FITNESS & HEALTH
Sisi Lain Adopsi AI di Kesehatan Indonesia: Tantangan dan Kesiapan Sistem
Yatin Suleha
Rabu 19 Agustus 2026 / 22:10
- Meski adopsi AI di kalangan tenaga medis Indonesia melaju kencang masih ada PR besar yang harus dibenahi.
- Hal ini dipaparkan dalam laporan Future Health Index 2026-yang merupakan laporan riset global tahunan yang diprakarsai oleh Royal Philips.
- Dalam paparan yang diselenggarakan dalam media briefing Philips Future Health Index (FHI) 2026 Indonesia menjabarkan beberapa hal.
Jakarta: Meski adopsi AI di kalangan tenaga medis Indonesia melaju kencang—dengan hampir 63% nakes merasakan peningkatan penggunaan alat AI dari instansi mereka dalam setahun terakhir, serta 57% sudah memanfaatkan AI generatif untuk urusan kerja—masih ada PR besar yang harus dibenahi.
Hal ini dipaparkan dalam laporan Future Health Index 2026-yang merupakan laporan riset global tahunan yang diprakarsai oleh Royal Philips.
Untuk menganalisis dan mengevaluasi bagaimana sistem kesehatan di berbagai negara mengadopsi teknologi masa depan, tantangan yang dihadapi, serta pandangan tenaga medis dan pasien.
Laporan ini berfokus pada topik-topik krusial seperti transformasi digital, penerapan kecerdasan buatan, Artificial Intelligence atau AI, kesiapan sumber daya manusia (SDM), efisiensi layanan, serta kepercayaan pasien terhadap inovasi kesehatan.
Dalam paparan yang diselenggarakan dalam media briefing Philips Future Health Index (FHI) 2026 Indonesia, Rabu, 19 Agustus 2026 di The Westin Jakarta, FHI menjabarkan bahwa kepercayaan terhadap pimpinan juga relatif tinggi.
Lebih dari tiga perempat tenaga kesehatan (77%) percaya bahwa pimpinan institusi mereka telah mengambil langkah yang tepat untuk menerapkan alat berbasis AI, jauh di atas rata-rata global sebesar 59%.
.jpg)
(Laporan Future Health Index tahun ini mengulas bagaimana AI telah memberikan dampak nyata dalam praktiknya. Foto: Dok. Philips)
Lebih dari separuhnya (58%) beralih ke alat AI pribadi ketika pilihan yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan mereka.
Hal ini dapat menimbulkan risiko apabila alat-alat tersebut belum tervalidasi secara klinis, belum terintegrasi secara aman, atau belum memenuhi standar privasi dan akuntabilitas yang konsisten.
Lebih dari separuh (55%) mengatakan pelatihan untuk alat berbasis AI sulit didapat, terbatas, atau tidak merata.
Tenaga kesehatan membutuhkan dukungan bukan hanya untuk mengoperasikan alat tersebut, tetapi juga untuk melindungi data pasien, memahami tanggung jawab hukum, dan memeriksa akurasi rekomendasi yang dihasilkan AI.
Hampir dua pertiga (62%) mengatakan bahwa belum tersedianya proses yang jelas untuk memantau alat berbasis AI.
Seiring dengan semakin melekatnya peran AI dalam layanan kesehatan, institusi kesehatan membutuhkan mekanisme yang jelas untuk validasi, audit, pelacakan, dan peninjauan berkala.
Mengingat Indonesia lagi ngebut digitalisasi rekam medis lewat ekosistem SATUSEHAT, kuncinya bukan cuma asal tambah alat AI, tapi bagaimana teknologi ini benar-benar klop dengan alur kerja, keamanan data, dan tata kelola yang jelas.
Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan, "Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru."
"Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien."
(Philips Healthcare: What is Operational Intelligence and Why Now? Video: Dok. YouTube Philips)
(TIN)
Hal ini dipaparkan dalam laporan Future Health Index 2026-yang merupakan laporan riset global tahunan yang diprakarsai oleh Royal Philips.
Untuk menganalisis dan mengevaluasi bagaimana sistem kesehatan di berbagai negara mengadopsi teknologi masa depan, tantangan yang dihadapi, serta pandangan tenaga medis dan pasien.
Laporan ini berfokus pada topik-topik krusial seperti transformasi digital, penerapan kecerdasan buatan, Artificial Intelligence atau AI, kesiapan sumber daya manusia (SDM), efisiensi layanan, serta kepercayaan pasien terhadap inovasi kesehatan.
Dalam paparan yang diselenggarakan dalam media briefing Philips Future Health Index (FHI) 2026 Indonesia, Rabu, 19 Agustus 2026 di The Westin Jakarta, FHI menjabarkan bahwa kepercayaan terhadap pimpinan juga relatif tinggi.
Lebih dari tiga perempat tenaga kesehatan (77%) percaya bahwa pimpinan institusi mereka telah mengambil langkah yang tepat untuk menerapkan alat berbasis AI, jauh di atas rata-rata global sebesar 59%.
PR & tantangan di balik pesatnya adopsi AI kesehatan di Indonesia
.jpg)
(Laporan Future Health Index tahun ini mengulas bagaimana AI telah memberikan dampak nyata dalam praktiknya. Foto: Dok. Philips)
1. Nakes sering pakai AI pribadi
Lebih dari separuhnya (58%) beralih ke alat AI pribadi ketika pilihan yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan mereka.
Hal ini dapat menimbulkan risiko apabila alat-alat tersebut belum tervalidasi secara klinis, belum terintegrasi secara aman, atau belum memenuhi standar privasi dan akuntabilitas yang konsisten.
2. Pelatihan masih jadi kendala
Lebih dari separuh (55%) mengatakan pelatihan untuk alat berbasis AI sulit didapat, terbatas, atau tidak merata.
Tenaga kesehatan membutuhkan dukungan bukan hanya untuk mengoperasikan alat tersebut, tetapi juga untuk melindungi data pasien, memahami tanggung jawab hukum, dan memeriksa akurasi rekomendasi yang dihasilkan AI.
3. Pemantauan juga harus mengimbangi laju penerapan
Hampir dua pertiga (62%) mengatakan bahwa belum tersedianya proses yang jelas untuk memantau alat berbasis AI.
Seiring dengan semakin melekatnya peran AI dalam layanan kesehatan, institusi kesehatan membutuhkan mekanisme yang jelas untuk validasi, audit, pelacakan, dan peninjauan berkala.
4. Fokus ke depan lewat SATUSEHAT
Mengingat Indonesia lagi ngebut digitalisasi rekam medis lewat ekosistem SATUSEHAT, kuncinya bukan cuma asal tambah alat AI, tapi bagaimana teknologi ini benar-benar klop dengan alur kerja, keamanan data, dan tata kelola yang jelas.
Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan, "Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru."
"Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien."
(Philips Healthcare: What is Operational Intelligence and Why Now? Video: Dok. YouTube Philips)
(TIN)