- Pernah gak sih si kecil tiba-tiba teriak, "Aku benci Mama, Papa!"
- Tenang, ini sebenarnya wajar kok! Ungkapan itu sering muncul saat anak merasa frustrasi atau ditolak.
- Menurut para pakar seperti Elena Lister, MD dan Michael Schwartzman, Ph.D., ada hal yang harus kita perhatikan dari hal ini.
Jakarta: Pernah gak sih si kecil tiba-tiba teriak, "Aku benci Mama, Papa!" pas lagi tantrum atau kesal? Rasanya pasti campur aduk, ya.
Tenang, ini sebenarnya wajar kok! Ungkapan itu sering muncul saat anak merasa frustrasi atau ditolak. Ini adalah bagian dari proses belajar mereka dalam memahami emosi yang lagi meluap-luap.
Tapi, kapan ya kita perlu khawatir? Menurut para pakar seperti Elena Lister, MD dan Michael Schwartzman, Ph.D., kita perlu lebih perhatian kalau perilaku anak berubah drastis. Misalnya:
- Anak jadi menarik diri atau makin pendiam
- Pola makan atau tidur mulai berantakan
- Ada perubahan drastis dalam pergaulan atau sikapnya sama teman-teman
.jpg)
(Dalam Alodokter, dr. Kevin Adrian memaparkan, untuk menghadapi anak yang marah dengan tetap tenang dan kendalikan emosi Moms terlebih dahulu. Validasi perasaannya, beri mereka ruang untuk tenang, lalu ajak berkomunikasi secara asertif untuk mencari akar masalah dan solusi bersama. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kalau tanda-tanda ini muncul, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog ya. Mengambil langkah lebih awal itu jauh lebih baik daripada menunggu.
Kadang, ngobrol sebentar dengan ahlinya saja sudah bisa bikin suasana rumah jadi jauh lebih tenang dan terarah.
Penting untuk diingat bahwa dunia emosi anak itu luas banget. Mereka bisa merasakan cinta sampai marah dalam waktu singkat, dan karena kapasitas mentalnya masih berkembang, mengelola perasaan yang intens itu sulit sekali bagi mereka.
Kadang, kita (orang tua) memang jadi sasaran kemarahannya karena kita adalah orang terdekat. Tapi bisa jadi, itu sebenarnya pelampiasan dari rasa kesal yang nggak ada hubungannya sama kita sama sekali.
Menghadapi anak yang emosional itu melelahkan, dan sangat manusiawi kalau emosi kita ikut terpancing atau merasa "sakit hati" saat dibilang begitu.
Jangan terlalu keras pada diri sendiri ya. Pengasuhan itu adalah perjalanan panjang, dan kita semua pasti belajar dari pengalaman.
Kalau merasa buntu atau lelah, mencari dukungan profesional buat dirimu sendiri juga sangat disarankan. Kamu enggak harus menghadapi semuanya sendirian, kok!
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Tenang, ini sebenarnya wajar kok! Ungkapan itu sering muncul saat anak merasa frustrasi atau ditolak. Ini adalah bagian dari proses belajar mereka dalam memahami emosi yang lagi meluap-luap.
Tapi, kapan ya kita perlu khawatir? Menurut para pakar seperti Elena Lister, MD dan Michael Schwartzman, Ph.D., kita perlu lebih perhatian kalau perilaku anak berubah drastis. Misalnya:
- Anak jadi menarik diri atau makin pendiam
- Pola makan atau tidur mulai berantakan
- Ada perubahan drastis dalam pergaulan atau sikapnya sama teman-teman
.jpg)
(Dalam Alodokter, dr. Kevin Adrian memaparkan, untuk menghadapi anak yang marah dengan tetap tenang dan kendalikan emosi Moms terlebih dahulu. Validasi perasaannya, beri mereka ruang untuk tenang, lalu ajak berkomunikasi secara asertif untuk mencari akar masalah dan solusi bersama. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kalau tanda-tanda ini muncul, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog ya. Mengambil langkah lebih awal itu jauh lebih baik daripada menunggu.
Kadang, ngobrol sebentar dengan ahlinya saja sudah bisa bikin suasana rumah jadi jauh lebih tenang dan terarah.
Alasan kenapa anak ngomong begitu?
Penting untuk diingat bahwa dunia emosi anak itu luas banget. Mereka bisa merasakan cinta sampai marah dalam waktu singkat, dan karena kapasitas mentalnya masih berkembang, mengelola perasaan yang intens itu sulit sekali bagi mereka.
Kadang, kita (orang tua) memang jadi sasaran kemarahannya karena kita adalah orang terdekat. Tapi bisa jadi, itu sebenarnya pelampiasan dari rasa kesal yang nggak ada hubungannya sama kita sama sekali.
Menghadapi anak yang emosional itu melelahkan, dan sangat manusiawi kalau emosi kita ikut terpancing atau merasa "sakit hati" saat dibilang begitu.
Baca Juga :
Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak
Jangan terlalu keras pada diri sendiri ya. Pengasuhan itu adalah perjalanan panjang, dan kita semua pasti belajar dari pengalaman.
Kalau merasa buntu atau lelah, mencari dukungan profesional buat dirimu sendiri juga sangat disarankan. Kamu enggak harus menghadapi semuanya sendirian, kok!
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)