FITNESS & HEALTH
Abu Vulkanik Anak Krakatau, Menkes Reminder Buat Kurangi Healing di Luar Rumah
Yatin Suleha
Minggu 06 September 2026 / 18:43
- Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin kasih warning buat warga yang daerahnya kena sebaran abu vulkanik.
- Imbauan ini keluar gara-gara gunungnya lagi erupsi dan statusnya siaga (Level III) nonstop sejak Jumat (4/9/2026).
- Embusan angin bikin abu vulkaniknya menyebar ke Banten, Jakarta, sampai Jawa Barat.
Jakarta: Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin kasih warning buat warga yang daerahnya kena sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau supaya kurangi nongkrong di luar rumah dulu.
Imbauan ini keluar gara-gara gunungnya lagi erupsi dan statusnya siaga (Level III) nonstop sejak Jumat (4/9/2026).
Embusan angin bikin abu vulkaniknya menyebar ke Banten, Jakarta, sampai Jawa Barat. Kata Menkes Budi, kalau keseringan ngirup abu vulkanik pekat ini, risikonya gak main-main buat kesehatan—mulai dari ISPA, mata perih, sampai bikin kulit rewel.
Kelompok anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.
"Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata," ujar Menkes Budi dalam konferensi pers Situasi dan Kondisi Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau secara daring, Minggu (6/9/2026).
Menkes Budi juga memberikan instruksi terkait penanganan awal apabila warga terpapar abu vulkanik, terutama pada area sensitif seperti mata dan kulit.
“Kalau debu sudah masuk ke mata, jangan dikucek. Bersihkan dengan air dan bila perlu gunakan obat tetes mata. Semua puskesmas sudah kita siapkan untuk menangani kondisi tersebut,” tegas Budi.
Ia juga menyarankan warga segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah beraktivitas di luar rumah karena partikel abu vulkanik bersifat tajam.

(Penggunaan masker saat terjadi hujan abu vulkanik sangat penting untuk melindungi saluran pernapasan. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Sebagai langkah antisipasi kegawatdaruratan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) di tingkat pusat hingga kabupaten/kota terdampak.
Dinas Kesehatan di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat diinstruksikan menyiagakan puskesmas serta rumah sakit untuk beroperasi selama 24 jam guna merespons potensi lonjakan pasien.
Kemenkes juga memastikan kelancaran distribusi logistik medis ke sejumlah wilayah.
Pasokan yang disalurkan mencakup masker medis dan N95, tabung oksigen beserta konsentrator, alat uap pernapasan (nebulizer), berbagai obat untuk penanganan ISPA, serta obat tetes dan salep untuk mata dan kulit.
Dalam upaya mitigasi lanjutan, Kemenkes terus berkoordinasi lintas sektor dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memperbarui data sebaran abu dan kesiapan layanan kesehatan.
Menutup keterangannya, Menkes Budi meminta masyarakat hanya merujuk pada informasi resmi pemerintah dan tidak mudah terpancing oleh isu yang belum terverifikasi.
“Sekali lagi, jangan panik. Tetap di rumah apabila tidak ada keperluan untuk keluar, gunakan masker dan lindungi mata. Jika mengalami keluhan, segera datang ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” pungkas Menkes Budi.
(TIN)
Imbauan ini keluar gara-gara gunungnya lagi erupsi dan statusnya siaga (Level III) nonstop sejak Jumat (4/9/2026).
Embusan angin bikin abu vulkaniknya menyebar ke Banten, Jakarta, sampai Jawa Barat. Kata Menkes Budi, kalau keseringan ngirup abu vulkanik pekat ini, risikonya gak main-main buat kesehatan—mulai dari ISPA, mata perih, sampai bikin kulit rewel.
Kelompok anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.
"Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata," ujar Menkes Budi dalam konferensi pers Situasi dan Kondisi Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau secara daring, Minggu (6/9/2026).
Menkes Budi juga memberikan instruksi terkait penanganan awal apabila warga terpapar abu vulkanik, terutama pada area sensitif seperti mata dan kulit.
“Kalau debu sudah masuk ke mata, jangan dikucek. Bersihkan dengan air dan bila perlu gunakan obat tetes mata. Semua puskesmas sudah kita siapkan untuk menangani kondisi tersebut,” tegas Budi.
Ia juga menyarankan warga segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah beraktivitas di luar rumah karena partikel abu vulkanik bersifat tajam.

(Penggunaan masker saat terjadi hujan abu vulkanik sangat penting untuk melindungi saluran pernapasan. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Sebagai langkah antisipasi kegawatdaruratan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) di tingkat pusat hingga kabupaten/kota terdampak.
Dinas Kesehatan di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat diinstruksikan menyiagakan puskesmas serta rumah sakit untuk beroperasi selama 24 jam guna merespons potensi lonjakan pasien.
Kemenkes juga memastikan kelancaran distribusi logistik medis ke sejumlah wilayah.
Pasokan yang disalurkan mencakup masker medis dan N95, tabung oksigen beserta konsentrator, alat uap pernapasan (nebulizer), berbagai obat untuk penanganan ISPA, serta obat tetes dan salep untuk mata dan kulit.
Dalam upaya mitigasi lanjutan, Kemenkes terus berkoordinasi lintas sektor dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memperbarui data sebaran abu dan kesiapan layanan kesehatan.
Menutup keterangannya, Menkes Budi meminta masyarakat hanya merujuk pada informasi resmi pemerintah dan tidak mudah terpancing oleh isu yang belum terverifikasi.
“Sekali lagi, jangan panik. Tetap di rumah apabila tidak ada keperluan untuk keluar, gunakan masker dan lindungi mata. Jika mengalami keluhan, segera datang ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” pungkas Menkes Budi.
(TIN)