Adelia Rifani: 'Ayah, Jemput Aku Ya... Tinggal 1 Stasiun Lagi...'
- Malam itu area Stasiun Bekasi Timur yang biasanya penuh dengan hiruk-pikuk keberangkatan dan kepulangan tiba-tiba saja diselimuti kepanikan.
- Dan malam itu salah satu yang pergi adalah Adelia Rifani (26 tahun).
- Kalimat terakhir Adelia Rifani yang kini menjadi gema paling sunyi di telinga sang Ayah.
Tak disangka, satu bagian belakang dari rangkaian KRL dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur terhantam keras oleh Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta-Surabaya yang tidak sempat berhenti sepenuhnya.
Seketika suasana berubah. Jeritan besi yang bergesekan dengan besi menciptakan suara yang memekakkan telinga.
Dalam sekejap, gravitasi seolah hilang; tubuh-tubuh terlempar, barang-barang berhamburan, dan kaca-kaca jendela pecah berkeping-keping menjadi butiran tajam yang terbang di udara.
Dan malam itu salah satu yang pergi adalah Adelia Rifani (26 tahun).
Cerita paman Adelia
.jpeg)
(Pak Ibhe menunjukkan foto almarhumah saat lulus dari Program Studi Geofisika Universitas Brawijaya Malang. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Malam ini (29/2/2026) secara tak sengaja, tim Medcom yang sedang makan malam, duduk di samping Pak Ibhe, paman Adelia.
Berawal dari obrolan tentang kejadian tersebut, ternyata Pak Ibhe (karyawan swasta/50) yang juga sedang makan malam di Nasi Uduk Bang Opie, Depok mengutarakan ceritanya tentang Almarhum Adelia.
Ia bilang, Lebaran (Maret) kemarin baru ketemu. Seperti biasa seluruh keluarga bersilahturahmi. Sehingga momen keluarga besar bertemu satu sama lain menjadi ajang istimewa.
Ia bilang kemarin (saat kejadian) banyak sekali diwawancara oleh berbagai media beberapa kali-mewakili ayah almarhum, Rusli yang sudah lelah dan masih dalam kondisi syok.
"Kemarin banyak banget yang wawancara saya, karena kan bapaknya almarhum capek ya dan juga masih (dalam kondisi) syok," ujarnya pada tim Medcom.id.
Bersweater abu-abu, Pak Ibhe bertutur bahwa malam itu (27/4), ia dan keluarga sudah tahu ada kejadian tabrakan di Stasiun Bekasi Timur lewat pemberitaan di televisi, namun ia tak menyangka bahwa salah satu korbannya adalah keponakannya sendiri.
"Malam itu tau, kan liat di berita kalau ada kereta tabrakan. Tapi kan kita enggak tau kalau bakal ada korban sodara ya," beber lelaki berkacamata ini.
'Ke mana Adelia, kok gak pulang-pulang??'
.jpeg)
(Pak Ibhe menunjukkan nama-nama korban yang ia terima di handphonenya. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Ia bilang keluarga awalnya hanya heran, sudah jam 10-an malam, Adelia tak juga memberikan kabar. Padahal tepat pukul 8-an tadi, Adelia memberikan kabar di WhatsApp sang ayah.
"'Ayah, jemput aku ya... tinggal 1 stasiun lagi...' kata Adelia ke WA bapaknya tuh.. Sambil ada fotonya kan pake baju pink," ujar Pak Ibhe.
"Di pintu tuh (berdirinya), (pake) baju pink," lanjut Pak Ibhe.
"Biasanya saya jemput. Malam itu sudah siap-siap, tapi sampai sekitar jam setengah 10 tidak ada kabar," ujar ayah korban dengan nada lirih di kediamannya, seperti dilansir Antara, Selasa, 28 April 2026.
Setelah keluarga merasa gusar karena Adelia tak jua berkabar, keluarga menganjurkan untuk mencoba sama-sama mencari mulai dari Stasiun Bekasi Timur hingga menyisir ke berbagai rumah sakit di sekitaran Stasiun Bekasi Timur.
Tiba di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur, Pak Ibhe bilang awalnya kakaknya menelepon keluarga.
"Masih nyari terus kan gak ada namanya, dibilang udah meninggal, tapi kan gak dikirim fotonya, hanya nulis aja. Kita kan (keluarga) penasaran ya, dari pihak rumah sakit juga gak kirim foto," ujar Pak Ibhe.
"(Mungkin) udah syok ya kakaknya, jadinya juga gak sempet foto-foto juga. Tapi, kenalin ciri-cirinya, itu baju pink. Karena emang sebelumnya udah kirim foto (waktu di dekat pintu KRL). Itu yang clue-nya tuh di situ tuh, dia (Adelia) kirim foto," kenang Pak Ibhe.
Dengan rasa hampir tak percaya, Pak Ibhe menghela napas panjang. Penuturan Pak Ibhe, ingatan mereka hanya tertuju pada satu titik: baju merah muda.
Foto yang sempat dikirimkan Adelia di dekat pintu KRL menjadi penanda terakhir—sebuah kabar "aku baik-baik saja" yang berubah menjadi luka abadi hanya dalam hitungan menit.
Harapan Pak Ibhe
.jpeg)
(Pak Ibhe memperlihatkan status duka yang dishare di dalam WhatsApp keluarga besarnya. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Kepergian keponakannya merupakan kehilangan yang teramat sunyi, menyisakan ruang hampa yang tak akan pernah bisa diisi kembali oleh apa pun.
Sulit untuk menerima kenyataan bahwa senyum tulus yang baru kemarin menyapa, kini sudah berubah menjadi kenangan abadi yang hanya bisa didekap dalam doa-doa panjang di setiap sujud.
Ia bilang, "Kejadian itu kan memang udah takdir ya, tapi sebenarnya kalau menurut saya sih, itu harusnya bisa dihindarin. Ke depannya sih, kalau saya sih secara pribadi mungkin umum juga, gak ada lagi korban lah."
"Kejadian ini mungkin, semoga yang terakhir. Itu aja sih, udah gak ada lagi," pungkas Pak Ibhe.
Sang paman menggambarkan bahwa semasa hidup Adelia adalah sosok yang pandai bergaul. Ia bilang banyak dari teman-temannya datang ke rumah keluarga Adelia untuk bertakziah.
Almarhumah yang lulusan program studi Geofisika Universitas Brawijaya Malang itu juga baru empat bulan bekerja di PT Ivonesia Solusi Data, memulai langkah awal sebagai pekerja di kawasan metropolitan Jakarta.
Adelia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, putri pasangan Arni Ramlah dan Haerusli. Almarhumah baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-26 tanggal 22 kemarin.
Kini, tidak ada lagi dering kata-kata di pesan atau telepon yang ditunggu. Bagi Pak Ibhe, kepergian keponakannya merupakan sebuah kehilangan yang terlalu tiba-tiba, menyesakkan dan teramat dalam.
Di atas rel Bekasi Timur yang kini kembali sibuk, duka itu seolah membeku, meninggalkan sebuah cerita yang terhenti sebelum waktunya.
Meski kereta-kereta lain akan tetap melintas dan membawa ribuan orang pulang, bagi keluarga yang ditinggalkan, waktu seakan berhenti di malam itu—saat sebuah pelukan hangat harus berganti menjadi kenangan pahit yang tak pernah mereka inginkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)