FITNESS & HEALTH
Kirain Salting, Ternyata Atrial Fibrilasi? Awas Gejala Stroke!
Aulia Putriningtias
Rabu 13 Mei 2026 / 14:51
- Atrial Fibrilasi (AF) atau gangguan irama jantung emang ganggu banget.
- Tapi hati-hati ya, kalau tanda-tandanya didiamkan gitu aja, risikonya enggak main-main karena bisa memicu stroke di kemudian hari.
- Bagaimana bisa gangguan irama jantung berhubungan dengan stoke? Ini kata dokter.
Jakarta: Atrial Fibrilasi (AF) atau gangguan irama jantung emang ganggu banget. Tapi hati-hati ya, kalau tanda-tandanya didiamkan gitu aja, risikonya enggak main-main karena bisa memicu stroke di kemudian hari. Jadi, jangan dianggap remeh!
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dr. Dony Yugo Hermanto Sp.JP Subsp Ar (K) FIHA, menjelaskan bahwa gangguan irama jantung yang tak teratur dapat menyebabkan gagal jantung dan stroke.
Ia menerangkan bahwa gejalanya seperti berdebar-debar, tidak nyaman layaknya lari terus menerus, kemudian merasa lelah. Hal tersebut karena terjadinya korslet di bagian serambi jantung, yang sebabkan listrik jantung terganggu dan menyebabkan pompa jantung terganggu juga.
Selain soal genetik, AF terjadi karena generatif penuaan dan hipertensi. Deteksi dini di Indonesia pun masih sering diabaikan. Hal ini karena sifat gejalanya yang hilang timbul, sehingga tidak menjadi perhatian.
"Di Indonesia sering banget under diagnose kadang-kadang disepelekan hipertensi karena gak ada gejala, dilihatin aja. Alhasilnya dia bisa menyebabkan atrial fibrilaasi, penyakit jantung jelas bisa,” kata dr. Dony dalam temu media bersama RSPI di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

(Dr. Dony Yugo Hermanto Sp.JP Subsp Ar (K) FIHA, Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia dari RSPI. Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)
Menurut Dokter Spesialis Neurologi dari RSPI, dr. Andre Sp.N, atrial fibrilasi mengalami denyut jantung yang tidak teratur. Jadi, terbentuknya potensi-potensi untuk menjadi stroke di kemudian hari yang bisa secara tiba-tiba.
"Atrial fibrilasi denyut jantungnya gak teratur sehingga terbentuk bekuan darah, turbulen terperangkap di jantung sehingga suatu saat dia bisa lepas masuk ke otak jadilah stroke," papar dr. Andre.
Stroke merupakan kondisi medis darurat ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang. Masalah kesehatan ini menyebabkan sel-sel otak mati dalam hitungan menit akibat kurangnya oksigen dan nutrisi.
Menurut dr. Andre, stroke dapat terjadi tiba-tiba dan menyebabkan kecacatan dan kematian, jika terjadi stroke berat. Hal ini karena jantung tidak dipompa darah dengan baik dan terhambat akibat hadirnya atrial fibrilasi.
Ia menegaskan bahwa stroke sumbatan bisa ditangani dengan waktu yang sesegera mungkin, dengan golden hour atau waktu emas di bawah 4,5 jam untuk dimasukkan obat trombolisis. Kecepatan respons dapat menentukan sejauh mana pasien dapat diselamatkan.
"Jadi tidak ada lagi istilahnya kalau stroke, dibiarin aja dulu mungkin itu kemasukan, mungkin itu kena angin duduk, dibiarin aja dulu sembuh sendiri, jangan! Segera ke rumah sakit," tegasnya.
Sementara itu, untuk faktor risiko stroke yang tidak bisa diubah di antaranya usia berisiko stroke di atas 55 tahun, ras tertentu, jenis kelamin, dan riwayat stroke di garis keturunan atau keluarga. Perempuan sendiri lebih kecil risiko terkena stroke dibanding laki-laki, tetapi juga perlu waspada.
Stroke sendiri bisa dicegah dengan melakukan kendali faktor risiko melalui pola hidup sehat, seperti mengontrol tekanan darah, olahraga ringan lima kali seminggu minimal 30 menit, makan makanan sehat, kontrol kolesterol dan pertahankan berat badan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dr. Dony Yugo Hermanto Sp.JP Subsp Ar (K) FIHA, menjelaskan bahwa gangguan irama jantung yang tak teratur dapat menyebabkan gagal jantung dan stroke.
Ia menerangkan bahwa gejalanya seperti berdebar-debar, tidak nyaman layaknya lari terus menerus, kemudian merasa lelah. Hal tersebut karena terjadinya korslet di bagian serambi jantung, yang sebabkan listrik jantung terganggu dan menyebabkan pompa jantung terganggu juga.
Selain soal genetik, AF terjadi karena generatif penuaan dan hipertensi. Deteksi dini di Indonesia pun masih sering diabaikan. Hal ini karena sifat gejalanya yang hilang timbul, sehingga tidak menjadi perhatian.
"Di Indonesia sering banget under diagnose kadang-kadang disepelekan hipertensi karena gak ada gejala, dilihatin aja. Alhasilnya dia bisa menyebabkan atrial fibrilaasi, penyakit jantung jelas bisa,” kata dr. Dony dalam temu media bersama RSPI di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Bagaimana bisa gangguan irama jantung berhubungan dengan stoke?

(Dr. Dony Yugo Hermanto Sp.JP Subsp Ar (K) FIHA, Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia dari RSPI. Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)
Menurut Dokter Spesialis Neurologi dari RSPI, dr. Andre Sp.N, atrial fibrilasi mengalami denyut jantung yang tidak teratur. Jadi, terbentuknya potensi-potensi untuk menjadi stroke di kemudian hari yang bisa secara tiba-tiba.
"Atrial fibrilasi denyut jantungnya gak teratur sehingga terbentuk bekuan darah, turbulen terperangkap di jantung sehingga suatu saat dia bisa lepas masuk ke otak jadilah stroke," papar dr. Andre.
Stroke merupakan kondisi medis darurat ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang. Masalah kesehatan ini menyebabkan sel-sel otak mati dalam hitungan menit akibat kurangnya oksigen dan nutrisi.
Menurut dr. Andre, stroke dapat terjadi tiba-tiba dan menyebabkan kecacatan dan kematian, jika terjadi stroke berat. Hal ini karena jantung tidak dipompa darah dengan baik dan terhambat akibat hadirnya atrial fibrilasi.
Ia menegaskan bahwa stroke sumbatan bisa ditangani dengan waktu yang sesegera mungkin, dengan golden hour atau waktu emas di bawah 4,5 jam untuk dimasukkan obat trombolisis. Kecepatan respons dapat menentukan sejauh mana pasien dapat diselamatkan.
"Jadi tidak ada lagi istilahnya kalau stroke, dibiarin aja dulu mungkin itu kemasukan, mungkin itu kena angin duduk, dibiarin aja dulu sembuh sendiri, jangan! Segera ke rumah sakit," tegasnya.
Sementara itu, untuk faktor risiko stroke yang tidak bisa diubah di antaranya usia berisiko stroke di atas 55 tahun, ras tertentu, jenis kelamin, dan riwayat stroke di garis keturunan atau keluarga. Perempuan sendiri lebih kecil risiko terkena stroke dibanding laki-laki, tetapi juga perlu waspada.
Stroke sendiri bisa dicegah dengan melakukan kendali faktor risiko melalui pola hidup sehat, seperti mengontrol tekanan darah, olahraga ringan lima kali seminggu minimal 30 menit, makan makanan sehat, kontrol kolesterol dan pertahankan berat badan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)