FAMILY
Anak PJJ, Orang Tua Ikut Stres? Ini Cara Mengatasinya
A. Firdaus
Selasa 08 September 2026 / 10:15
- Anak menjalani PJJ dan orang tua ikut stres?
- 71 persen orang tua menyebut pengelolaan pembelajaran jarak jauh atau online anak sebagai sumber stres yang signifikan.
- UNICEF mengingatkan bahwa anak dapat menangkap kondisi emosional orang tua dan bereaksi terhadap stres yang mereka lihat di rumah.
Jakarta: Terkait adanya Erupsi Gunung Anak Krakatau, banyak sekolah di Jabodetabek menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Bagi para orang tua, mendampingi anak menjalani PJJ bukan perkara mudah. Orang tua tak hanya perlu memastikan tugas sekolah selesai, tetapi juga harus membagi waktu dengan pekerjaan, urusan rumah, hingga kebutuhan anggota keluarga lainnya.
Tak heran jika rutinitas tersebut bisa membuat orang tua merasa kewalahan. Bahkan, survei American Psychological Association (APA) pada masa pembelajaran daring menemukan 71 persen orang tua menyebut pengelolaan pembelajaran jarak jauh atau online anak sebagai sumber stres yang signifikan.
Di sisi lain, stres orang tua juga bisa ikut dirasakan anak. United Nations Children's Fund (UNICEF) mengingatkan bahwa anak dapat menangkap kondisi emosional orang tua dan bereaksi terhadap stres yang mereka lihat di rumah.
Karena itu, menjaga kondisi diri sendiri bukan berarti orang tua mengabaikan anak. Justru, orang tua yang lebih tenang akan lebih mampu mendampingi anak melewati aktivitas belajar di rumah.
Pertama, turunkan sedikit ekspektasi. PJJ bukan berarti orang tua harus berubah menjadi guru yang menguasai semua mata pelajaran.
Jika anak mengalami kesulitan memahami materi, orang tua bisa membantu sebatas kemampuan dan menghubungi guru jika membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
UNICEF menyarankan adanya komunikasi yang baik antara keluarga dan guru agar orang tua memperoleh dukungan serta umpan balik yang jelas selama proses pembelajaran dari rumah.
Jadi, tidak perlu merasa bersalah ketika tidak bisa langsung menjawab semua pertanyaan anak.
Belajar dari rumah tanpa jadwal yang jelas bisa membuat hari terasa berantakan. Anak tidak tahu kapan waktunya belajar, bermain, makan, atau beristirahat. Orang tua pun akhirnya ikut kewalahan.
Cobalah membuat rutinitas harian yang sederhana dan fleksibel. Misalnya, menentukan waktu belajar, istirahat, makan, bermain, dan menyelesaikan pekerjaan rumah.
UNICEF merekomendasikan rutinitas yang konsisten tetapi tetap fleksibel, termasuk menyediakan waktu untuk aktivitas terstruktur dan waktu bebas.
Tidak harus membuat jadwal superketat. Yang penting, orang tua dan anak tahu apa yang perlu dilakukan sepanjang hari.
Anak bukan satu-satunya yang membutuhkan jeda. Orang tua juga perlu mendapat waktu istirahat.
Jika terus menerus mendampingi anak tanpa jeda, rasa lelah bisa menumpuk dan membuat emosi lebih mudah terpancing.
Buat kesepakatan sederhana. Misalnya, setelah satu sesi belajar selesai, anak boleh beristirahat atau melakukan aktivitas lain sementara orang tua menyelesaikan pekerjaan.
Untuk anak yang lebih besar, orang tua juga bisa mendorong mereka menyelesaikan bagian tugas yang mampu dikerjakan sendiri.
Merasa kewalahan bukan berarti gagal menjadi orang tua.
Jika pekerjaan rumah, pekerjaan kantor, dan pendampingan PJJ terasa terlalu berat, coba bagi tugas dengan pasangan atau anggota keluarga lain.
UNICEF juga menyarankan orang tua mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk berbicara mengenai perasaan dan tekanan yang sedang dialami. Dukungan sosial dapat membantu orang tua menghadapi situasi penuh tekanan.
Kadang, sekadar punya seseorang untuk diajak cerita sudah cukup membantu.
Ada kalanya tugas anak belum selesai, koneksi internet bermasalah, sementara pekerjaan orang tua juga menumpuk. Rasanya ingin marah? Tidak apa-apa merasa kesal.
Namun, ketika emosi mulai meningkat, jangan langsung melampiaskannya kepada anak.
UNICEF menyarankan orang tua mengambil jeda ketika merasa stres. Salah satu caranya adalah melakukan latihan relaksasi singkat, termasuk mengatur pernapasan.
Cukup berhenti sebentar, tarik napas perlahan, lalu keluarkan secara perlahan. Beri diri sendiri waktu beberapa menit sebelum kembali mendampingi anak.
Orang tua memang ingin membantu anak. Tetapi bukan berarti semua masalah harus diselesaikan orang tua.
Menurut APA, orang tua dapat membantu anak membangun kemampuan menghadapi stres dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan masalah sederhana sendiri. Hal tersebut dapat membantu anak membangun rasa percaya diri dan kemampuan menghadapi tantangan.
Misalnya, ketika anak kesulitan mengerjakan soal, jangan langsung memberikan jawabannya.
Coba tanyakan, "Menurut kamu, bagian mana yang paling sulit?" atau "Coba kita lihat lagi, kamu sudah tahu bagian yang mana?"
Dengan begitu, anak tetap mendapatkan dukungan tanpa sepenuhnya bergantung kepada orang tua.
PJJ bisa membuat proses belajar terasa berbeda. Anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi atau kehilangan konsentrasi karena suasana rumah tidak sama dengan sekolah.
UNICEF menyarankan orang tua memberikan dukungan emosional, mendengarkan kesulitan anak, serta memberikan apresiasi terhadap usaha dan pencapaiannya.
Jadi, daripada hanya bertanya "Nilaimu berapa?", sesekali tanyakan "Hari ini bagian mana yang paling kamu suka?"
Percakapan seperti ini bisa membuat suasana belajar terasa lebih ringan.
Ini yang sering terlupakan: orang tua juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
UNICEF menyarankan orang tua mengambil jeda dan melakukan aktivitas yang menyenangkan atau menenangkan ketika memiliki kesempatan. Merawat diri bukan tindakan egois, tetapi bagian dari menjaga kemampuan untuk mendukung anak.
Tidak perlu aktivitas yang rumit. Minum kopi atau teh dengan tenang, membaca buku, berjalan sebentar, mendengarkan musik, atau sekadar duduk tanpa mengerjakan apa pun selama beberapa menit juga bisa menjadi bentuk self-care.
Jangan hanya membicarakan tugas sekolah.
Luangkan waktu untuk bertanya bagaimana perasaan anak selama menjalani PJJ. Apakah ia merasa bosan, kesulitan mengikuti pelajaran, rindu teman-teman, atau justru menikmati belajar dari rumah?
UNICEF menekankan pentingnya mendengarkan anak dengan empati dan memberikan ruang aman bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan.
Dengan begitu, orang tua bisa mengetahui apakah masalah anak sebenarnya soal pelajaran atau justru berkaitan dengan kondisi emosionalnya.
Stres sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, jika tekanan terasa terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan abaikan.
Orang tua dapat berbicara dengan dokter, psikolog, konselor, atau tenaga profesional kesehatan mental untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.
Pada akhirnya, mendampingi anak PJJ bukan perlombaan menjadi orang tua paling sempurna. Anak lebih membutuhkan orang tua yang hadir, mau mendengarkan, dan mampu menjaga dirinya sendiri.
(FIR)
Bagi para orang tua, mendampingi anak menjalani PJJ bukan perkara mudah. Orang tua tak hanya perlu memastikan tugas sekolah selesai, tetapi juga harus membagi waktu dengan pekerjaan, urusan rumah, hingga kebutuhan anggota keluarga lainnya.
Tak heran jika rutinitas tersebut bisa membuat orang tua merasa kewalahan. Bahkan, survei American Psychological Association (APA) pada masa pembelajaran daring menemukan 71 persen orang tua menyebut pengelolaan pembelajaran jarak jauh atau online anak sebagai sumber stres yang signifikan.
Di sisi lain, stres orang tua juga bisa ikut dirasakan anak. United Nations Children's Fund (UNICEF) mengingatkan bahwa anak dapat menangkap kondisi emosional orang tua dan bereaksi terhadap stres yang mereka lihat di rumah.
Karena itu, menjaga kondisi diri sendiri bukan berarti orang tua mengabaikan anak. Justru, orang tua yang lebih tenang akan lebih mampu mendampingi anak melewati aktivitas belajar di rumah.
1. Jangan Menuntut Diri Harus Sempurna
Pertama, turunkan sedikit ekspektasi. PJJ bukan berarti orang tua harus berubah menjadi guru yang menguasai semua mata pelajaran.
Jika anak mengalami kesulitan memahami materi, orang tua bisa membantu sebatas kemampuan dan menghubungi guru jika membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
UNICEF menyarankan adanya komunikasi yang baik antara keluarga dan guru agar orang tua memperoleh dukungan serta umpan balik yang jelas selama proses pembelajaran dari rumah.
Jadi, tidak perlu merasa bersalah ketika tidak bisa langsung menjawab semua pertanyaan anak.
2. Buat Rutinitas yang Fleksibel
Belajar dari rumah tanpa jadwal yang jelas bisa membuat hari terasa berantakan. Anak tidak tahu kapan waktunya belajar, bermain, makan, atau beristirahat. Orang tua pun akhirnya ikut kewalahan.
Cobalah membuat rutinitas harian yang sederhana dan fleksibel. Misalnya, menentukan waktu belajar, istirahat, makan, bermain, dan menyelesaikan pekerjaan rumah.
UNICEF merekomendasikan rutinitas yang konsisten tetapi tetap fleksibel, termasuk menyediakan waktu untuk aktivitas terstruktur dan waktu bebas.
Tidak harus membuat jadwal superketat. Yang penting, orang tua dan anak tahu apa yang perlu dilakukan sepanjang hari.
3. Pisahkan Waktu Belajar dan Waktu Istirahat
Anak bukan satu-satunya yang membutuhkan jeda. Orang tua juga perlu mendapat waktu istirahat.
Jika terus menerus mendampingi anak tanpa jeda, rasa lelah bisa menumpuk dan membuat emosi lebih mudah terpancing.
Buat kesepakatan sederhana. Misalnya, setelah satu sesi belajar selesai, anak boleh beristirahat atau melakukan aktivitas lain sementara orang tua menyelesaikan pekerjaan.
Untuk anak yang lebih besar, orang tua juga bisa mendorong mereka menyelesaikan bagian tugas yang mampu dikerjakan sendiri.
4. Jangan Ragu Meminta Bantuan
Merasa kewalahan bukan berarti gagal menjadi orang tua.
Jika pekerjaan rumah, pekerjaan kantor, dan pendampingan PJJ terasa terlalu berat, coba bagi tugas dengan pasangan atau anggota keluarga lain.
UNICEF juga menyarankan orang tua mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk berbicara mengenai perasaan dan tekanan yang sedang dialami. Dukungan sosial dapat membantu orang tua menghadapi situasi penuh tekanan.
Kadang, sekadar punya seseorang untuk diajak cerita sudah cukup membantu.
5. Ambil Jeda Saat Mulai Emosi
Ada kalanya tugas anak belum selesai, koneksi internet bermasalah, sementara pekerjaan orang tua juga menumpuk. Rasanya ingin marah? Tidak apa-apa merasa kesal.
Namun, ketika emosi mulai meningkat, jangan langsung melampiaskannya kepada anak.
UNICEF menyarankan orang tua mengambil jeda ketika merasa stres. Salah satu caranya adalah melakukan latihan relaksasi singkat, termasuk mengatur pernapasan.
Cukup berhenti sebentar, tarik napas perlahan, lalu keluarkan secara perlahan. Beri diri sendiri waktu beberapa menit sebelum kembali mendampingi anak.
6. Biarkan Anak Belajar Memecahkan Masalah
Orang tua memang ingin membantu anak. Tetapi bukan berarti semua masalah harus diselesaikan orang tua.
Menurut APA, orang tua dapat membantu anak membangun kemampuan menghadapi stres dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan masalah sederhana sendiri. Hal tersebut dapat membantu anak membangun rasa percaya diri dan kemampuan menghadapi tantangan.
Misalnya, ketika anak kesulitan mengerjakan soal, jangan langsung memberikan jawabannya.
Coba tanyakan, "Menurut kamu, bagian mana yang paling sulit?" atau "Coba kita lihat lagi, kamu sudah tahu bagian yang mana?"
Dengan begitu, anak tetap mendapatkan dukungan tanpa sepenuhnya bergantung kepada orang tua.
7. Jangan Jadikan Nilai sebagai Satu-satunya Ukuran
PJJ bisa membuat proses belajar terasa berbeda. Anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi atau kehilangan konsentrasi karena suasana rumah tidak sama dengan sekolah.
UNICEF menyarankan orang tua memberikan dukungan emosional, mendengarkan kesulitan anak, serta memberikan apresiasi terhadap usaha dan pencapaiannya.
Jadi, daripada hanya bertanya "Nilaimu berapa?", sesekali tanyakan "Hari ini bagian mana yang paling kamu suka?"
Percakapan seperti ini bisa membuat suasana belajar terasa lebih ringan.
8. Sisihkan Waktu untuk Diri Sendiri
Ini yang sering terlupakan: orang tua juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
UNICEF menyarankan orang tua mengambil jeda dan melakukan aktivitas yang menyenangkan atau menenangkan ketika memiliki kesempatan. Merawat diri bukan tindakan egois, tetapi bagian dari menjaga kemampuan untuk mendukung anak.
Tidak perlu aktivitas yang rumit. Minum kopi atau teh dengan tenang, membaca buku, berjalan sebentar, mendengarkan musik, atau sekadar duduk tanpa mengerjakan apa pun selama beberapa menit juga bisa menjadi bentuk self-care.
9. Tetap Jaga Komunikasi dengan Anak
Jangan hanya membicarakan tugas sekolah.
Luangkan waktu untuk bertanya bagaimana perasaan anak selama menjalani PJJ. Apakah ia merasa bosan, kesulitan mengikuti pelajaran, rindu teman-teman, atau justru menikmati belajar dari rumah?
UNICEF menekankan pentingnya mendengarkan anak dengan empati dan memberikan ruang aman bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan.
Dengan begitu, orang tua bisa mengetahui apakah masalah anak sebenarnya soal pelajaran atau justru berkaitan dengan kondisi emosionalnya.
10. Kenali Batas Diri dan Cari Bantuan Profesional
Stres sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, jika tekanan terasa terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan abaikan.
Orang tua dapat berbicara dengan dokter, psikolog, konselor, atau tenaga profesional kesehatan mental untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.
Pada akhirnya, mendampingi anak PJJ bukan perlombaan menjadi orang tua paling sempurna. Anak lebih membutuhkan orang tua yang hadir, mau mendengarkan, dan mampu menjaga dirinya sendiri.
(FIR)