FITNESS & HEALTH

Etika Putih di Balik Layar: Ketika Ruang Digital Menjadi Panggung Nyinyir

Yatin Suleha
Minggu 09 Agustus 2026 / 22:46
Ringkasnya gini..
  • Dunia maya kembali dihebohkan oleh sebuah kasus kematian yang menyita perhatian publik.
  • Di saat keluarga yang ditinggalkan masih berduka dan diliputi rasa kehilangan yang mendalam, lini masa justru diwarnai oleh polemik baru.
  • Etika dokter di media sosial soroti batas identitas profesional.
Jakarta: Dunia maya kembali dihebohkan oleh sebuah kasus kematian yang menyita perhatian publik. Di saat keluarga yang ditinggalkan masih berduka dan diliputi rasa kehilangan yang mendalam, lini masa justru diwarnai oleh polemik baru. 

Sejumlah tenaga medis—sosok yang seharusnya menjadi simbol empati dan penyembuhan—malah kedapatan memberikan komentar miring hingga nada meremehkan di media sosial terkait kasus duka tersebut.

Fenomena ini sontak memicu gelombang kritik tajam dari warganet. Banyak yang mempertanyakan batas etika profesi kedokteran ketika berinteraksi di ruang digital. 
 
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH yang merupakan dokter, peneliti, dan pengajar dalam bidang ilmu kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, serta kedokteran kerja mengatakan, "Sosial tantangannya menjadi lebih besar. Dulu komunikasi dokter itu mungkin selesai di ruang praktik saja. Sekarang enggak."

"Satu komentar di sosial media oleh satu dokter itu bisa dibaca oleh ratusan ribu orang. Mungkin yang bukan pasiennya. Nah, ada systematic review yang menunjukkan bahwa media sosial itu dapat mengaburkan batas antara identitas personal dan profesional seorang tenaga kesehatan."

"Jadi, kita mungkin merasa bahwa ini kan akun pribadi saya, seorang dokter. Tapi masyarakat itu belum tentu akan membacanya seperti itu. Apalagi kalau identitas dokternya itu sangat jelas," ujarnya dalam sebuah momen.
 

Dokter yang berbicara di ruang publik



(Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH adalah seorang dokter, peneliti, dan pengajar dalam bidang ilmu kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, serta kedokteran kerja. Ia juga merupakan pendiri sekaligus ketua lembaga riset Health Collaborative Center (HCC). Foto: Dok. Istimewa)

Dokter yang juga pendiri sekaligus ketua lembaga riset Health Collaborative Center (HCC) ini juga memaparkan, "Nah, oleh karena itu menurut saya pendidikan kedokteran sekarang juga tidak cukup hanya mengajarkan gimana dokter berbicara kepada pasien saja."

"Saya pikir saat ini dokter Indonesia juga perlu melatih bagaimana berbicara di ruang publik dan ber-sosial media yang baik dan bertanggung jawab. Jadi, mungkin prinsip sederhananya begini."

Kata dr. Ray lagi, "Dokter boleh punya akun pribadi, tetapi ketika publik tahu kita dokter, ucapan kita tidak selalu diterima sebagai ucapan pribadi. Karena hari ini profesionalisme dokter itu bukan cuma diuji dari bagaimana kita berbicara kepada pasien di ruang praktik saja, tetapi juga dari bagaimana kita berbicara tentang pasien ketika berada di media sosial."

"Masyarakat itu datang dalam posisi sakit kemudian mempercayakan tubuh, kata informasi pribadinya kepada dokter. Jadi, wajar kalau masyarakat kemudian menuntut ada standar komunikasi yang empatis, yang lebih tinggi dari progresi dokter," tegasnya.
 

Beban dan sekaligus privilege


Dokter yang ramah ini juga menjabarkan bahwa semakin besar perasa yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab etiknya yang harus dipikul oleh dokter. 

"Bahkan, sudah banyak sekali ini kajian ilmiah global yang tegas menyebutkan bahwa tidak ada profesi manapun yang mendapatkan trust atau kepercayaan sedemikian besarnya dari individu dan komunitas. Jadi, ini juga beban dan sekaligus privilege yang melekat pada profesi dokter sepanjang hayatnya," terang dr. Ray.

Dalam penjelasannya, keberhasilan terapi medis itu tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis saja, tetapi juga ada kemampuan komunikasi dalam menenangkan.

keberhasilan terapi medis itu tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis saja, tetapi juga ada kemampuan komunikasi dalam menenangkan.

"Karena secara umumnya, ini muruahnya (marwah) dokter. Tetapi, menurut saya kita juga jangan berhenti pada menghukum individu. Pada kerja, kita tahu bahwa burn out itu nyata lho. Dan bahkan terjadi pada tenaga kesehatan. Dan ini bukan sekedar persoalan kurang mampu melola emosi saja."

"Beban kerja tinggi, jam kerja panjang, kemudian apalagi tekanan administratif, kurangnya dukungan organisasi, semuanya dapat mendorong seorang dokter mengalami kelelahan emosional dan terbukti menjadi penyebab tersering burn out pada tenaga kesehatan," beber dr. Ray lagi.
   

Studi


Ia bilang, "Ada studi pro di Kedokteran Kerja FKW di tahun 2022 yang menemukan hampir 60% nakes mengalami kelelahan kerja kronis. Nah, ini tentu bisa jadi pemicu sikap tidak rasional dokter dalam berinteraksi dengan pasien dan masyarakat. Apalagi dalam kondisi yang tidak kondusif."

"Nah, ini tentu bukan pembenaran terhadap perilaku kasar dokter. Dokter tetap bertanggung jawab atas apa yang dia ucapkan."

"Tetapi kalau kita hanya menghukum orangnya tanpa memperbaiki lingkungan yang menghasilkan perilaku tersebut, maka sangat mungkin kasus yang sama akan muncul lagi dengan dokter yang berbeda," pungkas dr. Ray.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH