FEATURE

Keajaiban di Hari Ulang Tahun Kedua: Erica van Barneveld dan Perjalanan Hidup yang Belum Usai

Yatin Suleha
Minggu 05 Juli 2026 / 19:48
Ringkasnya gini..
  • Erica van Barneveld adalah seorang perempuan Belanda yang menjadi penyintas Diseksi aorta.
  • Ia mendedikasikan dirinya untuk membagikan kisahnya guna menginspirasi pasien lain.
  • Mendorong inovasi medis (seperti pemanfaatan teknologi pencitraan dan Artificial Intelligence dalam kardiologi).
Jakarta: Tatapan perempuan itu begitu lurus. Hampir tak dapat menduga, apa yang ia rasakan saat saya (dan rekan media lain) melihatnya. Apakah itu tatapan bahagia, atau tatapan sedih? Ataukah.. itu hanya sebuah tatapan daripada arti kebersyukuran yang mendalam.

Hari itu (Kamis, 2 Juli 2026) pukul 11 lewat, Rumah Sakit St. Antonius Hospital di Nieuwegein, Belanda mempertemukan kami (para jurnalis, atas undangan Philips) dengan Erica van Barneveld (53 tahun).

Berbaju loose blouse berwarna soft caramel beige yang senda dengan celananya, siang itu Erica duduk bersama anak-anak serta pasangannya. Di ujung kanan meja, mereka bercakap bersama menunggu momen saat mereka dipersilakan maju.
 

Siang itu, kembali ke 18 Juni 2011



(Momen spesial di mana para jurnalis dan tim Philips bertemu dengan Erica. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Erica berdiri saat dipersilakan. "Nama saya Erica van Barneveld. Usia saya 53 tahun," buka Erica singkat. Sambil kami mendengar dalam bahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris melalui headset.

Ia menuturkan, 15 tahun yang lalu, 18 Juni 2011 semuanya dimulai dengan cara yang paling sederhana. 

Sebuah hari Sabtu yang biasa—hari di mana anak-anaknya berlarian mengejar bola di lapangan, sementara ia berdiri di pinggir lapangan, sambil menikmati segelas anggur dan hangatnya sore musim panas. 

Tidak ada yang tahu bahwa di balik detak jantung yang tampak tenang itu, sebuah bencana sedang menunggu untuk 'meledak'.

"Apa yang sedang terjadi pada saya?" tanya Erica dalam hatinya, saat rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya seperti kepalan tangan raksasa.

"Saya mencoba berjalan ke kamar kecil, tetapi saya bahkan tidak sampai ke sana karena saya jatuh sakit dengan luar biasa," kenang Erica.

Dalam hitungan detik, hidupnya berubah total. 

Dari seorang ibu yang menikmati akhir pekan bersama keluarga, ia mendapati dirinya roboh ke tanah, terperangkap dalam ketidakpastian yang mencekam. 

Apa yang ia kira hanya masalah kesehatan biasa, ternyata adalah diseksi aorta—robekan pada arteri utama tubuh yang secara brutal menghentikan aliran darah ke jantungnya.

(Diseksi aorta adalah kondisi gawat darurat medis yang mengancam jiwa akibat robeknya lapisan dalam dinding aorta (pembuluh darah utama tubuh)).

Itu adalah awal dari sebuah babak hidup yang gelap. Erica sempat dinyatakan henti jantung di meja operasi.
   

Jalan panjang Erica



(Erica membagikan beberapa foto yang sempat ia abadikan saat menjalani pengobatan. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Keluarganya langsung memanggil ambulans menuju Rumah Sakit Nieuwegein. 30 menit kemudian ia sampai dan mendapati seluruh tim medis di rumah sakit ini sudah menunggunya. 

"Mereka semua mengenakan gaun pelindung berwarna biru seperti yang Anda lihat di sini hari ini," ujar Erica.

Ia bilang, "Mereka segera mulai memeriksa saya. Mereka melakukan angiografi koroner (prosedur pencitraan invasif menggunakan sinar-X), dengan pemikiran bahwa mereka mungkin bisa membuka arteri yang tersumbat. Tetapi ternyata itu bukanlah masalahnya sama sekali."

Pertanyaannya menjadi: apa yang sebenarnya salah? "Sementara itu, kondisi saya terus memburuk dengan cepat."

"Akhirnya, saya mengalami henti jantung di meja operasi. Dokter saya segera meminta alat bantu jantung-paru. Mereka harus mencari tahu secepat mungkin apa penyebab hal ini," ungkap Erica lagi.

"Saat itulah mereka menemukan bahwa saya menderita diseksi aorta. Lapisan dalam aorta saya—arteri utama tubuh—telah robek, yang benar-benar menghambat aliran darah ke jantung saya. Itulah penyebabnya."

"Saya segera dilarikan ke ruang operasi jantung terbuka. Para ahli bedah membuat bypass di sekitar bagian aorta saya yang rusak, dan untungnya mereka berhasil melakukan operasi tersebut."

"Setelah operasi, saya menghabiskan tiga hari dalam kondisi koma. Ketika saya bangun, saya tidak bisa melakukan apa pun."

"Saya berbaring di tempat tidur rumah sakit sambil bertanya-tanya, 'Apa yang terjadi pada saya?'"

Ia bilang, "Secara total, saya menghabiskan dua minggu di rumah sakit. Selama waktu itu, Anda tidak tahu bagaimana tubuh Anda akan merespons—atau bahkan apakah Anda akan selamat. Setelah dua minggu, saya diizinkan pulang. Saya ingat berpikir, 'Oke... akhirnya saya akan pulang.'"

"Tetapi saya masih sangat sakit. Tubuh saya menahan banyak cairan, dan saya memiliki empat anak kecil yang tentu saja membutuhkan saya, tetapi saya sama sekali tidak bisa merawat mereka. Jadi, saya harus kembali ke rumah sakit."

"Saat itulah mereka menemukan bahwa jantung saya telah rusak parah akibat serangan jantung tersebut. Fungsi jantung saya telah turun hingga hanya sekitar 20 persen," tuturnya.

"Selain itu, saya mengalami kebocoran katup jantung. Itu berarti saya membutuhkan operasi jantung terbuka lagi. Namun pada kenyataannya, saya terlalu lemah untuk bertahan dari operasi besar lainnya."
 

Erica menolak untuk menyerah



(Bagi Erica, meski harus menempuh setahun rehabilitasi yang melelahkan, dan belajar menerima kerusakan permanen pada jantungnya, Erica memilih untuk tidak menyerah. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Dalam keputusasaan yang hampir menenggelamkannya, muncul secercah cahaya. Dokter Jan van der Heyden menawarkan sebuah jalan keluar yang berisiko: sebuah prosedur eksperimental menggunakan klip untuk memperbaiki katup jantung melalui vena di selangkangan.

Malam sebelum operasi yang direncanakan, ahli kardiologi Jan van der Heyden datang ke tempat tidur saya bersama rekan-rekannya.

Dia berkata: "Erica, kita tidak akan melanjutkan operasi jantung terbuka. Kamu terlalu lemah. Tapi saya mungkin punya pilihan lain."

"Dia memberi tahu saya tentang prosedur baru di mana sebuah klip dapat dipasang pada katup yang bocor melalui vena femoralis di selangkangan. Dia juga menjelaskan bahwa perawatan ini masih dalam tahap penelitian eksperimental."

"Saya bertanya kepadanya, 'Apa kesempatan lain yang saya miliki untuk tetap hidup?'"

"Pada saat itu saya benar-benar hanya bisa duduk di kursi roda."

"Akhirnya, saya harus menunggu beberapa minggu lagi karena perawatannya masih sangat eksperimental. Semuanya masih dalam tahap pengembangan. Dia mengatakan kepada saya bahwa mereka ingin mendapatkan pengalaman terlebih dahulu dengan merawat pasien yang lebih tua. Ketika prosedur tersebut terbukti berhasil, dia kembali kepada saya."

"Dia berkata, 'Erica, kita akan mencobanya.'"

"Jadi, saya dirawat untuk menjalani prosedur tersebut. Jan van der Heyden melakukan tindakan medis itu. Ketika saya bangun setelahnya, dia datang ke tempat tidur saya. Dia tersenyum dan berkata, 'Berhasil.'"
 

Sebuah mukjizat



(Erica menerima bunga dari tim Philips, Kees Verheij. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Saat ia terbangun setelah prosedur itu, sang dokter hanya tersenyum dan berbisik, "Berhasil. Kamu akan bisa berjalan lagi."

Momen itu, saat Erica benar-benar melangkah keluar dari tempat tidur, bukanlah sekadar tindakan fisik. Itu adalah sebuah mukjizat. 

"Saya turun dari tempat tidur... dan saya berjalan. Apa yang dirasakan saat itu... Benar-benar luar biasa," kenang Erica.

Ia berkata, "Tentu saja, itu bukanlah akhir dari perjalanan. Saya menghabiskan satu tahun lagi dalam masa rehabilitasi sebelum saya benar-benar bisa membangun kembali hidup saya dan mengurus anak-anak saya lagi."

"Bagi seluruh keluarga kami, itu adalah masa yang sangat sulit. Namun akhirnya, kami berhasil melaluinya."

Ia melanjutkan, "Setelah itu, saya mulai bekerja sama dengan para ahli kardiologi. Tantangan pertama adalah mengamankan pendanaan untuk penelitian tersebut, karena studi seperti ini membutuhkan investasi yang sangat besar."

"Untungnya, para investor mulai bergabung, sehingga memungkinkan penelitian tersebut untuk terus berlanjut. Bersama dengan tim, saya kemudian berkeliling ke seluruh Belanda untuk menunjukkan kepada ahli kardiologi lain apa saja yang mungkin dilakukan. Bahwa kebocoran katup mitral tidak lagi mengharuskan operasi jantung terbuka—itu juga bisa ditangani melalui selangkangan."

"Itu berarti pasien yang terlalu lemah untuk menjalani operasi besar masih bisa menerima perawatan dan mendapatkan kembali kualitas hidup mereka. Itulah yang kami lakukan. Itu bukanlah perjalanan yang mudah. Setiap pasien harus dievaluasi dengan cermat. Siapa yang harus menerima perawatan tersebut? Siapa yang tidak?"

"Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Saya merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari seluruh perjalanan itu. Hari ini Philips mengundang saya untuk berbagi cerita saya kepada Anda semua. Karena sangatlah penting agar inovasi-inovasi ini terus berlanjut."

"Agar kita terus menemukan cara untuk membantu lebih banyak pasien. Dan sekarang, kita melihat apa yang bisa dikontribusikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence). Saat saya menjalani prosedur tersebut, teknologinya masih dalam tahap awal. Memposisikan klip secara akurat sangatlah sulit karena jantung terus bergerak. Anda baru saja melihatnya sendiri. Segalanya bergerak begitu cepat sehingga menempatkan klip tepat di tempat yang seharusnya sangatlah menantang."

"Dengan teknologi pencitraan dan AI saat ini, para dokter dapat mengidentifikasi lokasi yang optimal dengan jauh lebih akurat," terang Erica. 
 

Kata sang anak, Gert-jan Van Ginkel



("Jadi, saat ini dia (Erica) berdiri di sini, tak ada kata lain yang dapat saya sampaikan kecuali saya benar-benar bersyukur pada semuanya," kata sang anak Gert-jan Van Ginkel dalam kesempatan istimewa sambil mengenang sang ibu 15 tahun yang lalu. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Dalam sesi eksklusif ini, kami para jurnalis dan tim Philips diperlihatkan langsung pada kecanggihan DeviceGuide-nya (Image guided therapy) Philips. 

Bersama melihat langsung operasi di ruang bedah St. Antonius Hospital di Nieuwegein yang mirip seperti Erica, dengan pencitraan yang terus lebih baik agar operasi lebih presisi. 

Di bawah tatapan tajam Dr. Swaans dan Dr. Leo Timmers, kami menjadi saksi sebuah pertarungan hidup dan mati seorang pasien. 

Di dalam ruang kontrol yang senyap maupun di tengah hiruk-pikuk ruang bedah, mereka menantang hukum alam—berpacu dengan waktu untuk menjinakkan detak jantung yang tak henti-hentinya bergerak dengan memposisikan klip secara akurat.

Dan dalam momen sangat istimewa ini, saya menyelipkan satu pertanyaan pada sang anak. 

"Apa yang ingin kamu sampaikan pada ibumu dan juga pada Philips?"

Salah satu anak Erica yaitu Gert-jan Van Ginkel bilang, "Jadi, saat ini dia (Erica) berdiri di sini, tak ada kata lain yang dapat saya sampaikan kecuali saya benar-benar bersyukur pada semuanya."

"Untuk itu kita semuanya di sini. Mengenang kala itu 15 tahun yang lalu, di meja operasi. Seperti yang kita lihat semuanya di sini hari ini."

"Dan itu yang kami jalani 15 tahun yang lalu. Sedikit emosional mengenangnya, dan saat itu (dulu) saya berdiri di sebelah bed-nya," tutur Gert-jan Van Ginkel.

Bagi Erica, meski harus menempuh setahun rehabilitasi yang melelahkan, dan belajar menerima kerusakan permanen pada jantungnya, Erica memilih untuk tidak menyerah.

Kini, 15 tahun telah berlalu. Tanggal 18 Juni, tidak lagi hanya menandai hari di mana ia hampir kehilangan segalanya, melainkan hari ulang tahun keduanya.

"Saya selalu berusaha fokus pada apa yang bisa saya lakukan, alih-alih apa yang tidak bisa saya lakukan," ujar Erica dengan bijak.
   

Peluk luka dengan cinta



(Saat ini Erica berprofesi menjadi Allround Master Hair & Colorstylist di Markanti Hair. Foto: Dok. Markanti Hair)

Kisah Erica bukanlah sekadar catatan keberhasilan medis atau dinginnya kecanggihan AI di ruang kardiologi.

Ini adalah elegi tentang ketabahan seorang ibu yang retak namun tak hancur, sebuah pengingat getir tentang arti Carpe Diem yang kita lupakan saat kita merasa abadi.

Ini tentang bagaimana sisa-sisa harapan dan pola pikir positif menjadi satu-satunya obat saat dunia di sekitar kita runtuh menjadi puing-puing kesedihan.

Bagi Erica van Barneveld, sore di lapangan bola tahun 2011 itu adalah batas antara 'dulu' yang indah dan 'sekarang' yang penuh perjuangan. 

Meski hatinya kini menyimpan parut permanen dan iramanya tak lagi sama, ia telah memeluk luka itu dengan cinta yang tak terhingga.

Ia adalah bukti bahwa saat hidup mencuri kesempurnaan kita, kita masih punya cukup kekuatan untuk merayakan setiap embusan napas yang tersisa, meski di tengah duka yang tak pernah benar-benar pergi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH