FITNESS & HEALTH

Lindungi Si Kecil dari Abu Vulkanik: Panduan Praktis untuk Orang Tua

Yatin Suleha
Minggu 06 September 2026 / 23:01
Ringkasnya gini..
  • Situasi erupsi Gunung Anak Krakatau yang membawa sebaran abu vulkanik menuntut para orang tua untuk lebih ekstra waspada.
  • Terlebih, saluran pernapasan dan kulit anak masih sangat sensitif terhadap partikel debu halus yang tajam.
  • Sebagai langkah antisipasi utama, membatasi aktivitas di luar ruangan adalah kunci terpenting demi menghindari paparan langsung.
Jakarta: Situasi erupsi Gunung Anak Krakatau yang membawa sebaran abu vulkanik menuntut para orang tua untuk lebih ekstra waspada dalam menjaga kesehatan anak-anak di rumah. 

Terlebih, saluran pernapasan dan kulit anak masih sangat sensitif terhadap partikel debu halus yang tajam.

Sebagai langkah antisipasi utama, membatasi aktivitas di luar ruangan adalah kunci terpenting demi menghindari paparan langsung. 

Namun, jika terpaksa harus beraktivitas ke luar rumah, penggunaan masker yang rapat serta pelindung mata dan pakaian tertutup wajib dikenakan.

 

Selain perlindungan diri, kebersihan lingkungan rumah dan air bersih juga harus menjadi perhatian utama agar keluarga tetap sehat. 

Simak panduan lengkap langkah-langkah perlindungan anak dari paparan abu vulkanik dari dr. Mas Nugroho Ardi Santoso, SpA, M.Kes.

"Stop! Hujan vulkanik abu itu bukan hujan biasa. Dia bukan asap biasa dan bukan debu biasa. Ini hujan abu vulkanik. Masker itu bukan untuk melindungi utama, itu perlindungan tambahan. Jadi tidak cukup dengan masker. Perlindungan utama anak dari abu vulkanik adalah menghindari paparan, sekali lagi ya, menghindari paparan," bukanya dalam laman media sosialnya @ardisantoso.



(Dokter Ardi ingatkan masker bukan perlindungan utama, hindari paparan abu vulkanik pada anak. Video: Dok. Instagram dr. Mas Nugroho Ardi Santoso, SpA, M.Kes/@ardisantoso)

Ia bilang, "Jadi harus gimana? Pertama, jangan keluar kalau tidak perlu. Saat hujan abu, anak sebaiknya di dalam ruangan. Tutup pintu, jendela, dan ventilasi membawa udara luar. Kedua, masker. Kalau terpaksa keluar, gunakan masker yang ukurannya sesuai anak dan menutup hidung mulut dengan rapat. Harusnya N95 karena dapat menyaring lebih bagus."

"Tetapi tidak ada patokan usia berapa menggunakan dan kalau tidak ada, yang penting maskernya rapat pas hidung dan mulut. Tapi tidak sebagai perlindungan utama dan yang terbaik tetap jangan terpapar, ya. Yang ketiga, mata. Pakai kacamata pelindung," ungkap dokter yang punya 1.2 juta follower ini.
 

Lalu, kalau kena abu vulkanik gimana?


Dokter yang ramah ini memberikan tips, yaitu, "Kalau kena debu, jangan dikucek. Bilas dengan air bersih. Mata sangat merah atau nyeri, penglihatan terganggu, segera periksa ke dokter mata."

"Keempat, kulit. Pakai baju lengan panjang, celana panjang, atau alas kaki. Kalau terkena abu, bersihkan dan bilas dengan air bersih. Jangan digosok keras, bila iritasi menetap, luka semakin berat, periksa," tegasnya.
 
Untuk air dr. Ardi juga memberikan pesannya. "Kelima, air ya. Tutup sumur, bak, dan penampungan air agar tidak kemasukan debu. Jangan gunakan air yang tercemar abu untuk minum dan menyiapkan makanan sampai keamanannya dipastikan."

 

Ia menjelaskan, "Gunakan sumber air yang bersih. Dan jangan lupa cuci semua buah, sayur, makanan menggunakan air yang bersih yang terkena abu tadi. Ya, dan kalau masih terus hujan, terus hujan abu, jangan paksa anak sekolah hanya karena sudah pakai masker."

Jadi, apakah masker jadi ultimate dari paparan abu vulkanik ini? 

Dr. Ardi ingatkan, "Masker tidak jaminan bahwa semuanya aman. Masker itu hanya perlindungan tambahan. Perlindungan anak itu yang utama adalah dengan menghindari paparan. Oke? Salam sehat!"


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH