FITNESS & HEALTH
Kelihatan Oke dari Luar, Bahaya Trauma Ternyata Bisa Sampai Dalam
A. Firdaus
Jumat 26 Juni 2026 / 07:33
- Prinsip dasar dari setiap trauma adalah perpindahan energi dari luar tubuh ke dalam tubuh.
- Besar kecilnya dampak cedera bergantung pada kekuatan benturan, dan kemampuan jaringan tubuh dalam menyerap energi tersebut.
- Dalam beberapa kasus, seseorang masih bisa terlihat sadar dan beraktivitas setelah kecelakaan.
Jakarta: Benturan akibat kecelakaan, olahraga, maupun aktivitas sehari-hari, tidak hanya menyebabkan luka di bagian luar tubuh. Trauma yang tampak ringan sekalipun dapat memicu cedera serius pada kepala, wajah, dada, hingga organ-organ dalam yang berisiko mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.
Prinsip dasar dari setiap trauma adalah perpindahan energi dari luar tubuh ke dalam tubuh. Energi tersebut kemudian diteruskan ke jaringan, tulang, maupun organ yang terkena benturan.
"Energi tidak dapat diciptakan, tidak dapat dimusnahkan. Jadi kalau setiap kena energi, pasti energi itu mengalir," ujar dr. Tirtamulya Juandy, MARS, Direktur di Bethsaida Hospital Serang dalam acara Launching Trauma Center Bethsaida Hospital Serang di Bethsaida Hospital Serang, Banten, Kamis (25/06/26).
Menurut dr. Tirta, besar kecilnya dampak cedera bergantung pada kekuatan benturan, dan kemampuan jaringan tubuh dalam menyerap energi tersebut.
Pada trauma kepala, energi benturan biasanya pertama kali diterima oleh tulang tengkorak. Meski tulang kepala relatif kuat, energi benturan tetap dapat diteruskan ke otak dan menyebabkan cedera serius.
Dokter Tirta menjelaskan bahwa kondisi yang dapat terjadi, meliputi perdarahan di dalam otak maupun di lapisan yang melindungi otak. Dalam beberapa kasus, seseorang masih bisa terlihat sadar dan beraktivitas setelah kecelakaan, tetapi mengalami penurunan kondisi secara tiba-tiba akibat perdarahan yang terlambat terdeteksi.
Selain akibat benturan, gangguan pada otak juga bisa terjadi karena penyakit seperti hipertensi yang tidak terkontrol, kadar gula darah tinggi, atau penyumbatan pembuluh darah.
Sementara itu, trauma wajah paling sering menyebabkan patah tulang hidung, rahang, dan area sekitar mata. Cedera pada mata juga perlu mendapat perhatian khusus, karena benturan keras atau benda asing dapat merusak struktur bola mata, hingga mengganggu penglihatan.
Setelah kepala, bagian tubuh lain yang harus diperiksa adalah leher. Menurut dr. Tirta, leher memiliki struktur yang kompleks dan berfungsi menopang kepala, sehingga cedera pada area ini tidak boleh diabaikan.
Pada trauma dada, benturan dapat menyebabkan patah tulang rusuk, cedera paru-paru, hingga gangguan pada jantung. Dalam kondisi tertentu, udara atau darah dapat menumpuk di rongga dada, sehingga paru-paru tidak mampu mengembang secara normal.
"Kalau si tulang ini tidak apa-apa, dia akan teruskan energi benturannya ke bagian dalam," kata dr. Tirta.
Berbeda dengan kepala dan dada yang memiliki perlindungan tulang, organ-organ di dalam perut relatif lebih rentan terhadap benturan langsung.
dr. Tirta menjelaskan bahwa trauma perut dapat menyebabkan memar, robekan, bahkan pecahnya organ seperti hati, limpa, usus, maupun ginjal. Cedera tersebut sering kali tidak langsung terlihat dari luar, tetapi dapat menyebabkan perdarahan dalam yang berbahaya.
Selain itu, trauma juga dapat memengaruhi organ reproduksi dan saluran kemih, terutama pada benturan keras atau kecelakaan dengan energi tinggi.
Cedera pada lengan dan tungkai menjadi salah satu kasus trauma, yang paling sering ditemukan. Kondisinya dapat berupa retak tulang, patah tulang, pergeseran sendi, hingga cedera ligamen akibat olahraga.
Menurut dr. Tirta, beberapa cedera olahraga yang melibatkan ligamen lutut atau sendi, memerlukan penanganan khusus, agar fungsi gerak dapat kembali optimal.
Oleh sebab itu, setiap trauma sebaiknya tidak dianggap sepele meski luka, yang terlihat hanya berada di permukaan tubuh. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan, untuk memastikan tidak ada cedera tersembunyi pada organ maupun jaringan vital.
"Pada proses trauma ini, biasanya begitu kena benturan, energi dari luar akan masuk ke tubuh dan diteruskan ke bagian yang paling rentan," ungkapnya.
dr. Tirta menegaskan bahwa penanganan yang cepat dan tepat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius serta meningkatkan peluang pemulihan pasien setelah mengalami trauma.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Prinsip dasar dari setiap trauma adalah perpindahan energi dari luar tubuh ke dalam tubuh. Energi tersebut kemudian diteruskan ke jaringan, tulang, maupun organ yang terkena benturan.
"Energi tidak dapat diciptakan, tidak dapat dimusnahkan. Jadi kalau setiap kena energi, pasti energi itu mengalir," ujar dr. Tirtamulya Juandy, MARS, Direktur di Bethsaida Hospital Serang dalam acara Launching Trauma Center Bethsaida Hospital Serang di Bethsaida Hospital Serang, Banten, Kamis (25/06/26).
Menurut dr. Tirta, besar kecilnya dampak cedera bergantung pada kekuatan benturan, dan kemampuan jaringan tubuh dalam menyerap energi tersebut.
Pada trauma kepala, energi benturan biasanya pertama kali diterima oleh tulang tengkorak. Meski tulang kepala relatif kuat, energi benturan tetap dapat diteruskan ke otak dan menyebabkan cedera serius.
Dokter Tirta menjelaskan bahwa kondisi yang dapat terjadi, meliputi perdarahan di dalam otak maupun di lapisan yang melindungi otak. Dalam beberapa kasus, seseorang masih bisa terlihat sadar dan beraktivitas setelah kecelakaan, tetapi mengalami penurunan kondisi secara tiba-tiba akibat perdarahan yang terlambat terdeteksi.
Selain akibat benturan, gangguan pada otak juga bisa terjadi karena penyakit seperti hipertensi yang tidak terkontrol, kadar gula darah tinggi, atau penyumbatan pembuluh darah.
Sementara itu, trauma wajah paling sering menyebabkan patah tulang hidung, rahang, dan area sekitar mata. Cedera pada mata juga perlu mendapat perhatian khusus, karena benturan keras atau benda asing dapat merusak struktur bola mata, hingga mengganggu penglihatan.
Cedera leher dan dada bisa mengancam nyawa
Setelah kepala, bagian tubuh lain yang harus diperiksa adalah leher. Menurut dr. Tirta, leher memiliki struktur yang kompleks dan berfungsi menopang kepala, sehingga cedera pada area ini tidak boleh diabaikan.
Pada trauma dada, benturan dapat menyebabkan patah tulang rusuk, cedera paru-paru, hingga gangguan pada jantung. Dalam kondisi tertentu, udara atau darah dapat menumpuk di rongga dada, sehingga paru-paru tidak mampu mengembang secara normal.
"Kalau si tulang ini tidak apa-apa, dia akan teruskan energi benturannya ke bagian dalam," kata dr. Tirta.
Organ dalam rentan mengalami kerusakan
Berbeda dengan kepala dan dada yang memiliki perlindungan tulang, organ-organ di dalam perut relatif lebih rentan terhadap benturan langsung.
dr. Tirta menjelaskan bahwa trauma perut dapat menyebabkan memar, robekan, bahkan pecahnya organ seperti hati, limpa, usus, maupun ginjal. Cedera tersebut sering kali tidak langsung terlihat dari luar, tetapi dapat menyebabkan perdarahan dalam yang berbahaya.
Selain itu, trauma juga dapat memengaruhi organ reproduksi dan saluran kemih, terutama pada benturan keras atau kecelakaan dengan energi tinggi.
Patah tulang hingga cedera olahraga
Cedera pada lengan dan tungkai menjadi salah satu kasus trauma, yang paling sering ditemukan. Kondisinya dapat berupa retak tulang, patah tulang, pergeseran sendi, hingga cedera ligamen akibat olahraga.
Menurut dr. Tirta, beberapa cedera olahraga yang melibatkan ligamen lutut atau sendi, memerlukan penanganan khusus, agar fungsi gerak dapat kembali optimal.
Oleh sebab itu, setiap trauma sebaiknya tidak dianggap sepele meski luka, yang terlihat hanya berada di permukaan tubuh. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan, untuk memastikan tidak ada cedera tersembunyi pada organ maupun jaringan vital.
"Pada proses trauma ini, biasanya begitu kena benturan, energi dari luar akan masuk ke tubuh dan diteruskan ke bagian yang paling rentan," ungkapnya.
dr. Tirta menegaskan bahwa penanganan yang cepat dan tepat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius serta meningkatkan peluang pemulihan pasien setelah mengalami trauma.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)