Jakarta: Isu kesejahteraan dan perlindungan anak masih menjadi tantangan besar di Indonesia, terutama terkait pemenuhan hak dasar dan pengentasan kekerasan di lingkungan terdekat anak. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) mencatat 15.396 kasus kekerasan terhadap anak selama 2025, di mana kekerasan seksual menjadi kategori paling tinggi dengan 11.049 kasus.
Melalui Festival Kisah Inspiratif bertajuk "Merajut Keberlanjutan, Merayakan Harapan", Wahana Visi Indonesia (WVI) membagikan solusi perlindungan anak yang terbukti efektif, praktis, dan inklusif. Intervensi WVI terbukti memberikan dampak perubahan perilaku yang masif di masyarakat.
"Seperti program Pengasuhan dengan Cinta yang sukses menurunkan proporsi remaja yang mengalami kekerasan fisik dan agresi psikologis oleh pengasuh secara drastis dari 58,47 persen di tahun 2022 menjadi 18,9 persen pada tahun 2025," beber Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora, dalam keterangan tertulis dikutip Rabu, 8 Juli 2026.
WVI sebagai organisasi yang berfokus pada anak, tidak ingin mendampingi sesaat saja, tetapi membangun sistem perlindungan anak yang mandiri dan berkelanjutan bersama masyarakat.
Hal ini dilakukan melalui integrasi lintas sektor yang krusial bagi kesejahteraan anak, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga. Tercatat, penurunan angka kekerasan fisik, hubungan positif dan damai antara anak dan orang tua melonjak signifikan dari 36,4 persen menjadi 50,8 persen.
WVI juga melakukan strategi dengan pendekatan struktural melalui pelembagaan kebijakan di daerah. Misalnya, keberhasilan Advokasi Kebijakan Pencegahan Perkawinan Usia Anak di Kabupaten Parimo, serta Advokasi Pencegahan Kekerasan dan Bullying di Satuan Pendidikan Halmahera Timur.
Semua capaian ini didukung oleh pertumbuhan Forum Anak desa yang ber-SK resmi dari 127 kelompok menjadi 235 kelompok, serta kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang meningkat dari 85 menjadi 134 kelompok di wilayah dampingan WVI pada tahun 2025.
Salah satu anak dampingan WVI yang aktif dalam Forum Anak Timor Tengah Selatan, NTT, Berry, mengingatkan anak adalah objek bukan subjek. Dia sering menemui ketika anak bicara, seringkali tidak didengar malah dibully, ditindas, atau dipukul.
"Menjaga anak berarti memastikan suaranya didengar, karena segala ide dan cerita yang kami sampaikan merupakan ungkapan isi hati kami. Selain itu, kami membutuhkan ruang untuk bertumbuh dan belajar. Penting bagi masyarakat untuk mendukung anak-anak karena kami adalah masa depan bangsa," kata Berry.
Plt. Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Rini Handayani mengungkapkan investasi terbaik bangsa adalah membangun manusia sejak usia anak atau dalam kandungan. Setiap perubahan besar selalu dimulai dari praktik kecil yang dilakukan konsisten, dirawat bersama, hingga menjadi sebuah sistem yang dapat melindungi anak bersama.
"Kami mengapresiasi atas kontribusi Wahana Visi Indonesia yang senantiasa mendampingi anak-anak Indonesia,” kata dia.
Hope Ambassador WVI, Monita Tahalea, menekankan pentingnya kepedulian kolektif. Kesejahteraan anak bukanlah urusan orang tua atau lembaga kemanusiaan saja melainkan tanggung jawab kita bersama sebagai satu masyarakat.
"Menyaksikan anak-anak terbebas dari trauma kekerasan dan bisa bersekolah dengan bahagia adalah harapan kita semua. Untuk itu, mari kita ambil bagian untuk melakukan perubahan dengan hadir, peduli, dan mendukung gerakan-gerakan baik seperti yang dilakukan WVI demi memastikan senyum, kebahagiaan, dan masa depan anak Indonesia tetap terjaga," ajak dia.
Festival Kisah Inspiratif menyajikan berbagai temuan, capaian, dan cerita perubahan di lingkungan masyarakat wilayah dampingan Indonesia, talkshow bersama pihak pemerintah dan perwakilan anak, serta pidato penyampaian suara anak oleh Berry.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan