FITNESS & HEALTH
Masuk Kantor Setelah Libur Panjang Terasa Berat? Ini Penjelasan Dokter Kedokteran Kerja
Yatin Suleha
Minggu 04 Januari 2026 / 15:26
Jakarta: Kembali bekerja setelah libur panjang kerap terasa berat bagi banyak pekerja. Rasa malas, sulit fokus, hingga kelelahan di hari-hari awal kerja sering kali dianggap sebagai masalah motivasi pribadi. Namun, sebenarnya anggapan ini tidak sepenuhnya tepat.
Menurut Dr. Ray Wagiu Basrowi MKK, praktisi kedokteran kerja sekaligus Ketua Health Collaborative Center (HCC), kondisi tersebut adalah respons biologis dan psikologis yang normal, bukan tanda kelemahan mental atau kurangnya etos kerja.
“Yang banyak dialami pekerja setelah libur panjang bukan kemalasan, melainkan fase transisi biologis. Tubuh dan otak butuh waktu untuk adjuat atau menyesuaikan kembali ritme kerja,” ujar Dr. Ray.
Dr Ray menjelaskan ini merupakan sebuah fenomen alami karena otak mengahadapi “Kejutan Transisi”. Ini terjadi akibat selama masa libur panjang, ritme hidup pekerja cenderung melambat.
Jam tidur berubah, tekanan pekerjaan berkurang, dan sistem saraf berada dalam mode pemulihan. Ketika pekerjaan dimulai kembali secara mendadak dengan tuntutan penuh, otak mengalami apa yang dalam psikologi kerja dikenal sebagai transition shock.
“Saat libur, hormon stres seperti kortisol menurun, fokus kognitif melambat karena bawaan dan moodnya mau santai kan. Ketika hari pertama kerja langsung dipenuhi target dan rapat, otak belum siap. Akibatnya muncul lelah, sulit konsentrasi, dan rasa enggan memulai pekerjaan,” jelas Dr Ray yang sering memberi edukasi di Instagram @ray.w.basrowi ini.
Dr Ray menegaskan bahwa kondisi ini bukan masalah niat, melainkan masalah ritme biologis yang berubah terlalu cepat.
Dr. Ray menilai kesalahan yang sering terjadi adalah memaksakan produktivitas tinggi sejak hari pertama kembali bekerja. Padahal, motivasi bukanlah pemicu awal yang bisa dipaksa muncul.
(Dr Ray Wagiu Basrowi. Video: Dok. Instagram Dr Ray Wagiu Basrowi/@ray.w.basrowi)
“Motivasi itu bukan tombol yang bisa langsung dinyalakan. Dalam banyak kasus, motivasi justru muncul setelah ritme kerja kembali stabil, bukan sebaliknya,” kata Dr. Ray yang juga adalah Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC).
Dr Ray menambahkan, memaksa diri untuk langsung produktif justru meningkatkan risiko kelelahan mental dan burnout dini, terutama pada pekerja kantoran dan sektor dengan tuntutan kognitif tinggi.
Sebagai praktisi kedokteran kerja, Dr. Ray merekomendasikan beberapa langkah teknis yang realistis dan terbukti membantu pekerja beradaptasi setelah libur panjang.
Pertama, penting untuk atur ulang jam biologis secara bertahap.
Bangun 30–60 menit lebih awal, paparan cahaya pagi selama sekitar 10 menit, serta mengurangi penggunaan gawai di malam hari dapat membantu jam biologis kembali sinkron.
Kedua, menurunkan beban kognitif di hari-hari awal kerja.
“Hari pertama dan kedua sebaiknya digunakan untuk pemanasan. Kerjakan tugas administratif, membaca email, menyusun prioritas, dan hindari rapat panjang. Otak perlu transisi, sama seperti otot sebelum olahraga berat,” ujarnya.
Ketiga, mengatur energi, bukan sekadar jam kerja.
Pola kerja 90 menit diselingi jeda singkat untuk berdiri, minum, atau menarik napas dinilai lebih efektif menjaga fokus dibanding bekerja terus-menerus tanpa jeda.
Keempat, perhatikan makanan dan nutrisi.
Sarapan dengan protein cukup, konsumsi air putih yang memadai, serta membatasi kafein agar tidak berlebihan dapat mencegah lonjakan energi semu yang berujung kelelahan di siang hari.
Dr. Ray mengingatkan bahwa dalam budaya kerja yang sering mengagungkan kecepatan dan ketahanan, pendekatan bertahap kerap disalahartikan sebagai kurang profesional.
