FITNESS & HEALTH
AI Adalah 'Rekan Kerja', Nakes Tetap Jadi Pengendali Utamanya!
Yatin Suleha
Rabu 19 Agustus 2026 / 23:03
- Tenaga kesehatan di Indonesia menyambut positif perubahan cara kerja dibawa oleh AI terhadap pekerjaan mereka.
- Temuan ini turut dipaparkan dalam media briefing Philips Future Health Index (FHI) 2026 Indonesia.
- Tujuan utama Philips Future Health Index salah satunya adalah mengukur sejauh mana sistem layanan kesehatan siap menghadapi tantangan masa depan.
Jakarta: Tenaga kesehatan di Indonesia menyambut positif perubahan cara kerja dibawa oleh AI terhadap pekerjaan mereka.
Temuan ini turut dipaparkan dalam media briefing Philips Future Health Index (FHI) 2026 Indonesia, Rabu, 19 Agustus 2026 yang dilaksanakan di The Westin Jakarta.
Acara yang diselenggarakan oleh Philips ini menerangkan bahwa lebih dari 9 dari 10 tenaga kesehatan (94%) mengatakan bahwa peran mereka saat ini sudah – atau akan segera – lebih fokus pada pekerjaan klinis yang bernilai lebih tinggi.
Sebelum memaparkan lebih jauh, buat kamu yang belum tahu FHI itu apa, ini adalah laporan riset global tahunan yang diprakarsai oleh Royal Philips.
Laporan ini berfokus pada topik-topik krusial seperti transformasi digital, penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), kesiapan sumber daya manusia (SDM), dan lainnya.
Tujuan utama Philips Future Health Index salah satunya adalah mengukur sejauh mana sistem layanan kesehatan siap menghadapi tantangan masa depan.
.jpg)
("AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan," terang Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia. Foto: Dok. Philips)
Dalam FHI 2026, laporan ini juga menjabarkan bahwa 83% percaya bahwa AI akan membantu tenaga kesehatan bekerja secara optimal dengan kemampuan profesional terbaik mereka.
Seiring dengan peran AI yang mulai mengambil alih lebih banyak tugas administratif, memproses informasi, dan mendukung analisis klinis, tenaga kesehatan mulai melihat AI sebagai "rekan kerja", dan bukan sekadar alat.
Sebanyak 94% nakes sepakat bahwa keterlibatan manusia (human-in-the-loop) itu wajib, dan 91% percaya semua hasil AI harus di bawah pengawasan langsung manusia.
Nakes memandang AI sebagai mitra yang dapat mendukung pengambilan keputusan, sementara akuntabilitas tetap berada di tangan tenaga kesehatan.
Sebanyak 9 dari 10 tenaga kesehatan (90%) yakin AI gak akan bisa menggantikan hubungan emosional antara nakes dan pasien, bahkan 87% percaya skil interpersonal bakal makin krusial ke depannya.
Sebanyak 57% pasien kini pakai AI generatif buat cari info kesehatan. Akibatnya, 80% nakes sering harus turun tangan meluruskan informasi keliru yang dibawa pasien saat konsultasi.
Sebanyak 9 dari 10 pasien Indonesia (91%) mengatakan bahwa mereka harus diberitahu ketika AI digunakan dalam perawatan mereka.
Hal ini menegaskan perlunya komunikasi yang jelas, panduan klinis yang tepercaya, serta literasi AI yang lebih kuat di kalangan tenaga kesehatan dan pasien.
“Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa inovasi dan tanggung jawab dapat berjalan beriringan,” jelas Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia.
“AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan."
"Pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga klinis, akademisi, dan mitra teknologi memiliki peran masing-masing dalam membangun infrastruktur yang terhubung, kapabilitas tenaga kerja, serta berbagai langkah perlindungan yang diperlukan untuk beralih dari penerapan AI dalam praktik menuju penerapan AI dalam skala luas dan menghadirkan layanan yang lebih baik bagi lebih banyak orang," pungkas Astri.
