FITNESS & HEALTH

Hantavirus: Menyelami Hubungan Virus dengan Hewan Pengerat

A. Firdaus
Kamis 14 Mei 2026 / 10:28
Ringkasnya gini..
  • Meski tergolong penyakit langka, infeksi virus Hanta dapat menyebabkan gangguan serius.
  • Hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat.
  • Penularan Hantavirus paling sering terjadi melalui udara yang terkontaminasi partikel kotoran.
Jakarta: Belakangan ini, Hantavirus ramai diperbincangkan publik. Hal ini bermula dari laporan adanya penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol, yang terjangkit virus tersebut hingga menyebabkan tiga orang di antaranya meninggal dunia.

Meski tergolong penyakit langka, infeksi virus Hanta dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal dan berpotensi fatal, bila tidak ditangani dengan cepat. 

Virus Hanta (Hantavirus) merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menyebabkan dua sindrom utama pada manusia, yaitu:

- Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), biasanya menyerang paru-paru dan sistem pernapasan.
- Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), menyerang ginjal dan pembuluh darah.

"Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi," jelas dr. Rio Yansen Cikutra, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong. 
"Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah juga meningkatkan risiko penularan," sambungnya.

Meski jarang terjadi, infeksi virus ini dapat memicu kondisi medis yang fatal bagi penderitanya. 
 

Bagaimana terjadinya penularan Virus Hanta?


Penularan virus Hanta paling sering terjadi melalui:

- Menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.
- Kontak langsung dengan tikus atau sarangnya.
- Menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung, mata, atau mulut.
- Gigitan tikus (lebih jarang).

Pada beberapa jenis tertentu, seperti Andes hantavirus, terdapat kemungkinan penularan antar manusia, meskipun kasusnya sangat jarang.
 

Gejala Virus Hanta yang Perlu Diketahui 


Secara klinis, gejala Hantavirus terbagi ke dalam dua tahap perkembangan:
 

- Gejala Awal (Ringan)


Penderita umumnya mengalami demam, sakit kepala hebat, nyeri otot (terutama di bagian punggung dan paha), serta tubuh yang terasa sangat lemas. Gejala ini sering kali disertai gangguan pencernaan seperti nyeri perut, muntah, hingga diare.
 

- Gejala Lanjutan (Berat)


Jika kondisi memburuk, pasien akan mengalami gangguan pernapasan serius, mulai dari batuk-batuk hingga sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Selain itu, dapat terjadi sindrom jaundice (kuning), penurunan tekanan darah secara drastis (syok) hingga gangguan fungsi ginjal.
 

Lingkungan dan kondisi yang perlu kamu hindari demi pencegahan maksimal 


Penularan Hantavirus paling sering terjadi melalui udara yang terkontaminasi partikel kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Untuk meminimalkan risiko, perhatikan beberapa kondisi lingkungan berikut:

- Area dengan Populasi Tikus yang Tinggi: Lingkungan tempat tinggal atau area kerja yang menjadi sarang tikus adalah zona risiko utama.

- Ruang Tertutup yang Lama Terabaikan: Membersihkan gudang, loteng, atau bangunan lama tanpa alat pelindung diri sangat berbahaya, karena debu yang mengandung virus dapat terhirup dengan mudah.

- Menutup Lubang di Dalam dan di Luar Rumah: Untuk mencegah hewan pengerat masuk ke dalam rumah/tempat kerja.

- Menjaga Kebersihan Lingkungan Tempat Tinggal/Tempat Kerja: Gunakan metode pel basah di seluruh area untuk memastikan partikel berbahaya tidak terhirup.

- Sektor Pertanian dan Perkebunan: Pekerja di area lahan terbuka atau perkebunan memiliki risiko lebih tinggi karena kontak yang intens dengan habitat alami hewan pengerat.

- Aktivitas di Alam Bebas: Berkemah atau beraktivitas di hutan dan area perkemahan tanpa menjaga higienitas makanan dan tempat tidur dapat meningkatkan peluang terpapar.

- Kondisi Sanitasi yang Buruk: Lingkungan yang kotor dan tidak memiliki tata kelola sampah yang baik akan memicu kedatangan hewan pembawa virus.

"Jika kamu mulai merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan medis yang dilakukan sedini mungkin sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berat," tambah dr. Rio. 

Menanggapi kebutuhan akan penanganan penyakit menular dan kondisi darurat, Bethsaida Hospital Gading Serpong siap memberikan pelayanan medis yang komprehensif. Memiliki fasilitas IGD 24 Jam yang siaga menangani kasus gawat darurat dengan cepat.

Selain itu, tersedia Ruang Isolasi untuk memastikan pasien dengan infeksi menular mendapatkan perawatan intensif sekaligus menjaga keamanan bagi pasien lainnya.

Kemudian dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, menekankan pentingnya respons medis yang cepat.

“Kami berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas. Melalui ketersediaan fasilitas ruang isolasi yang modern dan tim medis yang kompeten, Bethsaida Hospital siap menjadi garda terdepan dalam menangani berbagai tantangan kesehatan masyarakat, termasuk risiko penyakit infeksi seperti Hantavirus," pungkas dr. Margareth.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH