FAMILY

80 Persen Anak Pilih Curhat ke Teman, Menteri PPPA Sebut Jadi Alarm bagi Orang Tua

A. Firdaus
Sabtu 04 Juli 2026 / 15:47
Ringkasnya gini..
  • Survei tersebut menunjukkan hanya 20 persen anak yang memilih bercerita kepada orang tua saat menghadapi masalah.
  • Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), sepanjang 2024 tercatat 35.020 kasus kekerasan dengan 36.920 korban.
  • Menteri Arifah menegaskan perlindungan perempuan dan anak, tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja.
Jakarta: Hubungan antara orang tua dan anak menjadi sorotan, di tengah masih tingginya angka kekerasan, terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Hasil survei Forum Anak yang menunjukkan sebagian besar anak lebih memilih bercerita kepada teman, dibandingkan orang tua saat menghadapi masalah. 

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pola pengasuhan di dalam keluarga perlu mendapat perhatian serius. Terlebih kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih didominasi terjadi di lingkungan rumah tangga.
 

Mayoritas anak lebih memilih curhat kepada teman


Anak-anak saat ini memiliki karakter, yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya ingin diberi nasihat, tetapi juga ingin didengarkan.
 

Hal itu terlihat dari hasil survei Forum Anak di Jawa Tengah, yang diikuti lebih dari 20 ribu responden. Survei tersebut menunjukkan hanya 20 persen anak yang memilih bercerita kepada orang tua saat menghadapi masalah. Sedangkan 80 persen lainnya lebih memilih berbagi cerita dengan teman.

"Ini jadi pertanyaan besar. Ada apa di rumah mereka? Ada apa dengan orang tua mereka? Ini salah satu sinyal bahwa ada sesuatu dalam rumah tangga, artinya pola asuh mungkin sudah berbeda," ujar Arifatul Choiri Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dalam Audiensi di Kantor Metro TV, Jakarta Barat, Jum'at (03/07/26).

Menurutnya, temuan tersebut menjadi pengingat penting bagi keluarga, untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak.
 

Rumah tangga masih jadi tempat terbanyak terjadi kekerasan


Menteri Arifah mengungkapkan, berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), sepanjang 2024 tercatat 35.020 kasus kekerasan dengan 36.920 korban, yang telah diverifikasi. Sebagian besar kasus justru terjadi di lingkungan rumah tangga.

"Yang paling banyak terjadi kekerasan itu ternyata di rumah tangga. Padahal rumah tangga sebetulnya tempat yang paling aman," kata Menteri Arifah.

Ia juga mengungkapkan hasil survei nasional, menunjukkan satu dari empat perempuan berusia 15–64 tahun, pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya. 

Kondisi anak bahkan lebih memprihatinkan, karena satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan, dengan kekerasan emosional menjadi bentuk yang paling banyak ditemukan.

Meski demikian, Menteri Arifah menilai angka laporan yang masuk masih jauh dari kondisi sebenarnya, karena banyak korban belum berani melapor akibat stigma dan tekanan sosial.

"Kasus yang dilaporkan ke kami selama 2024 baru fenomena gunung es. Banyak korban belum berani mengungkapkan, karena ada stigma dan tekanan sosial," ujarnya.
 

Kolaborasi jadi kunci pencegahan


Menurut Menteri Arifah, meningkatnya laporan kasus juga menunjukkan semakin banyak korban, yang berani berbicara dan mulai percaya bahwa kasus mereka akan ditangani. 

Namun, kondisi tersebut sekaligus menjadi peringatan, bahwa kekerasan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. "Ini adalah alarm bahwa kekerasan makin dekat dengan lingkungan kita," tegasnya.

Untuk menekan angka kekerasan, Menteri Arifah menegaskan perlindungan perempuan dan anak, tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Kementerian PPPA terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak, melalui kebijakan serta program Desa/Kelurahan, agar upaya pencegahan dan perlindungan dapat berjalan lebih efektif hingga tingkat masyarakat.

Berani bicara, berani mencari pertolongan. Jika mengalami, menyaksikan, atau mengetahui adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak, segera hubungi SAPA 129 atau WhatsApp 08111-129-129. Anda tidak sendiri, bantuan siap hadir.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH