FAMILY
Health-Conscious Parents Core: Danone SN Indonesia Dorong Edukasi Gizi Lengkap!
Yatin Suleha
Minggu 15 Februari 2026 / 12:00
Jakarta: Dalam rangka memperkuat literasi gizi keluarga Indonesia, Danone Specialized Nutrition Indonesia menghadirkan Health Corner bertajuk “Gizi Lengkap, Anak Tinggi & Cepat Tanggap”.
Forum ini menyoroti pentingnya pemenuhan gizi lengkap dan seimbang pada anak usia 1–5 tahun sebagai fondasi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, sekaligus menjawab tantangan nyata yang dihadapi keluarga Indonesia bersama dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia beserta Dhea Ananda, ibu sekaligus figur publik sebagai rangkaian dari edukasi seputar pemenuhan gizi lengkap dan tepat dalam rangka Hari Gizi Nasional 2026.
Data survei terbaru yang diselenggarakan oleh Detik.com kepada ribuan ibu menggambarkan kesenjangan antara harapan orang tua agar anak tumbuh optimal, dengan realita pemenuhan nutrisi harian di rumah. Selain itu, mayoritas orang tua menjadikan tinggi badan, berat badan, dan kemampuan kognitif yakni anak cepat tanggap sebagai indikator utama tumbuh kembang anak.
Namun, masih terdapat tantangan dalam memastikan kualitas dan kelengkapan nutrisi harian yang mendukung indikator tersebut secara optimal.
Sekitar 60% orang tua menjadikan tinggi badan dan kemampuan kognitif sebagai indikator utama tumbuh kembang, namun di sisi lain 69,76% responden belum memahami perbedaan zat gizi makro dan mikro, serta 62,87% merasa zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral paling sulit dipenuhi setiap hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun perhatian terhadap pertumbuhan anak cukup tinggi, tantangan dalam memastikan kualitas dan kelengkapan nutrisi harian masih perlu mendapat perhatian lebih. Selain itu hasil riset juga menunjukkan bahwa 69% orang tua menyatakan tantangan terbesar dalam memenuhi kebutuhan gizi anak adalah anak yang pilih-pilih makanan.
Dalam sesi diskusi, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi, menekankan bahwa pemenuhan gizi anak tidak hanya sebatas memastikan anak merasa kenyang, tetapi juga harus memerhatikan keseimbangan antara nutrien makro dan mikro secara optimal.
Menurutnya, orang tua memegang peran sentral dalam menentukan jenis makanan yang dikonsumsi anak, waktu pemberian makan, serta pola makan yang diterapkan di rumah.
“Orang tua memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dimakan oleh anak, kapan anak makan, dan bagaimana anak akan makan. Namun, anak sendiri yang menentukan seberapa banyak ia akan makan. Oleh sebab itu, dalam proses pemberian makan, tidak boleh ada unsur pemaksaan,” ungkap dr. Juwalita.
Lebih lanjut, dr. Juwalita menjelaskan bahwa pada periode emas pertumbuhan anak usia 1–5 tahun, terdapat kebutuhan nutrien makro dan mikro yang harus terpenuhi secara seimbang.
Pemilihan bahan makanan pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pada tahap usia tersebut. Beberapa mikronutrien penting yang dibutuhkan anak antara lain zat besi, vitamin A, vitamin D, zinc, serta DHA yang berperan penting dalam mendukung perkembangan otak.
Selain aspek nutrisi, dr. Juwalita juga menekankan pentingnya stimulasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak. Stimulasi dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, maupun bermain bersama.
Pada sesi tersebut, beliau kembali menegaskan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam memastikan kecukupan gizi sekaligus memberikan stimulasi yang tepat, karena keduanya merupakan fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
.jpeg)
(Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia mengatakan, "Banyak orang tua merasa anak sudah cukup makan. Namun, kenyang belum tentu lengkap." Foto: Dok. Istimewa)
Melengkapi perspektif tersebut, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, menegaskan bahwa tantangan pemenuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kuantitas asupan, tetapi juga kualitas serta kelengkapan nutrisinya.
“Banyak orang tua merasa anak sudah cukup makan. Namun, kenyang belum tentu lengkap. Anak membutuhkan kombinasi protein berkualitas, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, Omega-3, serta berbagai vitamin dan mineral esensial lainnya untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitifnya."
"Nutrisi tersebut bekerja secara sinergis, sehingga keseimbangan menjadi sangat penting. Dalam kondisi tertentu, dukungan dari asupan padat gizi seperti susu fortifikasi yang mengandung protein, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, dan Omega-3 dapat membantu melengkapi kebutuhan harian anak sebagai bagian dari pola makan seimbang,” ujar Dr. Ray.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa, "Hasil riset Danone Indonesia bersama Indonesia Nutrition Association (INA) menunjukkan bahwa jumlah anak yang mengkonsumsi susu terfortifikasi zat besi, delapan kali lebih banyak anak yang tercukupi kebutuhan zat besinya dan anak dengan cukup zat besi terbukti 20% lebih tinggi” ujar Dr. Ray.
Ia menambahkan bahwa pada usia dini, kebutuhan nutrien anak meningkat pesat, sementara kapasitas konsumsi makanannya masih relatif terbatas. Oleh karena itu, pemilihan makanan yang padat gizi (nutrient-dense foods), termasuk susu fortifikasi, menjadi langkah strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi harian anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang dan beragam.
Sementara itu, Dhea Ananda, Ibu sekaligus Figur Publik, turut membagikan pengalamannya dalam menghadapi tantangan anak yang cenderung selektif terhadap makanan.
Ia mengakui bahwa di balik harapan setiap orang tua agar anak tumbuh optimal, masih terdapat kesenjangan antara ekspektasi dan praktik sehari-hari.
“Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak tumbuh tinggi, berat badannya ideal, dan kemampuan kognitifnya berkembang dengan baik. Itu biasanya menjadi indikator utama yang kita lihat. Namun, saya menyadari bahwa memahami kebutuhan nutrisi anak secara menyeluruh tidak sesederhana itu. Awalnya, saya juga belum terlalu memahami perbedaan antara zat gizi makro dan mikro. Yang saya tahu hanya sebatas karbohidrat, protein, dan serat. Padahal, vitamin dan mineral justru memiliki peran penting dan
sering kali lebih menantang untuk dipenuhi setiap hari,” ungkap Dhea.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari pentingnya edukasi gizi yang praktis dan mudah dipahami.
“Banyak orang tua merasa anak sudah makan cukup, tetapi belum tentu nutrisinya sudah lengkap. Edukasi yang tepat membantu saya lebih percaya diri dalam memilih asupan, termasuk memberikan susu fortifikasi untuk membantu melengkapi kebutuhan mikronutrien anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang,” tutupnya.
Melalui Health Corner, Danone Specialized Nutrition Indonesia bersama detikcom kembali menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak harus dipandang secara komprehensif, tidak hanya memastikan anak merasa kenyang, tetapi juga memastikan kecukupan nutrien makro dan mikro yang esensial, disertai stimulasi yang tepat pada periode emas pertumbuhan.
Sejalan dengan pemaparan para narasumber, keseimbangan asupan gizi, pendekatan pemberian makan yang responsif tanpa paksaan, serta pemilihan makanan padat gizi menjadi kunci dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, khususnya pada usia 1–5 tahun ketika kebutuhan nutrisi meningkat sementara kapasitas makan masih terbatas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Forum ini menyoroti pentingnya pemenuhan gizi lengkap dan seimbang pada anak usia 1–5 tahun sebagai fondasi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, sekaligus menjawab tantangan nyata yang dihadapi keluarga Indonesia bersama dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia beserta Dhea Ananda, ibu sekaligus figur publik sebagai rangkaian dari edukasi seputar pemenuhan gizi lengkap dan tepat dalam rangka Hari Gizi Nasional 2026.
Data survei terbaru yang diselenggarakan oleh Detik.com kepada ribuan ibu menggambarkan kesenjangan antara harapan orang tua agar anak tumbuh optimal, dengan realita pemenuhan nutrisi harian di rumah. Selain itu, mayoritas orang tua menjadikan tinggi badan, berat badan, dan kemampuan kognitif yakni anak cepat tanggap sebagai indikator utama tumbuh kembang anak.
Namun, masih terdapat tantangan dalam memastikan kualitas dan kelengkapan nutrisi harian yang mendukung indikator tersebut secara optimal.
Sekitar 60% orang tua menjadikan tinggi badan dan kemampuan kognitif sebagai indikator utama tumbuh kembang, namun di sisi lain 69,76% responden belum memahami perbedaan zat gizi makro dan mikro, serta 62,87% merasa zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral paling sulit dipenuhi setiap hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun perhatian terhadap pertumbuhan anak cukup tinggi, tantangan dalam memastikan kualitas dan kelengkapan nutrisi harian masih perlu mendapat perhatian lebih. Selain itu hasil riset juga menunjukkan bahwa 69% orang tua menyatakan tantangan terbesar dalam memenuhi kebutuhan gizi anak adalah anak yang pilih-pilih makanan.
Dalam sesi diskusi, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi, menekankan bahwa pemenuhan gizi anak tidak hanya sebatas memastikan anak merasa kenyang, tetapi juga harus memerhatikan keseimbangan antara nutrien makro dan mikro secara optimal.
Menurutnya, orang tua memegang peran sentral dalam menentukan jenis makanan yang dikonsumsi anak, waktu pemberian makan, serta pola makan yang diterapkan di rumah.
