FITNESS & HEALTH
Lindungi Mata dan Napas Biar Gak Kena ISPA
Yatin Suleha
Minggu 06 September 2026 / 21:48
- Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta memberikan warning buat warga Jakarta.
- Agar ekstra waspada dan gercep melindungi saluran napas serta mata dari sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
- Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawari, bilang kalau abu vulkanik itu beda banget sama debu biasa.
Jakarta: Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta memberikan warning buat warga Jakarta supaya ekstra waspada dan gercep melindungi saluran napas serta mata dari sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawari, bilang kalau abu vulkanik itu beda banget sama debu biasa. Partikelnya super kecil dan isinya ada silika serta pecahan kaca vulkanik yang sifatnya tajam (abrasif).
Kalau sampai gak sengaja kesedot atau nempel di badan, dampaknya bisa bikin kesehatan langsung drop—terutama di bagian pernapasan, mata, sampai kulit.
Ani juga spill beberapa keluhan yang sering kejadian kalau kena paparan abu ini, mulai dari batuk-batuk, tenggorokan gatal, sesak napas, sampai bikin penyakit pernapasan kayak asma atau PPOK kambuh.
Belum lagi kalau kena mata, rasanya bakal perih, merah, dan mengganjal kayak ada pasirnya. Kalau ke kulit, efeknya bisa bikin gatal-gatal dan iritasi.
Dilansir dari laman resmi Pemprov DKI Jakarta, ia bilang, "Sebab itu masyarakat diimbau untuk melakukan beberapa langkah perlindungan. Terutama saat abu vulkanik berada di lingkungan sekitar," hari ini, Minggu 6 September 2026.
Berbagai upaya perlindungan yang perlu diperhatikan seperti membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama saat konsentrasi abu meningkat.
Lalu tutup rapat pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.
Jika harus bepergian, Ani mengingatkan warga agar menggunakan masker KN95 atau N95 untuk membantu menyaring partikel halus dan menggunakan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari paparan abu.
Setelah kembali ke rumah, diimbau agar mandi dan keramas serta segera mengganti pakaian, cuci pakaian yang terpapar abu secara terpisah, serta bila diperlukan, bilas mata dan hidung dengan air bersih.
.jpg)
(Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawari mengatakan hendaknya warga menggunakan masker KN95 atau N95 untuk membantu menyaring partikel halus. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kemudian bagi masyarakat yang melakukan pembersihan abu vulkanik di teras rumah, kendaraan, maupun lingkungan sekitar, diimbau agar gunakan masker, kacamata pelindung, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup.
"Perlengkapan tersebut membantu mengurangi risiko abu terhirup serta mencegah iritasi pada mata dan kulit," tegasnya.
Selanjutnya, Dinkes juga mengimbau masyarakat agar tidak menyapu abu dalam kondisi kering, karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan terhirup.
Sebelum menyapu, diimbau percikkan air secukupnya agar abu menjadi lebih berat dan tidak mudah beterbangan.
"Setelah selesai melakukan aktivitas di lingkungan yang terpapar abu, disarankan untuk melepaskan masker di luar ruangan sebelum masuk ke rumah, mandi dan keramas," saran Ani.
Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK, untuk lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik.
Apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau gangguan penglihatan, masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
"Lindungi diri, lindungi keluarga. Tetap waspada dan utamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik berlangsung," tandasnya.
(TIN)
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawari, bilang kalau abu vulkanik itu beda banget sama debu biasa. Partikelnya super kecil dan isinya ada silika serta pecahan kaca vulkanik yang sifatnya tajam (abrasif).
Kalau sampai gak sengaja kesedot atau nempel di badan, dampaknya bisa bikin kesehatan langsung drop—terutama di bagian pernapasan, mata, sampai kulit.
Ani juga spill beberapa keluhan yang sering kejadian kalau kena paparan abu ini, mulai dari batuk-batuk, tenggorokan gatal, sesak napas, sampai bikin penyakit pernapasan kayak asma atau PPOK kambuh.
Belum lagi kalau kena mata, rasanya bakal perih, merah, dan mengganjal kayak ada pasirnya. Kalau ke kulit, efeknya bisa bikin gatal-gatal dan iritasi.
Dilansir dari laman resmi Pemprov DKI Jakarta, ia bilang, "Sebab itu masyarakat diimbau untuk melakukan beberapa langkah perlindungan. Terutama saat abu vulkanik berada di lingkungan sekitar," hari ini, Minggu 6 September 2026.
Berbagai upaya perlindungan yang perlu diperhatikan seperti membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama saat konsentrasi abu meningkat.
Lalu tutup rapat pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.
Jika harus bepergian, Ani mengingatkan warga agar menggunakan masker KN95 atau N95 untuk membantu menyaring partikel halus dan menggunakan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari paparan abu.
Setelah kembali ke rumah, diimbau agar mandi dan keramas serta segera mengganti pakaian, cuci pakaian yang terpapar abu secara terpisah, serta bila diperlukan, bilas mata dan hidung dengan air bersih.
.jpg)
(Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawari mengatakan hendaknya warga menggunakan masker KN95 atau N95 untuk membantu menyaring partikel halus. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kemudian bagi masyarakat yang melakukan pembersihan abu vulkanik di teras rumah, kendaraan, maupun lingkungan sekitar, diimbau agar gunakan masker, kacamata pelindung, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup.
"Perlengkapan tersebut membantu mengurangi risiko abu terhirup serta mencegah iritasi pada mata dan kulit," tegasnya.
Selanjutnya, Dinkes juga mengimbau masyarakat agar tidak menyapu abu dalam kondisi kering, karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan terhirup.
Sebelum menyapu, diimbau percikkan air secukupnya agar abu menjadi lebih berat dan tidak mudah beterbangan.
"Setelah selesai melakukan aktivitas di lingkungan yang terpapar abu, disarankan untuk melepaskan masker di luar ruangan sebelum masuk ke rumah, mandi dan keramas," saran Ani.
Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK, untuk lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik.
Apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau gangguan penglihatan, masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
"Lindungi diri, lindungi keluarga. Tetap waspada dan utamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik berlangsung," tandasnya.
(TIN)