FITNESS & HEALTH
Spill dari IHDC: Ternyata Stunting & Anemia Bikin Memori Anak Jadi Lemot? Ini Penjelasannya!
Yatin Suleha
Rabu 15 April 2026 / 17:10
- Masalah stunting di Indonesia itu enggak cuma soal tinggi badan saja, tapi efeknya bisa merembet ke cara anak berpikir dan belajar di sekolah.
- Ditambah lagi, masih banyak anak sekolah yang kena anemia atau kurang darah—jumlahnya bisa sampai 40%.
- Kondisi ini turut berisiko mengganggu fungsi kognitif anak, termasuk working memory.
Jakarta: Masalah stunting di Indonesia itu enggak cuma soal tinggi badan saja, tapi efeknya bisa merembet ke cara anak berpikir dan belajar di sekolah.
Ditambah lagi, masih banyak anak sekolah yang kena anemia atau kurang darah—jumlahnya bisa sampai 40%, lho. Kebayang gak gimana pengaruhnya buat masa depan mereka?
Kondisi ini turut berisiko mengganggu fungsi kognitif anak, termasuk working memory, yaitu kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi yang berperan penting dalam mendukung konsentrasi, pemahaman, serta kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas belajar sehari-hari.
Sehingga diperlukan optimalisasi fungsi working memory yang menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung performa belajar anak.
Menjawab isu tersebut, Indonesia Health Development Center (IHDC), sebagai organisasi independen di bidang kesehatan komunitas, didukung Danone Indonesia meluncurkan publikasi hasil studi berbasis data lokal yang membahas keterkaitan antara stunting, anemia defisiensi besi, serta asupan gizi dengan fungsi working memory anak usia sekolah.
Studi ini dilakukan melalui skrining pada anak sekolah dasar di Jakarta yang melibatkan sekitar 335 siswa, untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kemampuan kognitif anak.
Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meraih bonus demografi 2045 yang sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
“Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi, hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak khususnya pada usia sekolah."
"Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pemenuhan gizi optimal sejak dini menjadi langkah krusial untuk mendukung kualitas pembelajaran anak sekaligus mendorong tercapainya visi Indonesia Emas,” ujar Prof. Nila.
.jpg)
(Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) mengatakan kecukupan gizi ini juga penting dalam mencegah anemia dan stunting. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Sejalan dengan hal tersebut, hasil studi yang dilakukan IHDC menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak (19,7%) mengalami anemia, sementara 22,1% mengalami kesulitan dalam working memory.
Studi ini juga menemukan bahwa kadar hemoglobin yang lebih rendah berkaitan dengan performa working memory yang lebih rendah.
Temuan ini menunjukkan bahwa anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar.
Hal ini dipertegas oleh Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menjelaskan bahwa hasil studi ini menunjukkan adanya keterkaitan yang konsisten antara status gizi anak dengan fungsi kognitif, khususnya working memory.
“Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi. Hal yang sama juga terlihat pada anak dengan stunting, yang memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory."
"Selain itu, kami juga menemukan bahwa asupan gizi anak, terutama protein dan zat besi, masih belum optimal dan berkaitan erat dengan kondisi anemia. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemenuhan gizi anak usia sekolah, karena tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kemampuan belajar mereka,” jelas dr. Ray.
Dari sisi asupan gizi, anak dengan anemia juga cenderung memiliki asupan protein yang lebih rendah, yakni hanya sekitar 46% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan.
Hal ini semakin menunjukkan bahwa kecukupan zat besi dan protein, sebagai bagian dari status gizi yang optimal, berperan penting dalam mendukung fungsi kognitif anak, khususnya dalam proses belajar.
President of Indonesian Nutrition Association, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), menjelaskan bahwa pemenuhan gizi yang optimal memegang peranan penting dalam mendukung tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak usia sekolah.
“Dalam mendukung tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak, penting untuk memastikan asupan gizi yang optimal dan seimbang setiap hari. Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak."