“Orang tua memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dimakan oleh anak, kapan anak makan, dan bagaimana anak akan makan. Namun, anak sendiri yang menentukan seberapa banyak ia akan makan. Oleh sebab itu, dalam proses pemberian makan, tidak boleh ada unsur pemaksaan,” ungkap dr. Juwalita.
Lebih lanjut, dr. Juwalita menjelaskan bahwa pada periode emas pertumbuhan anak usia 1–5 tahun, terdapat kebutuhan nutrien makro dan mikro yang harus terpenuhi secara seimbang.
Pemilihan bahan makanan pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pada tahap usia tersebut. Beberapa mikronutrien penting yang dibutuhkan anak antara lain zat besi, vitamin A, vitamin D, zinc, serta DHA yang berperan penting dalam mendukung perkembangan otak.
Selain aspek nutrisi, dr. Juwalita juga menekankan pentingnya stimulasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak. Stimulasi dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, maupun bermain bersama.
Pada sesi tersebut, beliau kembali menegaskan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam memastikan kecukupan gizi sekaligus memberikan stimulasi yang tepat, karena keduanya merupakan fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
.jpeg)
(Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia mengatakan, "Banyak orang tua merasa anak sudah cukup makan. Namun, kenyang belum tentu lengkap." Foto: Dok. Istimewa)
Melengkapi perspektif tersebut, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, menegaskan bahwa tantangan pemenuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kuantitas asupan, tetapi juga kualitas serta kelengkapan nutrisinya.
“Banyak orang tua merasa anak sudah cukup makan. Namun, kenyang belum tentu lengkap. Anak membutuhkan kombinasi protein berkualitas, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, Omega-3, serta berbagai vitamin dan mineral esensial lainnya untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitifnya."
"Nutrisi tersebut bekerja secara sinergis, sehingga keseimbangan menjadi sangat penting. Dalam kondisi tertentu, dukungan dari asupan padat gizi seperti susu fortifikasi yang mengandung protein, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, dan Omega-3 dapat membantu melengkapi kebutuhan harian anak sebagai bagian dari pola makan seimbang,” ujar Dr. Ray.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa, "Hasil riset Danone Indonesia bersama Indonesia Nutrition Association (INA) menunjukkan bahwa jumlah anak yang mengkonsumsi susu terfortifikasi zat besi, delapan kali lebih banyak anak yang tercukupi kebutuhan zat besinya dan anak dengan cukup zat besi terbukti 20% lebih tinggi” ujar Dr. Ray.
Ia menambahkan bahwa pada usia dini, kebutuhan nutrien anak meningkat pesat, sementara kapasitas konsumsi makanannya masih relatif terbatas. Oleh karena itu, pemilihan makanan yang padat gizi (nutrient-dense foods), termasuk susu fortifikasi, menjadi langkah strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi harian anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang dan beragam.
Sementara itu, Dhea Ananda, Ibu sekaligus Figur Publik, turut membagikan pengalamannya dalam menghadapi tantangan anak yang cenderung selektif terhadap makanan.
Ia mengakui bahwa di balik harapan setiap orang tua agar anak tumbuh optimal, masih terdapat kesenjangan antara ekspektasi dan praktik sehari-hari.
“Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak tumbuh tinggi, berat badannya ideal, dan kemampuan kognitifnya berkembang dengan baik. Itu biasanya menjadi indikator utama yang kita lihat. Namun, saya menyadari bahwa memahami kebutuhan nutrisi anak secara menyeluruh tidak sesederhana itu. Awalnya, saya juga belum terlalu memahami perbedaan antara zat gizi makro dan mikro. Yang saya tahu hanya sebatas karbohidrat, protein, dan serat. Padahal, vitamin dan mineral justru memiliki peran penting dan
sering kali lebih menantang untuk dipenuhi setiap hari,” ungkap Dhea.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari pentingnya edukasi gizi yang praktis dan mudah dipahami.
“Banyak orang tua merasa anak sudah makan cukup, tetapi belum tentu nutrisinya sudah lengkap. Edukasi yang tepat membantu saya lebih percaya diri dalam memilih asupan, termasuk memberikan susu fortifikasi untuk membantu melengkapi kebutuhan mikronutrien anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang,” tutupnya.
Melalui Health Corner, Danone Specialized Nutrition Indonesia bersama detikcom kembali menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak harus dipandang secara komprehensif, tidak hanya memastikan anak merasa kenyang, tetapi juga memastikan kecukupan nutrien makro dan mikro yang esensial, disertai stimulasi yang tepat pada periode emas pertumbuhan.
Sejalan dengan pemaparan para narasumber, keseimbangan asupan gizi, pendekatan pemberian makan yang responsif tanpa paksaan, serta pemilihan makanan padat gizi menjadi kunci dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, khususnya pada usia 1–5 tahun ketika kebutuhan nutrisi meningkat sementara kapasitas makan masih terbatas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)