FITNESS & HEALTH

Transformasi RS Makin Ngebut, Riset Philips Future Health Index 2026 Buktikan Power-nya AI

Yatin Suleha
Selasa 08 September 2026 / 16:11
Ringkasnya gini..
  • Manfaat AI bakal makin terasa kalau diintegrasikan langsung ke dalam alur kerja harian tenaga kesehatan.
  • Lewat bantuan teknologi ini, nakes bisa mengambil keputusan klinis yang lebih cepat dan tepat.
  • Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, juga menyampaikan teknologi hadir sebagai penunjang yang memperkuat kemampuan klinis.
Jakarta: Manfaat AI bakal makin terasa kalau diintegrasikan langsung ke dalam alur kerja harian tenaga kesehatan, terutama buat memangkas berbagai kerepotan administratif.

Lewat bantuan teknologi ini, nakes bisa mengambil keputusan klinis yang lebih cepat dan tepat. Hasilnya, mereka punya waktu lebih banyak buat fokus berinteraksi dan merawat pasien secara personal.

Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, juga menyampaikan kalau teknologi hadir sebagai penunjang yang memperkuat kemampuan klinis. 
 
Walau AI makin canggih, dokter dan nakes tetap memegang kendali penuh dalam mengambil keputusan serta memberikan pelayanan terbaik bagi pasien.

“Bagi Siloam, peluangnya bukan sekadar menerapkan lebih banyak teknologi, tetapi mempercepat transformasi Siloam menuju Hospital of the Future yang selalu berfokus pada hasil klinis dan outcome terbaik bagi pasien," ujar David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals.

"Untuk memperluas penerapan AI secara luas dan bertanggung jawab, dibutuhkan kepemimpinan klinis yang kuat, data yang tepercaya dan saling terhubung, tata kelola yang jelas, serta kolaborasi erat di seluruh ekosistem kesehatan,” tambah David.
 

Manfaat AI dalam layanan kesehatan


[FHI 2026 Media Briefing] Foto 3 (3)
(AI tingkatkan efisiensi nakes dan kualitas layanan kesehatan Indonesia menuju masa depan. Foto: Dok. Philips)

Kehadiran AI terbukti dirasakan langsung manfaatnya oleh tenaga kesehatan di Indonesia, terutama buat meningkatkan efisiensi kerja dan kualitas pelayanan.

- Sebanyak 88% nakes di Indonesia merasa alur kerja jadi jauh lebih efisien, angka ini lumayan tinggi kalau dibandingin rata-rata global yang cuma 71%.

- Soal kecepatan, 87% nakes bilang akses ke hasil diagnosis jadi lebih cepat, dan 82% nakes merasa pengambilan keputusan medis jadi jauh lebih cepat.

- Sebanyak 75% nakes juga terbantu banget sama kemudahan akses data pasien yang udah terintegrasi antar tim medis, jauh di atas angka global yang cuma 57%.

- Efek positifnya langsung kerasa ke kapasitas pelayanan, di mana 69% nakes bisa melayani lebih banyak pasien—rata-rata nambah sekitar 4 pasien baru tiap minggunya.

- Dari sisi manajemen waktu, hampir 6 dari 10 nakes berhasil menghemat waktu minimal 88 jam per tahun, yang setara dengan lebih dari dua minggu kerja penuh.

- Dampak nyatanya, 67% nakes merasa work-life balance mereka makin membaik, stres berkurang, dan jadi lebih jarang lembur atau bawa kerjaan pulang ke rumah.

- Sebanyak 81% nakes juga optimis kalau AI bisa jadi solusi buat mempersempit jurang kesenjangan layanan kesehatan di berbagai wilayah Indonesia.

- Manfaat finansial awal juga mulai terlihat. Di kalangan pemimpin institusi layanan kesehatan Indonesia, 43% melaporkan penghematan anggaran berkat penerapan AI, dibandingkan dengan 34% secara global, sementara 69% mengatakan manfaat dari investasi terhadap AI yang mereka lakukan telah memenuhi bahkan melampaui biayanya. 
   

AI dalam kesehatan masuki babak baru


Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan bahwa diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. 

Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien. 

“Prioritas kita saat ini adalah memastikan manfaat awal tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan," jelas Astri Ramayanti.

"Untuk itu, AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan," tutur Astri. 

Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa inovasi dan tanggung jawab dapat berjalan beriringan. 

“AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan."

"Pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga klinis, akademisi, dan mitra teknologi memiliki peran masing-masing dalam membangun infrastruktur yang terhubung, kapabilitas tenaga kerja, serta berbagai langkah perlindungan yang diperlukan untuk beralih dari penerapan AI dalam praktik menuju penerapan AI dalam skala luas dan menghadirkan layanan yang lebih baik bagi lebih banyak orang.” 


(Philips Dorong Transformasi Industri Kesehatan Lewat Teknologi AI #CoorporateUpdate. Video: Dok. YouTube Metro TV)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH