FITNESS & HEALTH
Nakes Indonesia Terbantu Banget Sama AI, tapi Siap Gak Nih Ngikutin Pace-nya?
Yatin Suleha
Rabu 19 Agustus 2026 / 20:40
- Philips baru saja merilis laporan terbarunya, Future Health Index 2026.
- Yang menyoroti perkembangan menarik seputar penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia kesehatan Indonesia.
- Laporan edisi ke-11 ini menunjukkan bahwa AI kini sudah benar-benar memberikan dampak positif di lapangan.
Jakarta: Philips baru saja merilis laporan terbarunya, Future Health Index 2026, yang menyoroti perkembangan menarik seputar penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia kesehatan Indonesia.
Berbeda dari tahun sebelumnya yang lebih fokus ke tahap persiapan dan membangun kepercayaan publik, laporan edisi ke-11 ini menunjukkan bahwa AI kini sudah benar-benar memberikan dampak positif di lapangan.
Para tenaga medis di Indonesia merasakan langsung manfaatnya, mulai dari proses diagnosis yang lebih sat-set, alur kerja yang lebih rapi, beban kerja yang terasa lebih ringan, hingga kemampuan melayani pasien yang jadi jauh lebih optimal.
Kendati demikian, laporan ini juga memberi catatan penting. Kecepatan adopsi AI di kalangan tenaga kesehatan ternyata melaju lebih kencang dibanding kesiapan pendukungnya—seperti pelatihan khusus, integrasi sistem, hingga tata kelola yang aman agar implementasinya bisa berjalan konsisten dalam jangka panjang.
Laporan ini diluncurkan pada hari ini dalam acara AI in practice: Scaling AI for better care in Indonesia atau Penerapan AI: Memperluas adopsi AI untuk layanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Philips di Jakarta bersama para pemimpin dari Kementerian Kesehatan, penyedia layanan kesehatan, dan asosiasi rumah sakit untuk mendiskusikan tahap selanjutnya dalam adopsi AI yang bertanggung jawab di Indonesia.
Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia mengatakan, "Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien."

(Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia. Foto: Dok. Philips)
"Prioritas kita saat ini adalah memastikan manfaat awal tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan."
"Untuk itu, AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan," tambah Astri.
Philips Future Health Index (FHI) adalah laporan riset global tahunan yang diprakarsai oleh Royal Philips untuk menganalisis dan mengevaluasi bagaimana sistem kesehatan di berbagai negara mengadopsi teknologi masa depan, tantangan yang dihadapi, serta pandangan tenaga medis dan pasien.
- Mengukur sejauh mana sistem layanan kesehatan siap menghadapi tantangan masa depan.
- Menyoroti hambatan operasional, seperti beban administratif tenaga medis dan waktu tunggu pasien.
- Menjadi acuan bagi pemangku kepentingan dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan kesehatan berbasis teknologi.
1. Pemanfaatan AI: Meneliti bagaimana alat berbasis AI dapat menghemat waktu kerja klinisi, mengurangi stres kerja, dan membantu deteksi dini penyakit.
2. Kesenjangan kepercayaan (trust gap): Mengidentifikasi perbedaan pandangan antara tenaga kesehatan yang cenderung lebih optimis terhadap teknologi baru dibandingkan pasien yang masih membutuhkan kepastian peran dokter secara langsung.
3. Kesiapan SDM dan infrastruktur: Menyoroti pentingnya pelatihan yang memadai bagi tenaga medis serta tata kelola data yang baik agar adopsi teknologi memberikan dampak nyata.
Kamu juga dapat membaca dokumen dan pembaruan riset terbarunya secara langsung melalui Philips Future Health Index.
(Philips – Driving the digital health revolution. Video: Dok. YouTube Philips)
(TIN)
Berbeda dari tahun sebelumnya yang lebih fokus ke tahap persiapan dan membangun kepercayaan publik, laporan edisi ke-11 ini menunjukkan bahwa AI kini sudah benar-benar memberikan dampak positif di lapangan.
Para tenaga medis di Indonesia merasakan langsung manfaatnya, mulai dari proses diagnosis yang lebih sat-set, alur kerja yang lebih rapi, beban kerja yang terasa lebih ringan, hingga kemampuan melayani pasien yang jadi jauh lebih optimal.
Baca Juga :
Keajaiban di Hari Ulang Tahun Kedua: Erica van Barneveld dan Perjalanan Hidup yang Belum Usai
Kendati demikian, laporan ini juga memberi catatan penting. Kecepatan adopsi AI di kalangan tenaga kesehatan ternyata melaju lebih kencang dibanding kesiapan pendukungnya—seperti pelatihan khusus, integrasi sistem, hingga tata kelola yang aman agar implementasinya bisa berjalan konsisten dalam jangka panjang.
Laporan ini diluncurkan pada hari ini dalam acara AI in practice: Scaling AI for better care in Indonesia atau Penerapan AI: Memperluas adopsi AI untuk layanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Philips di Jakarta bersama para pemimpin dari Kementerian Kesehatan, penyedia layanan kesehatan, dan asosiasi rumah sakit untuk mendiskusikan tahap selanjutnya dalam adopsi AI yang bertanggung jawab di Indonesia.
Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia mengatakan, "Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien."

(Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia. Foto: Dok. Philips)
"Prioritas kita saat ini adalah memastikan manfaat awal tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan."
"Untuk itu, AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan," tambah Astri.
Apa itu Philips Future Health Index (FHI)?
Philips Future Health Index (FHI) adalah laporan riset global tahunan yang diprakarsai oleh Royal Philips untuk menganalisis dan mengevaluasi bagaimana sistem kesehatan di berbagai negara mengadopsi teknologi masa depan, tantangan yang dihadapi, serta pandangan tenaga medis dan pasien.
Laporan ini berfokus pada topik-topik krusial seperti:
- - transformasi digital
- - penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI)
- - kesiapan sumber daya manusia (SDM)
- - efisiensi layanan, serta
- - kepercayaan pasien terhadap inovasi kesehatan
Tujuan utama Philips Future Health Index
- Mengukur sejauh mana sistem layanan kesehatan siap menghadapi tantangan masa depan.
- Menyoroti hambatan operasional, seperti beban administratif tenaga medis dan waktu tunggu pasien.
- Menjadi acuan bagi pemangku kepentingan dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan kesehatan berbasis teknologi.
Baca Juga :
Program SIHREN: Kolaborasi Kemenkes RI & Philips Tingkatkan Akses Perawatan Jantung, Stroke, dan Kanker
Temuan dan fokus utama
1. Pemanfaatan AI: Meneliti bagaimana alat berbasis AI dapat menghemat waktu kerja klinisi, mengurangi stres kerja, dan membantu deteksi dini penyakit.
2. Kesenjangan kepercayaan (trust gap): Mengidentifikasi perbedaan pandangan antara tenaga kesehatan yang cenderung lebih optimis terhadap teknologi baru dibandingkan pasien yang masih membutuhkan kepastian peran dokter secara langsung.
3. Kesiapan SDM dan infrastruktur: Menyoroti pentingnya pelatihan yang memadai bagi tenaga medis serta tata kelola data yang baik agar adopsi teknologi memberikan dampak nyata.
Kamu juga dapat membaca dokumen dan pembaruan riset terbarunya secara langsung melalui Philips Future Health Index.
(Philips – Driving the digital health revolution. Video: Dok. YouTube Philips)
(TIN)