Guilt Tripping dalam Hubungan (dok. Pexels)
Guilt Tripping dalam Hubungan (dok. Pexels)

Apa Itu Guilt Tripping dalam Hubungan? Kenali Ciri, Dampak, dan Cara Menghadapinya

Renatha Swasty • 25 September 2026 22:03
Ringkasnya gini..
  • Guilt tripping adalah bentuk manipulasi emosional yang memanfaatkan rasa bersalah untuk memengaruhi keputusan seseorang.
  • Perilaku ini dapat memicu kecemasan, mengikis rasa percaya diri, dan menjadi indikator hubungan yang tidak sehat.
  • Langkah menghadapinya mencakup mengambil jeda sebelum merespons, menetapkan batasan yang tegas, dan berani berkata "tidak".
Jakarta: Hubungan pertemanan, romantik, maupun keluarga adalah hubungan yang sehat dan dapat memberikan rasa aman serta dukungan. Namun, hubungan tersebut juga dapat menjadi sumber tekanan ketika salah satu pihak menggunakan rasa bersalah untuk memengaruhi keputusan orang lain.

Salah satu perilaku yang perlu dikenali adalah guilt tripping. Istilah ini merujuk pada perilaku manipulatif secara emosional yang membuat seseorang merasa bersalah agar mengikuti keinginan pihak lain.

Lantas, seperti apa guilt tripping dalam hubungan dan bagaimana dampaknya? Melansir dari Cleveland Clinic dan YoungMinds, berikut penjelasannya.

Apa Itu Guilt Tripping?

Guilt tripping merupakan perilaku manipulatif yang memanfaatkan rasa tanggung jawab atau kewajiban seseorang untuk mendorongnya melakukan sesuatu. Psikolog klinis Kia-Rai Prewitt, PhD, menjelaskan perilaku tersebut dapat terjadi ketika seseorang sengaja membuat orang lain merasa bersalah karena tidak melakukan sesuatu yang diinginkan.

Guilt tripping terjadi ketika seseorang menggunakan rasa bersalah sebagai tekanan agar orang lain mengubah keputusan atau melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Perilaku ini dapat muncul secara langsung maupun terselubung.

Salah satu
contohnya, seseorang mempertanyakan rasa sayang pasangannya hanya karena pasangan tersebut menolak permintaan atau memilih melakukan kegiatan lain.

Contoh Kalimat Guilt Tripping

Beberapa contoh kalimat yang dapat mengarah pada guilt tripping antara lain:
  • "Kalau kamu benar-benar peduli sama aku, kamu pasti mau melakukannya."
  • "Aku kira aku penting buat kamu."
  • "Ya sudah lah, biasanya aku juga sendirian kan?”
  • "Kamu tega ninggalin aku sendirian?"
  • “Cuma sekali aja kok kita lakuin ini, masa kamu nggak mau?”
Guilt tripping secara berulang akan memberikan tekanan kepada orang lain dan membuat seseorang merasa terpaksa menuruti omongan tersebut.

Ciri Guilt Tripping dalam Hubungan

Guilt tripping dapat sulit dikenali karena tidak selalu muncul dalam bentuk pertengkaran atau perkataan kasar. Salah satu tandanya adalah ketika seseorang menggunakan hubungan atau kepedulian sebagai alasan agar pihak lain menuruti keinginannya.

Perasaan kecewa juga dapat digunakan untuk membuat seseorang merasa bersalah atas keputusan yang sebenarnya merupakan haknya. Hubungan dengan pola tersebut merupakan hubungan tidak sehat karena tidak menghormati batasan yang telah ditentukan pasangan.

YoungMinds, lembaga kesehatan mental anak dan remaja di Inggris, menyebut hubungan yang sehat ditandai dengan komunikasi terbuka, rasa hormat terhadap batasan, kepercayaan, kesetaraan, serta kebebasan untuk tetap memiliki kehidupan dan kepentingan masing-masing.

Sebaliknya, manipulasi dan upaya mengontrol seseorang agar melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya dapat menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.

Dampak Guilt Tripping bagi Kesehatan Mental

Terus-menerus mendapatkan tekanan melalui rasa bersalah dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang, seperti merasa tidak cukup baik, cemas ketika berinteraksi dengan orang tersebut, meragukan keputusan sendiri, hingga mempertanyakan kebutuhannya.

Apabila pola tersebut berlangsung terus-menerus, rasa percaya terhadap kemampuan mengambil keputusan juga dapat ikut terkikis.

Sobat Medcom penting membedakan antara rasa bersalah yang muncul secara wajar setelah melakukan kesalahan dengan rasa bersalah yang sengaja digunakan orang lain untuk mendapatkan sesuatu.

Bagaimana Menghadapi Guilt Tripping?

Cleveland Clinic menyarankan beberapa langkah ketika seseorang menghadapi guilt trip, di antaranya:
  • Mengambil jeda sebelum merespons
  • Menyampaikan batasan secara spesifik
  • Tetap berpegang pada keputusan yang sudah dibuat
  • Mengatakan "tidak" bukan berarti seseorang melakukan kesalahan
Langkah-langkah tersebut dapat dilakukan apabila kedua pihak mau belajar untuk membangun hubungan yang sehat. Namun, akan sulit apabila hanya satu pihak yang mengusahakan keluar dari hubungan tidak sehat dan pihak satunya terus-terusan menggunakan pola guilt tripping.

Sobat Medcom, apakah pernah berada di situasi ini? Yuk segara terapkan langkah-langkah menghadapinya! (Adinda Kinanthi)
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan