FAMILY
Kelihatannya Sepele, Cara Pegang Pensil Bisa Pengaruhi Anak
A. Firdaus
Jumat 03 April 2026 / 11:10
- Anak cenderung lebih cepat lelah karena harus mengeluarkan tenaga lebih besar.
- Fenomena ini juga semakin sering ditemui oleh para pendidik.
- Pada usia TK, anak memang masih cenderung menggunakan genggaman sederhana
Jakarta: Banyak orang tua mungkin menganggap cara anak memegang pensil sebagai hal sepele. Padahal, kebiasaan ini memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan motorik halus anak.
Faktanya, cukup banyak anak usia taman kanak-kanak yang masih kesulitan memegang pensil dengan cara yang benar. Angkanya bahkan mencapai sekitar 34%. Alih-alih menggunakan posisi tripod, yakni memegang pensil dengan ibu jari dan telunjuk serta bertumpu pada jari tengah, sebagian anak justru menggenggam pensil dengan kepalan tangan.
Cara ini membuat aktivitas menulis dan mewarnai menjadi lebih sulit. Anak cenderung lebih cepat lelah karena harus mengeluarkan tenaga lebih besar. Meski tidak selalu menimbulkan rasa sakit, kondisi tersebut sering membuat anak merasa tidak nyaman hingga mudah frustrasi.
Dampaknya tidak hanya pada kemampuan menulis. Anak juga bisa kehilangan minat pada aktivitas kreatif seperti menggambar, mewarnai, atau membuat kerajinan tangan.
Namun, kondisi ini bukan tanpa solusi. Ketika cara memegang pensil mulai diperbaiki dan kekuatan otot jari berkembang, perubahan biasanya terlihat cukup signifikan. Anak menjadi lebih nyaman dan mulai menikmati aktivitas kreatifnya.
Fenomena ini juga semakin sering ditemui oleh para pendidik. Selain faktor perkembangan yang berbeda pada setiap anak, kebiasaan penggunaan gawai secara berlebihan diduga turut berkontribusi dalam memperlambat perkembangan motorik halus.
Mengutip Parents, Kirsten Horton, asisten direktur penerimaan sekolah dasar di Raleigh, Amerika Serikat, menyebut bahwa kesulitan memegang pensil merupakan hal yang umum terjadi pada anak usia prasekolah dan taman kanak-kanak.
“Lebih dari setengah anak yang kami nilai belum memiliki genggaman tripod yang fungsional. Banyak yang masih menggunakan genggaman kepalan atau sering berganti posisi karena tangan cepat lelah,” ujar Kristen.
Hal serupa disampaikan Laura Robinson, guru pendidikan khusus dengan pengalaman hampir 30 tahun. Menurutnya, pada usia taman kanak-kanak, anak memang masih cenderung menggunakan genggaman sederhana, seperti kepalan empat jari.
Seiring bertambahnya usia, biasanya antara 4 hingga 6 tahun, anak mulai mengembangkan genggaman yang lebih matang. Namun, setelah melewati usia 5 tahun, proses memperbaiki kebiasaan ini bisa menjadi lebih sulit jika belum terbentuk dengan baik.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan stimulasi yang tepat sejak dini. Aktivitas sederhana seperti menggambar, mewarnai, bermain plastisin, hingga meronce dapat membantu memperkuat otot jari anak.
Di sisi lain, pembatasan waktu penggunaan gawai juga perlu diperhatikan agar anak memiliki cukup kesempatan untuk melatih keterampilan motorik halusnya.
Pada akhirnya, cara memegang pensil bukan sekadar soal teknik menulis. Lebih dari itu, ini merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak yang perlu mendapat perhatian sejak dini.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Faktanya, cukup banyak anak usia taman kanak-kanak yang masih kesulitan memegang pensil dengan cara yang benar. Angkanya bahkan mencapai sekitar 34%. Alih-alih menggunakan posisi tripod, yakni memegang pensil dengan ibu jari dan telunjuk serta bertumpu pada jari tengah, sebagian anak justru menggenggam pensil dengan kepalan tangan.
Cara ini membuat aktivitas menulis dan mewarnai menjadi lebih sulit. Anak cenderung lebih cepat lelah karena harus mengeluarkan tenaga lebih besar. Meski tidak selalu menimbulkan rasa sakit, kondisi tersebut sering membuat anak merasa tidak nyaman hingga mudah frustrasi.
Dampaknya tidak hanya pada kemampuan menulis. Anak juga bisa kehilangan minat pada aktivitas kreatif seperti menggambar, mewarnai, atau membuat kerajinan tangan.
Namun, kondisi ini bukan tanpa solusi. Ketika cara memegang pensil mulai diperbaiki dan kekuatan otot jari berkembang, perubahan biasanya terlihat cukup signifikan. Anak menjadi lebih nyaman dan mulai menikmati aktivitas kreatifnya.
Fenomena ini juga semakin sering ditemui oleh para pendidik. Selain faktor perkembangan yang berbeda pada setiap anak, kebiasaan penggunaan gawai secara berlebihan diduga turut berkontribusi dalam memperlambat perkembangan motorik halus.
Mengutip Parents, Kirsten Horton, asisten direktur penerimaan sekolah dasar di Raleigh, Amerika Serikat, menyebut bahwa kesulitan memegang pensil merupakan hal yang umum terjadi pada anak usia prasekolah dan taman kanak-kanak.
“Lebih dari setengah anak yang kami nilai belum memiliki genggaman tripod yang fungsional. Banyak yang masih menggunakan genggaman kepalan atau sering berganti posisi karena tangan cepat lelah,” ujar Kristen.
Hal serupa disampaikan Laura Robinson, guru pendidikan khusus dengan pengalaman hampir 30 tahun. Menurutnya, pada usia taman kanak-kanak, anak memang masih cenderung menggunakan genggaman sederhana, seperti kepalan empat jari.
Seiring bertambahnya usia, biasanya antara 4 hingga 6 tahun, anak mulai mengembangkan genggaman yang lebih matang. Namun, setelah melewati usia 5 tahun, proses memperbaiki kebiasaan ini bisa menjadi lebih sulit jika belum terbentuk dengan baik.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan stimulasi yang tepat sejak dini. Aktivitas sederhana seperti menggambar, mewarnai, bermain plastisin, hingga meronce dapat membantu memperkuat otot jari anak.
Di sisi lain, pembatasan waktu penggunaan gawai juga perlu diperhatikan agar anak memiliki cukup kesempatan untuk melatih keterampilan motorik halusnya.
Pada akhirnya, cara memegang pensil bukan sekadar soal teknik menulis. Lebih dari itu, ini merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak yang perlu mendapat perhatian sejak dini.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)