"Namun, keduanya tetap perlu didukung oleh asupan zat gizi lain, seperti karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, agar fungsi tubuh dan kognitif anak dapat berjalan optimal."
"Kecukupan gizi ini juga penting dalam mencegah anemia dan stunting. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan pola makan bergizi seimbang dengan beragam sumber pangan, seperti telur, ikan, daging, susu, serta sumber nabati seperti tahu, tempe, sayur, dan buah. Selain itu, untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi, perlu dikombinasikan dengan asupan yang mengandung vitamin C,” papar dr. Luciana.
Peran keluarga dan sekolah juga penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat anak sejak dini. Namun dalam praktiknya, masih banyak orang tua yang belum menyadari bahwa tantangan seperti anak yang sulit fokus atau mudah lupa saat belajar dapat berkaitan dengan asupan gizi sehari-hari.
Ibu dari dua orang anak, Putri Titian turut berbagi pengalamannya sebagai orang tua dengan anak usia sekolah.
“Sebagai ibu, tentu ada kekhawatiran saat melihat anak sulit fokus atau mudah lupa saat belajar, bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari. Dari riset ini, saya jadi lebih sadar bahwa hal-hal tersebut bisa berkaitan dengan asupan gizi anak sehari-hari, yang mungkin selama ini belum terlalu diperhatikan."
"Saya rasa masih banyak orang tua yang mungkin belum menyadari hal ini. Ini juga jadi pengingat buat saya dan orang tua lainnya untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak, supaya mereka bisa tumbuh optimal dan mencapai potensi terbaiknya,” ujar Tian.
Dari hasil studi IHDC ini semakin memperkuat pentingnya peran berbagai pihak dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak dini.
Sebagai riset berbasis data lokal, temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam mendorong upaya penanganan masalah gizi anak yang lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari pendekatan preventif, edukasi gizi, hingga penguatan peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk kebiasaan makan sehat.
Sejalan dengan komitmen dalam meningkatkan kualitas gizi anak, Danone Indonesia turut mendukung IHDC dalam menghadirkan riset berbasis sains yang relevan dan aplikatif.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesadaran serta praktik pemenuhan gizi anak, sebagai langkah penting dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia menuju Generasi Emas 2045.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Ditambah lagi, masih banyak anak sekolah yang kena anemia atau kurang darah—jumlahnya bisa sampai 40%, lho. Kebayang gak gimana pengaruhnya buat masa depan mereka?
Kondisi ini turut berisiko mengganggu fungsi kognitif anak, termasuk working memory, yaitu kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi yang berperan penting dalam mendukung konsentrasi, pemahaman, serta kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas belajar sehari-hari.
Sehingga diperlukan optimalisasi fungsi working memory yang menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung performa belajar anak.
Menjawab isu tersebut, Indonesia Health Development Center (IHDC), sebagai organisasi independen di bidang kesehatan komunitas, didukung Danone Indonesia meluncurkan publikasi hasil studi berbasis data lokal yang membahas keterkaitan antara stunting, anemia defisiensi besi, serta asupan gizi dengan fungsi working memory anak usia sekolah.
Studi ini dilakukan melalui skrining pada anak sekolah dasar di Jakarta yang melibatkan sekitar 335 siswa, untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kemampuan kognitif anak.
Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meraih bonus demografi 2045 yang sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
“Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi, hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak khususnya pada usia sekolah."
"Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pemenuhan gizi optimal sejak dini menjadi langkah krusial untuk mendukung kualitas pembelajaran anak sekaligus mendorong tercapainya visi Indonesia Emas,” ujar Prof. Nila.
Sekitar 1 dari 5 anak alami anemia
.jpg)
(Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) mengatakan kecukupan gizi ini juga penting dalam mencegah anemia dan stunting. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Sejalan dengan hal tersebut, hasil studi yang dilakukan IHDC menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak (19,7%) mengalami anemia, sementara 22,1% mengalami kesulitan dalam working memory.