(Ultrasound Imaging Systems with AI Workflow | Philips. Video: Dok. YouTube Philips Healthcare)
(TIN)
Temuan ini turut dipaparkan dalam media briefing Philips Future Health Index (FHI) 2026 Indonesia, Rabu, 19 Agustus 2026 yang dilaksanakan di The Westin Jakarta.
Acara yang diselenggarakan oleh Philips ini menerangkan bahwa lebih dari 9 dari 10 tenaga kesehatan (94%) mengatakan bahwa peran mereka saat ini sudah – atau akan segera – lebih fokus pada pekerjaan klinis yang bernilai lebih tinggi.
Sebelum memaparkan lebih jauh, buat kamu yang belum tahu FHI itu apa, ini adalah laporan riset global tahunan yang diprakarsai oleh Royal Philips.
Laporan ini berfokus pada topik-topik krusial seperti transformasi digital, penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), kesiapan sumber daya manusia (SDM), dan lainnya.
Tujuan utama Philips Future Health Index salah satunya adalah mengukur sejauh mana sistem layanan kesehatan siap menghadapi tantangan masa depan.
AI partner kerja—dan nakes tetap jadi main character
.jpg)
("AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan," terang Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia. Foto: Dok. Philips)
Dalam FHI 2026, laporan ini juga menjabarkan bahwa 83% percaya bahwa AI akan membantu tenaga kesehatan bekerja secara optimal dengan kemampuan profesional terbaik mereka.
Seiring dengan peran AI yang mulai mengambil alih lebih banyak tugas administratif, memproses informasi, dan mendukung analisis klinis, tenaga kesehatan mulai melihat AI sebagai "rekan kerja", dan bukan sekadar alat.
Peran AI dan batasan tegas di dunia kesehatan
1. Manusia tetap pegang kendali
Sebanyak 94% nakes sepakat bahwa keterlibatan manusia (human-in-the-loop) itu wajib, dan 91% percaya semua hasil AI harus di bawah pengawasan langsung manusia.
2. AI sebagai mitra
Nakes memandang AI sebagai mitra yang dapat mendukung pengambilan keputusan, sementara akuntabilitas tetap berada di tangan tenaga kesehatan.
3. Sentuhan manusia tak tergantikan
Sebanyak 9 dari 10 tenaga kesehatan (90%) yakin AI gak akan bisa menggantikan hubungan emosional antara nakes dan pasien, bahkan 87% percaya skil interpersonal bakal makin krusial ke depannya.
4. Tantangan misinformasi dari pasien
Sebanyak 57% pasien kini pakai AI generatif buat cari info kesehatan. Akibatnya, 80% nakes sering harus turun tangan meluruskan informasi keliru yang dibawa pasien saat konsultasi.
5. Transparansi adalah kunci
Sebanyak 9 dari 10 pasien Indonesia (91%) mengatakan bahwa mereka harus diberitahu ketika AI digunakan dalam perawatan mereka.
Hal ini menegaskan perlunya komunikasi yang jelas, panduan klinis yang tepercaya, serta literasi AI yang lebih kuat di kalangan tenaga kesehatan dan pasien.
“Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa inovasi dan tanggung jawab dapat berjalan beriringan,” jelas Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia.
“AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan."
"Pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga klinis, akademisi, dan mitra teknologi memiliki peran masing-masing dalam membangun infrastruktur yang terhubung, kapabilitas tenaga kerja, serta berbagai langkah perlindungan yang diperlukan untuk beralih dari penerapan AI dalam praktik menuju penerapan AI dalam skala luas dan menghadirkan layanan yang lebih baik bagi lebih banyak orang," pungkas Astri.
(Ultrasound Imaging Systems with AI Workflow | Philips. Video: Dok. YouTube Philips Healthcare)
(TIN)