Menurutnya, pekerja yang diberi ruang adaptasi cenderung lebih stabil, fokus, dan tidak cepat mengalami kelelahan kronis. Menutup pernyataannya, Dr. Ray menekankan bahwa bekerja adalah proses jangka panjang, bukan sprint sesaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Menurut Dr. Ray Wagiu Basrowi MKK, praktisi kedokteran kerja sekaligus Ketua Health Collaborative Center (HCC), kondisi tersebut adalah respons biologis dan psikologis yang normal, bukan tanda kelemahan mental atau kurangnya etos kerja.
“Yang banyak dialami pekerja setelah libur panjang bukan kemalasan, melainkan fase transisi biologis. Tubuh dan otak butuh waktu untuk adjuat atau menyesuaikan kembali ritme kerja,” ujar Dr. Ray.
Transition shock
Dr Ray menjelaskan ini merupakan sebuah fenomen alami karena otak mengahadapi “Kejutan Transisi”. Ini terjadi akibat selama masa libur panjang, ritme hidup pekerja cenderung melambat.
Jam tidur berubah, tekanan pekerjaan berkurang, dan sistem saraf berada dalam mode pemulihan. Ketika pekerjaan dimulai kembali secara mendadak dengan tuntutan penuh, otak mengalami apa yang dalam psikologi kerja dikenal sebagai transition shock.
“Saat libur, hormon stres seperti kortisol menurun, fokus kognitif melambat karena bawaan dan moodnya mau santai kan. Ketika hari pertama kerja langsung dipenuhi target dan rapat, otak belum siap. Akibatnya muncul lelah, sulit konsentrasi, dan rasa enggan memulai pekerjaan,” jelas Dr Ray yang sering memberi edukasi di Instagram @ray.w.basrowi ini.
Dr Ray menegaskan bahwa kondisi ini bukan masalah niat, melainkan masalah ritme biologis yang berubah terlalu cepat.
Dr. Ray menilai kesalahan yang sering terjadi adalah memaksakan produktivitas tinggi sejak hari pertama kembali bekerja. Padahal, motivasi bukanlah pemicu awal yang bisa dipaksa muncul.
(Dr Ray Wagiu Basrowi. Video: Dok. Instagram Dr Ray Wagiu Basrowi/@ray.w.basrowi)
“Motivasi itu bukan tombol yang bisa langsung dinyalakan. Dalam banyak kasus, motivasi justru muncul setelah ritme kerja kembali stabil, bukan sebaliknya,” kata Dr. Ray yang juga adalah Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC).
Dr Ray menambahkan, memaksa diri untuk langsung produktif justru meningkatkan risiko kelelahan mental dan burnout dini, terutama pada pekerja kantoran dan sektor dengan tuntutan kognitif tinggi.
Beberapa langkah teknis
Sebagai praktisi kedokteran kerja, Dr. Ray merekomendasikan beberapa langkah teknis yang realistis dan terbukti membantu pekerja beradaptasi setelah libur panjang.
Pertama, penting untuk atur ulang jam biologis secara bertahap.
Bangun 30–60 menit lebih awal, paparan cahaya pagi selama sekitar 10 menit, serta mengurangi penggunaan gawai di malam hari dapat membantu jam biologis kembali sinkron.
Kedua, menurunkan beban kognitif di hari-hari awal kerja.
“Hari pertama dan kedua sebaiknya digunakan untuk pemanasan. Kerjakan tugas administratif, membaca email, menyusun prioritas, dan hindari rapat panjang. Otak perlu transisi, sama seperti otot sebelum olahraga berat,” ujarnya.
Ketiga, mengatur energi, bukan sekadar jam kerja.
Pola kerja 90 menit diselingi jeda singkat untuk berdiri, minum, atau menarik napas dinilai lebih efektif menjaga fokus dibanding bekerja terus-menerus tanpa jeda.
Keempat, perhatikan makanan dan nutrisi.
Sarapan dengan protein cukup, konsumsi air putih yang memadai, serta membatasi kafein agar tidak berlebihan dapat mencegah lonjakan energi semu yang berujung kelelahan di siang hari.
Dr. Ray mengingatkan bahwa dalam budaya kerja yang sering mengagungkan kecepatan dan ketahanan, pendekatan bertahap kerap disalahartikan sebagai kurang profesional.
Menurutnya, pekerja yang diberi ruang adaptasi cenderung lebih stabil, fokus, dan tidak cepat mengalami kelelahan kronis. Menutup pernyataannya, Dr. Ray menekankan bahwa bekerja adalah proses jangka panjang, bukan sprint sesaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)