FEATURE

Bukan Sekadar Angka, Ini Fondasi Utama untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Yatin Suleha
Sabtu 27 Juni 2026 / 21:49
Ringkasnya gini..
  • Tingginya suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik, dinilai menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia.
  • Dalam kondisi tersebut, penguatan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan kepastian investasi menjadi faktor penting.
  • Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sangat ditentukan oleh produktivitas, yang didukung kualitas modal, tenaga kerja, teknologi, dan efisiensi produksi.
Jakarta: Tingginya suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik, dinilai menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia.

Dalam kondisi tersebut, penguatan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan kepastian investasi menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Kenaikan suku bunga di negara-negara maju berpotensi mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Secara keseluruhan tingkat suku bunga negara-negara maju naik. Artinya ada tekanan di pasar keuangan Indonesia karena modal cenderung mengalir ke negara yang menawarkan tingkat suku bunga lebih tinggi," ujar Denni Puspa Purbasari, Chief Economist Indonesian Business Council dalam wawancara dengan Tim Medcom.id di Kantor IBC Sequis Center, Jakarta, Jum'at (19/06/26).
 
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sangat ditentukan oleh produktivitas, yang didukung kualitas modal, tenaga kerja, teknologi, dan efisiensi produksi.

"Yang bisa meningkatkan pertumbuhan output dalam jangka panjang adalah produktivitas, baik dari modal, tenaga kerja, maupun teknologi dan efisiensi produksinya," katanya.

Selain itu, kepastian hukum, transparansi, serta kolaborasi sektor publik dan swasta, juga diperlukan untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional.
 

Kesenjangan pertumbuhan dan realitas masyarakat


Denni menilai masih terdapat kesenjangan, antara pertumbuhan ekonomi nasional dan kondisi yang dirasakan masyarakat. Hal itu terlihat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang lebih tinggi dibanding kenaikan upah riil pekerja.

"Saya juga mengamati adanya gap ini. Jika konsumsi tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan daya beli pekerja, berarti ada kelompok tertentu yang pertumbuhannya jauh lebih tinggi dari rata-rata," jelasnya.

Ia juga menyoroti laporan Bank Dunia yang menunjukkan penurunan upah riil pekerja berketerampilan menengah dan tinggi, serta menyusutnya kelompok kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir. 


(Denni Puspa Purbasari, Chief Economist Indonesian Business Council. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menghasilkan pekerjaan, yang produktif dan berpenghasilan tinggi.

IBC memperkenalkan konsep 3C, yaitu Certainty, Capability, dan Capital sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

"Pertumbuhan ekonomi membutuhkan modal. Modal akan datang apabila terdapat kepastian, serta kemampuan dari manusia dan perusahaan yang ada di dalamnya," ujar Denni.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan energi di tengah risiko geopolitik global. 

Konflik di Timur Tengah, menurutnya, sempat meningkatkan biaya operasional perusahaan, terutama sektor petrokimia yang bergantung pada minyak sebagai bahan baku.

"Perusahaan petrokimia menjadi salah satu sektor yang paling terdampak, karena minyak bukan hanya digunakan sebagai bahan bakar, tetapi juga sebagai bahan baku produksi," katanya.

Untuk mengurangi ketergantungan pada minyak, Denni mengusulkan pembangunan Strategic Petroleum Reserve (SPR), percepatan penggunaan energi terbarukan, serta penguatan konservasi energi.

"Kita perlu membangun cadangan strategis energi, melakukan konversi ke energi terbarukan, dan menerapkan konservasi agar ketahanan energi nasional semakin kuat," ujarnya.

 

Generasi muda harus adaptif


Menutup pemaparannya, Denni menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi di tengah perubahan teknologi, ekonomi hijau, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

"Skill yang dibutuhkan adalah kemampuan beradaptasi, kemampuan mengelola diri, dan kemampuan untuk terus belajar sepanjang hidup," kata Denni.

Ia menilai keterampilan digital, pemahaman ekonomi hijau, serta kemampuan yang berpusat pada manusia akan semakin dibutuhkan di masa depan. 

Menurutnya, disiplin, ketahanan mental, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal utama, agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.


Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH