FAMILY
Balita Juga Bisa Kena Drama? Ini Cara Nge-handle-nya Biar Gak 'Burnout'
Yatin Suleha
Senin 06 April 2026 / 18:48
- Interaksi dengan teman sebaya, menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang anak.
- Namun, tidak semua anak langsung bisa, memahami cara bersikap atau merespons situasi sosial dengan tepat.
- Peran orang dewasa sangat dibutuhkan untuk membantu anak mengenali situasi.
Jakarta: Interaksi dengan teman sebaya, menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang anak, terutama di usia balita dan prasekolah. Di fase ini, anak mulai belajar berbagi, bekerja sama, sekaligus menghadapi konflik kecil yang wajar terjadi.
Namun, tidak semua anak langsung bisa, memahami cara bersikap atau merespons situasi sosial dengan tepat. Ada yang mudah menangis, marah, atau bahkan bingung saat menghadapi perlakuan kurang menyenangkan dari teman.
Oleh karena itu, peran orang dewasa sangat dibutuhkan untuk membantu anak mengenali situasi, memahami perasaan, serta belajar merespons dengan cara yang lebih baik dan sehat.
Menghadapi konflik sosial sejak dini adalah bagian dari proses belajar anak. Dengan pendampingan yang tepat, anak bisa lebih percaya diri dan mampu mengelola situasi dengan baik. Dilansir dari Parents, berikut adalah tiga cara untuk membantu anak menghadapinya.
.jpg)
(Saat anak mulai bermasalah dengan teman, penting untuk tetap tenang, mendengarkan cerita mereka tanpa menghakimi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Anak usia prasekolah biasanya lebih terbuka untuk bercerita dibanding anak yang lebih besar. Meski belum memahami istilah “perundungan”, mereka bisa mengungkapkan pengalaman dengan cara sederhana, seperti mengeluh tentang temannya yang bersikap kasar atau tidak mau berbagi.
Contohnya, anak mungkin berkata “Nila memanggilku dengan kata kasar.” “Dia memukulku.” “Dodi tidak mengizinkan aku bermain truk.”
Selain dari cerita, perubahan perilaku juga bisa menjadi tanda. Anak yang lebih pendiam mungkin terlihat murung, menarik diri, atau menunjukkan rasa takut saat akan pergi ke sekolah tanpa bisa menjelaskan alasannya.
Mengajarkan anak berbicara saat menghadapi konflik adalah langkah penting. Ketika anak merasa kesal, bantu menenangkan terlebih dahulu, lalu arahkan bagaimana cara menyampaikan perasaan.
Misalnya dengan mengatakan, “Lain kali, katakan pada Aira, ‘Aku sedang memainkannya.’”
Pendekatan ini membantu anak belajar menyelesaikan masalah tanpa harus menggunakan kekerasan. Seperti yang disampaikan oleh Eileen Kennedy-Moore, Ph.D., penulis buku Growing Friendships, membimbing anak menemukan solusi sejak awal dapat mencegah konflik berkembang menjadi perilaku agresif.
Latihan bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti bermain peran menggunakan boneka atau mainan favorit. Gunakan contoh kalimat seperti “Saya ingin mencoba sekarang” atau “Saya tidak suka itu.”
Cara ini membantu anak memahami bagaimana menyampaikan perasaan dengan jelas.
Selain itu, latihan bergantian seperti menyanyi atau menghitung, selanjutnya bisa mengajarkan konsep menunggu dan menghargai giliran.
Belajar empati tidak harus menunggu anak mengalami konflik secara langsung. Situasi sederhana sehari-hari bisa dijadikan momen belajar. Misalnya dengan mengatakan, "Toni sedih karena menara baloknya terjatuh."
Kalimat seperti ini membantu anak mengenali perasaan orang lain, dan memahami bahwa setiap tindakan bisa berdampak pada emosi orang di sekitarnya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Namun, tidak semua anak langsung bisa, memahami cara bersikap atau merespons situasi sosial dengan tepat. Ada yang mudah menangis, marah, atau bahkan bingung saat menghadapi perlakuan kurang menyenangkan dari teman.
Oleh karena itu, peran orang dewasa sangat dibutuhkan untuk membantu anak mengenali situasi, memahami perasaan, serta belajar merespons dengan cara yang lebih baik dan sehat.
Menghadapi konflik sosial sejak dini adalah bagian dari proses belajar anak. Dengan pendampingan yang tepat, anak bisa lebih percaya diri dan mampu mengelola situasi dengan baik. Dilansir dari Parents, berikut adalah tiga cara untuk membantu anak menghadapinya.
1. Dengarkan dengan penuh perhatian dan amati perilakunya
.jpg)
(Saat anak mulai bermasalah dengan teman, penting untuk tetap tenang, mendengarkan cerita mereka tanpa menghakimi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Anak usia prasekolah biasanya lebih terbuka untuk bercerita dibanding anak yang lebih besar. Meski belum memahami istilah “perundungan”, mereka bisa mengungkapkan pengalaman dengan cara sederhana, seperti mengeluh tentang temannya yang bersikap kasar atau tidak mau berbagi.
Contohnya, anak mungkin berkata “Nila memanggilku dengan kata kasar.” “Dia memukulku.” “Dodi tidak mengizinkan aku bermain truk.”
Selain dari cerita, perubahan perilaku juga bisa menjadi tanda. Anak yang lebih pendiam mungkin terlihat murung, menarik diri, atau menunjukkan rasa takut saat akan pergi ke sekolah tanpa bisa menjelaskan alasannya.
2. Dorong anak untuk menggunakan kata-kata
Mengajarkan anak berbicara saat menghadapi konflik adalah langkah penting. Ketika anak merasa kesal, bantu menenangkan terlebih dahulu, lalu arahkan bagaimana cara menyampaikan perasaan.
Misalnya dengan mengatakan, “Lain kali, katakan pada Aira, ‘Aku sedang memainkannya.’”
Pendekatan ini membantu anak belajar menyelesaikan masalah tanpa harus menggunakan kekerasan. Seperti yang disampaikan oleh Eileen Kennedy-Moore, Ph.D., penulis buku Growing Friendships, membimbing anak menemukan solusi sejak awal dapat mencegah konflik berkembang menjadi perilaku agresif.
2. Ajarkan respons yang bijak melalui permainan
Latihan bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti bermain peran menggunakan boneka atau mainan favorit. Gunakan contoh kalimat seperti “Saya ingin mencoba sekarang” atau “Saya tidak suka itu.”
Cara ini membantu anak memahami bagaimana menyampaikan perasaan dengan jelas.
Selain itu, latihan bergantian seperti menyanyi atau menghitung, selanjutnya bisa mengajarkan konsep menunggu dan menghargai giliran.
3. Bangun empati dari kejadian sehari-hari
Belajar empati tidak harus menunggu anak mengalami konflik secara langsung. Situasi sederhana sehari-hari bisa dijadikan momen belajar. Misalnya dengan mengatakan, "Toni sedih karena menara baloknya terjatuh."
Kalimat seperti ini membantu anak mengenali perasaan orang lain, dan memahami bahwa setiap tindakan bisa berdampak pada emosi orang di sekitarnya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)