FEATURE

Definisi Glow Up Jalur Prestasi: Kisah Ilmuwan Dunia yang Mulai Riset Kombucha

Yatin Suleha
Selasa 02 Juni 2026 / 13:20
Ringkasnya gini..
  • Tahun lalu, Kayla berdiri di depan para akademisi dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan The NorthCap University, India
  • Mempresentasikan risetnya tentang perban berbahan dasar SCOBY, lapisan selulosa dari fermentasi kombucha.
  • Ssebagai alternatif bahan pembalut luka yang berkelanjutan.
Jakarta: Kayla pertama kali menginjakkan kaki di Binus School Simprug ketika ia masih cukup kecil untuk belum tahu apa itu olimpiade, apalagi jurnal ilmiah internasional. 

Itu 15 tahun lalu. Tahun lalu, ia berdiri di depan para akademisi dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan The NorthCap University, India, mempresentasikan risetnya tentang perban berbahan dasar SCOBY, lapisan selulosa dari fermentasi kombucha, sebagai alternatif bahan pembalut luka yang berkelanjutan.

SCOBY adalah singkatan dari Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast, yaitu koloni gabungan antara bakteri baik dan ragi yang hidup berdampingan.
 
SCOBY merupakan bahan utama atau "biang" yang digunakan untuk memfermentasi larutan teh manis menjadi minuman kombucha yang kaya akan probiotik.

Riset itu bukan sekadar proyek sekolah. Makalahnya, “Chitosan-Guar Gum Coated SCOBY Bacterial Cellulose As A Potential Material For Sustainable Wound Dressing”, dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Sciences. 

Proyek yang sama membawanya meraih Global Youth Action Fund Grant senilai USD 2.500, sebuah hibah kompetitif yang biasanya diperuntukkan bagi anak-anak muda dengan gagasan yang benar-benar layak diwujudkan.

Kayla bukan hanya seorang peneliti. Di koridor yang sama tempat ia tumbuh selama satu setengah dekade, ia juga pernah menjadi Presiden OSIS, Deputy Secretary-General Model United Nations, dan Director di Summit of Talented Young Leaders. 

Di luar sekolah, namanya muncul di papan hasil berbagai kompetisi internasional: medali emas dan perak dari World Scholar’s Cup di tingkat global dan regional, medali dari World Mathematics Invitational, Singapore and Asian Schools Math Olympiad, American Math Olympiad, hingga penghargaan esai dari Oxbright di kategori Biologi. 

Ia juga tercatat sebagai Top Scorer Indonesia dalam ICAS English, dan meraih Distinction di ICAS Science, masuk dalam sembilan persen teratas peserta se-Indonesia.


(Kepala Sekolah Binus School Simprug, Isaac Koh, menyampaikan, bahwa pencapaian ini adalah cerminan kerja keras seluruh ekosistem pendidikan, para siswa yang berdedikasi, orang tua yang mendukung penuh, dan para pendidik yang tidak pernah berhenti berinovasi. Foto: Dok. Istimewa) 

“Saya lebih banyak fokus pada kompetisi akademis, tetapi di sini (Binus School Simprug) saya juga dapat mengeksplor lebih banyak bidang disiplin lain di luar akademis, seperti Singing Club atau tarian tradisional. Selama 15 tahun dari TK, SD, SMP, hingga SMA, saya didorong untuk berkembang secara holistik,” ungkap Kayla.

Yang menarik dari perjalanan Kayla bukan semata daftarnya yang panjang, melainkan benang merahnya: ia konsisten mendalami apa yang ia minati, dan dari kedalaman itulah berbagai pencapaian tumbuh. 

Inilah yang coba difasilitasi Binus School Simprug lewat peran guru-gurunya yang secara aktif mendukung siswa-siswinya untuk tumbuh dan berkembang. 

Ekosistem yang dibangun menghasilkan pendekatan yang memberi ruang bagi setiap siswa untuk mengeksplorasi dan membangun identitas akademis maupun non akademik secara personal.

Kayla adalah salah satu dari mereka. Angkatan 2026 Binus School Simprug mencatat bahwa 90% lulusannya diterima di perguruan tinggi luar negeri, tersebar ke universitas-universitas di Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Belanda, Singapura, dan berbagai negara lainnya.

Angka itu tidak berdiri sendiri. Binus School Simprug menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB) secara penuh, dari Early Years hingga IB Diploma Programme (IBDP) di jenjang akhir. 

IBDP diakui oleh lebih dari 2.000 universitas di seluruh dunia, dan dikenal bukan hanya karena standar akademisnya, tetapi karena ia menuntut siswa menulis riset independen, berpikir lintas disiplin, dan memahami etika keilmuan. Bagi banyak universitas luar negeri, lulusan IBDP datang dengan modal yang berbeda.

Kepala Sekolah Binus School Simprug, Isaac Koh, menyampaikan, bahwa pencapaian ini adalah cerminan kerja keras seluruh ekosistem pendidikan, para siswa yang berdedikasi, orang tua yang mendukung penuh, dan para pendidik yang tidak pernah berhenti berinovasi.

“Di Binus School Simprug, kami percaya bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang perlu dipupuk dengan lingkungan belajar yang tepat."

"Dengan kurikulum IB yang kami jalankan secara konsisten dari Early Years hingga IBDP, ditambah Journeys Programme yang memungkinkan siswa mengeksplorasi passion mereka secara mendalam, kami tidak hanya mempersiapkan mereka untuk diterima di universitas terbaik, kami mempersiapkan mereka untuk berkembang di sana,” ungkap Isaac.
 
Beberapa universitas terbaik di luar negeri yang berhasil ditembus siswa Binus School Simprug di antaranya adalah University of College London (UCL), The University of Hong Kong, University of Melbourne, UNSW Sydney, King's College London, University of Toronto, McGill University, University of Sydney, dan University of Warwick.

Binus School Simprug juga mencatat bahwa sejumlah lulusan berhasil memperoleh beasiswa dari universitas tujuan mereka, baik berbasis prestasi akademis, kepemimpinan, maupun kontribusi sosial. 

Hal ini membuktikan bahwa kualitas lulusan Binus School Simprug tidak hanya diakui secara akademis, tetapi diapresiasi secara menyeluruh oleh institusi pendidikan internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH