Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. DOK Istimewa
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. DOK Istimewa

Kasus Kekerasan di Sekolah Meningkat, Rerie Dorong Komitmen Nyata Sukseskan Gernas RANA

Renatha Swasty • 13 Juli 2026 15:52
Ringkasnya gini..
  • Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat tegaskan Gernas RANA butuh komitmen semua pihak demi wujudkan pesantren dan madrasah ramah anak.
  • Gerakan ini menargetkan 42 ribu pesantren dan 80 ribu madrasah untuk terapkan 5 pilar pencegahan kekerasan dan lingkungan aman.
  • Penanganan kasus kekerasan dinilai mendesak menyusul tren peningkatan laporan kasus di lingkungan pendidikan beberapa tahun terakhir.
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman membutuhkan komitmen dan langkah nyata dari sejumlah pihak terkait. Pemerintah mewujudkan pesantren dan madrasah ramah anak melalui Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA). 
 
"Sebuah gerakan untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman harus mendapat dukungan penuh dari pihak-pihak yang terkait, termasuk dari keluarga dan masyarakat," kata Rerie, sapaan karib Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis, Senin, 13 Juli 2026. 
 
Gernas RANA diharapkan mampu menghadirkan ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak. Gerakan ini menargetkan 42 ribu pondok pesantren dan 80 ribu madrasah di seluruh Indonesia.

Hal itu untuk menerapkan lima pilar utama dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman, yaitu penguatan regulasi, pencegahan kekerasan, penyediaan sarana aman, layanan pengaduan berpihak korban, serta kolaborasi lintas sektor.
 
Rerie mengatakan sejumlah langkah untuk mewujudkan target yang dicanangkan harus menjadi pemahaman dan komitmen bersama para penyelenggara pendidikan, pengelola pondok pesantren dan madrasah, serta masyarakat. Dia menilai
upaya percepatan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan bukan tanpa alasan. 
  Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, sepanjang 2025 terjadi 475 kasus kekerasan berbasis gender di lingkungan pendidikan dengan korban mencapai 972 orang. Khusus di lingkungan pesantren, Komnas Perempuan menerima laporan 17 kasus sepanjang 2020-2024.
 
Selain itu, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga mencatat tren peningkatan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, yaitu 15 kasus pada 2023, meningkat menjadi 36 kasus pada 2024, dan melonjak menjadi 60 kasus sepanjang 2025. Anggota Komisi X DPR RI itu menilai tantangan meningkatnya ancaman kekerasan harus direspons dengan segera dalam bentuk langkah antisipasi yang tepat. 
 
Upaya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan, misalnya, tidak cukup dengan sosialisasi antikekerasan semata. Harus diimbangi dengan upaya aktif membangun sikap dan budaya toleransi di sekolah dan masyarakat. 
 
Selain itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya bertumpu pada kesiapan tenaga pendidik, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat dan keluarga dalam membentuk karakter anak sejak dini.
 
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengapresiasi Gernas RANA yang diinisiasi pemerintah untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi generasi penerus bangsa. Namun, keberhasilan gerakan tersebut bergantung pada komitmen kuat semua pihak untuk menjadikan perlindungan anak sebagai prioritas utama.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA