FITNESS & HEALTH
Sepele Namun Berbahaya, Anak Jarang Main di Luar Berisiko Mata Minus
Aulia Putriningtias
Senin 13 Juli 2026 / 13:10
- Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, sebenarnya sinar matahari dan aktivitas di luar ruangan sangat berpengaruh terhadap perkembangan mata.
- Banyak Parents yang masih abai dengan masalah pre-miopia.
- Pre-miopia sendiri adalah kondisi ketika mata anak belum mengalami miopia, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda mata minus.
Jakarta: Parents, siapa yang menyangka bahwa anak yang jarang main di luar ternyata punya risiko mata minus atau miopia! Kok bisa seperti itu, ya?
International Myopia Institute (IMI) dalam pembaruan panduan klinis pada 2023 menyebutkan bahwa memperbanyak waktu bermain di luar ruangan merupakan salah satu intervensi yang paling konsisten terbukti dapat menurunkan risiko munculnya miopia pada anak.
Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, sebenarnya sinar matahari dan aktivitas di luar ruangan sangat berpengaruh terhadap perkembangan mata, termasuk soal minus.
Jika hanya berada di dalam, anak cenderung akan memilih gadget sebagai bentuk permainannya dengan sinar biru yang menyakitkan mata. Hal ini akan berisiko mata minus, bahkan sebelum usia 8 tahun.
"Jika kita menemukan seorang anak di bawah usia 8 tahun dengan hiperopia yang sudah hampir hilang, kemudian berasal dari etnis Asia, memiliki riwayat keluarga dengan miopia, serta faktor lingkungan seperti keterbatasan aktivitas di luar rumah, kurang paparan matahari, dan aktivitas jarak dekat yang intensif, maka anak tersebut sudah masuk kelompok berisiko mengalami premiopia," ujar dr. Julie dalam keterangannya saat hadir di acara Scientific and Clinical Forum 2026 yang diselenggarakan EssilorLuxottica di Jakarta.
Banyak Parents yang masih abai dengan masalah pre-miopia. Pre-miopia sendiri adalah kondisi ketika mata anak belum mengalami miopia, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada perkembangan mata minus.
IMI sendiri merekomendasikan anak menghabiskan sedikitnya dua jam setiap hari untuk kepentingan kesehatan mata mereka. Jadi, penekanan terjadinya miopia bisa dilakukan.
Selain itu, dr. Julie juga merekomendasikan tambahan kesehatan mata eksternal seperti mengonsumsi wortel. Namun, yang terpenting adalah menjaga paparan sinar biru dari gawai pada anak-anak.
Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, mengatakan miopia kini tidak lagi dipandang sebagai gangguan refraksi yang cukup dikoreksi dengan lensa biasa. Kini sudah menjadi perhatian yang dibutuhkan sejak dini.

Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz. (Foto: Dok. Medcom/Aulia Putriningtias)
Pihaknya pun tengah mengembangkan teknologi lensa HALT (Highly Aspherical Lenslet Target) yang membantu mengoreksi penglihatan sekaligus memperlambat pertambahan panjang bola mata (axial length).
"Sebagai praktisi kesehatan mata, kita semua menyadari pentingnya mengambil tindakan sejak dini, mengelola perkembangan miopia secara efektif, dan membantu keluarga memahami bahwa penanganan miopia merupakan perjalanan jangka panjang," tutup Dailami.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
International Myopia Institute (IMI) dalam pembaruan panduan klinis pada 2023 menyebutkan bahwa memperbanyak waktu bermain di luar ruangan merupakan salah satu intervensi yang paling konsisten terbukti dapat menurunkan risiko munculnya miopia pada anak.
Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, sebenarnya sinar matahari dan aktivitas di luar ruangan sangat berpengaruh terhadap perkembangan mata, termasuk soal minus.
Jika hanya berada di dalam, anak cenderung akan memilih gadget sebagai bentuk permainannya dengan sinar biru yang menyakitkan mata. Hal ini akan berisiko mata minus, bahkan sebelum usia 8 tahun.
"Jika kita menemukan seorang anak di bawah usia 8 tahun dengan hiperopia yang sudah hampir hilang, kemudian berasal dari etnis Asia, memiliki riwayat keluarga dengan miopia, serta faktor lingkungan seperti keterbatasan aktivitas di luar rumah, kurang paparan matahari, dan aktivitas jarak dekat yang intensif, maka anak tersebut sudah masuk kelompok berisiko mengalami premiopia," ujar dr. Julie dalam keterangannya saat hadir di acara Scientific and Clinical Forum 2026 yang diselenggarakan EssilorLuxottica di Jakarta.
Banyak Parents yang masih abai dengan masalah pre-miopia. Pre-miopia sendiri adalah kondisi ketika mata anak belum mengalami miopia, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada perkembangan mata minus.
IMI sendiri merekomendasikan anak menghabiskan sedikitnya dua jam setiap hari untuk kepentingan kesehatan mata mereka. Jadi, penekanan terjadinya miopia bisa dilakukan.
Selain itu, dr. Julie juga merekomendasikan tambahan kesehatan mata eksternal seperti mengonsumsi wortel. Namun, yang terpenting adalah menjaga paparan sinar biru dari gawai pada anak-anak.
Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, mengatakan miopia kini tidak lagi dipandang sebagai gangguan refraksi yang cukup dikoreksi dengan lensa biasa. Kini sudah menjadi perhatian yang dibutuhkan sejak dini.

Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz. (Foto: Dok. Medcom/Aulia Putriningtias)
Pihaknya pun tengah mengembangkan teknologi lensa HALT (Highly Aspherical Lenslet Target) yang membantu mengoreksi penglihatan sekaligus memperlambat pertambahan panjang bola mata (axial length).
"Sebagai praktisi kesehatan mata, kita semua menyadari pentingnya mengambil tindakan sejak dini, mengelola perkembangan miopia secara efektif, dan membantu keluarga memahami bahwa penanganan miopia merupakan perjalanan jangka panjang," tutup Dailami.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)