Studi ini juga menemukan bahwa kadar hemoglobin yang lebih rendah berkaitan dengan performa working memory yang lebih rendah.
Temuan ini menunjukkan bahwa anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar.
Hal ini dipertegas oleh Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menjelaskan bahwa hasil studi ini menunjukkan adanya keterkaitan yang konsisten antara status gizi anak dengan fungsi kognitif, khususnya working memory.
“Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi. Hal yang sama juga terlihat pada anak dengan stunting, yang memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory."
"Selain itu, kami juga menemukan bahwa asupan gizi anak, terutama protein dan zat besi, masih belum optimal dan berkaitan erat dengan kondisi anemia. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemenuhan gizi anak usia sekolah, karena tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kemampuan belajar mereka,” jelas dr. Ray.
Dari sisi asupan gizi, anak dengan anemia juga cenderung memiliki asupan protein yang lebih rendah, yakni hanya sekitar 46% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan.
Hal ini semakin menunjukkan bahwa kecukupan zat besi dan protein, sebagai bagian dari status gizi yang optimal, berperan penting dalam mendukung fungsi kognitif anak, khususnya dalam proses belajar.
President of Indonesian Nutrition Association, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), menjelaskan bahwa pemenuhan gizi yang optimal memegang peranan penting dalam mendukung tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak usia sekolah.
“Dalam mendukung tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak, penting untuk memastikan asupan gizi yang optimal dan seimbang setiap hari. Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak."
"Namun, keduanya tetap perlu didukung oleh asupan zat gizi lain, seperti karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, agar fungsi tubuh dan kognitif anak dapat berjalan optimal."
"Kecukupan gizi ini juga penting dalam mencegah anemia dan stunting. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan pola makan bergizi seimbang dengan beragam sumber pangan, seperti telur, ikan, daging, susu, serta sumber nabati seperti tahu, tempe, sayur, dan buah. Selain itu, untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi, perlu dikombinasikan dengan asupan yang mengandung vitamin C,” papar dr. Luciana.
Peran keluarga dan sekolah juga penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat anak sejak dini. Namun dalam praktiknya, masih banyak orang tua yang belum menyadari bahwa tantangan seperti anak yang sulit fokus atau mudah lupa saat belajar dapat berkaitan dengan asupan gizi sehari-hari.
Peran berbagai pihak
Ibu dari dua orang anak, Putri Titian turut berbagi pengalamannya sebagai orang tua dengan anak usia sekolah.
“Sebagai ibu, tentu ada kekhawatiran saat melihat anak sulit fokus atau mudah lupa saat belajar, bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari. Dari riset ini, saya jadi lebih sadar bahwa hal-hal tersebut bisa berkaitan dengan asupan gizi anak sehari-hari, yang mungkin selama ini belum terlalu diperhatikan."
"Saya rasa masih banyak orang tua yang mungkin belum menyadari hal ini. Ini juga jadi pengingat buat saya dan orang tua lainnya untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak, supaya mereka bisa tumbuh optimal dan mencapai potensi terbaiknya,” ujar Tian.
Dari hasil studi IHDC ini semakin memperkuat pentingnya peran berbagai pihak dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak dini.
Sebagai riset berbasis data lokal, temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam mendorong upaya penanganan masalah gizi anak yang lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari pendekatan preventif, edukasi gizi, hingga penguatan peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk kebiasaan makan sehat.
Baca Juga :
Kajian IHDC Rekomendasikan 9 Pilar Solusi dan 5 Instrumen Penguatan Partisipasi Kesehatan Indonesia
Sejalan dengan komitmen dalam meningkatkan kualitas gizi anak, Danone Indonesia turut mendukung IHDC dalam menghadirkan riset berbasis sains yang relevan dan aplikatif.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesadaran serta praktik pemenuhan gizi anak, sebagai langkah penting dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia menuju Generasi Emas 2045.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)