
Gak Perlu Dipaksa! Ini 5 Tips Psikologi Bikin Motivasi Muncul Secara Alami tanpa Validasi Orang
Bayangkan pasanganmu yang tadinya sok yakin tiba-tiba nabrak pintu kaca atau salah alamat. Kalau reaksimu dan pasangan cuma ketawa-tawa kecil, itu bukan berarti kamu gak peduli. Justru, hal itu nunjukin kalau kalian udah sedekat dan senyaman itu satu sama lain!
Dalam porsi yang pas, ketawa bareng atas kecerobohan kecil justru jadi tanda kalau hubungan kalian sehat, setara, dan aman secara emosional. Ini ngebuktiin kalau kalian gak perlu jaim atau nuntut satu sama lain buat selalu kelihatan sempurna.
Sisi gelap yang sering disalahartikan

(Schadenfreude yang tidak berbahaya cuma bakal muncul kalau musibahnya kecil banget dan jauh dari kata penderitaan serius. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Selama ini, schadenfreude memang punya reputasi yang buruk. Tokoh sastra Gore Vidal pernah bilang, "Tidak cukup hanya berhasil; orang lain harus gagal."
Para filsuf dan peneliti terdahulu juga sering mengaitkan emosi ini dengan kekejaman, niat jahat murni, bahkan kecenderungan merendahkan orang lain.
Pandangan itu tentu ada benernya—terutama kalau rasa senang itu muncul karena melihat orang lain menderita secara serius atau memang berniat menjatuhkan.
Tapi, psikologi membuktikan kalau schadenfreude itu punya spektrum yang luas:
Di satu sisi yang gelap: Muncul rasa senang atas penderitaan serius orang lain (ini jelas tidak sehat dan didorong niat buruk).
Di sisi sebaliknya: Muncul sebagai hiburan ringan saat melihat kesalahan kecil yang sama sekali gak berbahaya, seperti pasangan yang kepeleset ringan atau salah sebut nama. Inilah bentuk yang paling sering kita temui sehari-hari.
Makanya, kita gak bisa asal nge-judge schadenfreude sebagai hal yang negatif tanpa melihat konteksnya.
Biar lebih jelas, emosi ini harus dinilai dari tiga hal utama: apa alasan di balik rasa senang itu, seberapa serius tingkat kemalangannya, dan seberapa dekat hubungan antara orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)