FAMILY
Kebanyakan Screen Time Bisa Bikin Anak Telat Ngomong, Serius!
A. Firdaus
Jumat 03 April 2026 / 08:10
- Di fase itu anak lagi butuh banget interaksi langsung buat belajar.
- Yang paling penting, jangan sampai gadget 'menggantikan' peran interaksi.
- Solusinya bukan langsung anti gadget total, tapi lebih ke ngatur dengan bijak.
Jakarta: Ngasih gadget ke anak biar anteng? Banyak orang tua pasti pernah (atau sering) ngelakuin ini. Tapi hati-hati, ternyata kebanyakan screen time sejak dini bisa berdampak ke tumbuh kembang anak.
Menurut dokter spesialis saraf anak, dr. Rafat Trivedi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar waktu layar itu sendiri, tapi kalau terlalu sering dan terlalu cepat dikenalkan, terutama di usia 2–3 tahun pertama.
Masalahnya, di fase itu anak lagi butuh banget interaksi langsung buat belajar.
Anak tuh sebenarnya belajar dari hal-hal simpel: ngobrol, tatap mata, lihat ekspresi wajah, gerakan tubuh, sampai main bareng. Nah, semua itu nggak bisa digantikan sama layar.
"Kalau anak terlalu sibuk sama gadget, momen belajar penting ini jadi ke-skip”. Akibatnya? Bisa muncul keterlambatan bicara sampai kesulitan komunikasi sosial," kata dr. Trivedi melansir Antara.
Kabar baiknya, kondisi ini biasanya bisa membaik. Bahkan, menurut dr. Trivedi, anak yang mengalami keterlambatan karena screen time berlebihan bisa menunjukkan perkembangan cukup cepat setelah waktu layar dikurangi dan interaksi ditambah.
Jadi, solusinya bukan langsung anti gadget total, tapi lebih ke ngatur dengan bijak.
Buat anak di bawah 2 tahun, sebaiknya hindari dulu screen time, kecuali untuk video call sama keluarga. Sementara untuk anak di atas 2 tahun, batas amannya kurang dari 1 jam per hari.
Itu pun tetap harus didampingi. Orang tua disarankan pilihkan konten yang sesuai, pakai layar yang lebih besar (bukan HP), dan tetap ngawasin saat anak nonton.
Yang paling penting, jangan sampai gadget 'menggantikan' peran interaksi.
Luangin waktu tiap hari buat ngobrol, bacain buku, atau sekadar main bareng anak. Aktivitas sederhana kayak ikut bantu pekerjaan rumah juga bisa jadi momen belajar yang seru, asal disesuaikan dengan usia mereka.
Selain itu, anak juga butuh aktivitas yang lebih aktif dan interaktif, seperti storytelling, role play, atau main bebas di luar ruangan.
Intinya, gadget boleh aja, tapi jangan sampai jadi 'pengasuh utama'. Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukan layar, tapi kehadiran dan interaksi nyata dari orang tuanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Menurut dokter spesialis saraf anak, dr. Rafat Trivedi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar waktu layar itu sendiri, tapi kalau terlalu sering dan terlalu cepat dikenalkan, terutama di usia 2–3 tahun pertama.
Masalahnya, di fase itu anak lagi butuh banget interaksi langsung buat belajar.
Baca Juga :
Simak! Ini 7 Tanda Anak Kecanduan Gadget
Anak tuh sebenarnya belajar dari hal-hal simpel: ngobrol, tatap mata, lihat ekspresi wajah, gerakan tubuh, sampai main bareng. Nah, semua itu nggak bisa digantikan sama layar.
"Kalau anak terlalu sibuk sama gadget, momen belajar penting ini jadi ke-skip”. Akibatnya? Bisa muncul keterlambatan bicara sampai kesulitan komunikasi sosial," kata dr. Trivedi melansir Antara.
Kabar baiknya, kondisi ini biasanya bisa membaik. Bahkan, menurut dr. Trivedi, anak yang mengalami keterlambatan karena screen time berlebihan bisa menunjukkan perkembangan cukup cepat setelah waktu layar dikurangi dan interaksi ditambah.
Jadi, solusinya bukan langsung anti gadget total, tapi lebih ke ngatur dengan bijak.
Buat anak di bawah 2 tahun, sebaiknya hindari dulu screen time, kecuali untuk video call sama keluarga. Sementara untuk anak di atas 2 tahun, batas amannya kurang dari 1 jam per hari.
Itu pun tetap harus didampingi. Orang tua disarankan pilihkan konten yang sesuai, pakai layar yang lebih besar (bukan HP), dan tetap ngawasin saat anak nonton.
Yang paling penting, jangan sampai gadget 'menggantikan' peran interaksi.
Luangin waktu tiap hari buat ngobrol, bacain buku, atau sekadar main bareng anak. Aktivitas sederhana kayak ikut bantu pekerjaan rumah juga bisa jadi momen belajar yang seru, asal disesuaikan dengan usia mereka.
Selain itu, anak juga butuh aktivitas yang lebih aktif dan interaktif, seperti storytelling, role play, atau main bebas di luar ruangan.
Intinya, gadget boleh aja, tapi jangan sampai jadi 'pengasuh utama'. Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukan layar, tapi kehadiran dan interaksi nyata dari orang tuanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)