FAMILY
Sibling Rivalry: Drama Si Kakak Mendadak Meng-Newborn Pas Punya Adik!
Yatin Suleha
Minggu 17 Mei 2026 / 21:00
- Hadirnya bayi baru di rumah emang bawa kebahagiaan tersendiri.
- Tapi jujur aja, ini juga memicu perubahan besar buat seisi rumah, terutama si kakak yang masih balita.
- Bagi balita, punya adik itu bukan cuma soal momen bahagia, tapi sebuah perubahan besar.
Jakarta: Hadirnya bayi baru di rumah emang bawa kebahagiaan tersendiri, tapi jujur aja, ini juga memicu perubahan besar buat seisi rumah, terutama si kakak yang masih balita.
Di tengah drama kurang tidur, rutinitas yang jungkir balik, plus perhatian yang sekarang harus terbagi, wajar banget kalau si kakak tiba-tiba nunjukin sikap yang gak kayak biasanya.
Mulai dari lebih sering tantrum, mogok tidur siang, sampai mendadak minta pakai popok lagi.
Situasi kayak gini pasti bikin kita lelah sekaligus bingung, kan? Tapi tenang, perubahan perilaku ini sebenarnya respons yang wajar banget kok.
Bagi balita, punya adik itu bukan cuma soal momen bahagia, tapi sebuah perubahan besar yang memicu emosi campur aduk yang belum bisa mereka pahami atau ungkapkan lewat kata-kata.
Balita yang baru saja memiliki adik, pada dasarnya sedang menghadapi “perubahan peran” dalam keluarga.
Tanpa pilihan, mereka kini menjadi kakak, sebuah posisi baru yang tidak selalu mudah diterima. Perubahan ini bisa terasa membingungkan, apalagi di usia di mana kemampuan mengelola emosi masih berkembang.
.jpg)
(Sibling rivalry atau persaingan antara kakak dan adik kerap terjadi dalam keluarga. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh rasa cemburu akibat salah satu anak mendapat perhatian lebih. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Reaksi yang muncul bisa beragam. Ada balita yang mulai menguji batasan yang sebelumnya sudah dipahami, ada juga yang justru menunjukkan perilaku seperti bayi.
Misalnya ingin duduk di kursi bayi, kembali memakai popok, atau meminta minum dari botol. Bahkan, beberapa anak bisa kembali mengoceh seperti bayi, lebih sering minta digendong, atau tertarik dengan mainan adiknya.
Jika hal-hal tersebut terjadi, yang paling dibutuhkan adalah dukungan dan pemahaman. Kelley Yost Abrams, Ph.D., seorang psikolog perkembangan di California, menyarankan: “Sebisa mungkin, akui perasaannya ‘Oh, kadang-kadang memang enak jadi bayi!’ Dan bersikaplah ceria ‘Astaga, aku punya dua bayi kecil.’”
Sebaliknya, penting untuk menghindari respons yang bernada menyalahkan atau mempermalukan.
Kalimat seperti, “Anak besar tidak bertingkah seperti itu,” atau “Kamu sudah anak besar sekarang, jangan lakukan itu,” justru bisa membuat balita merasa tidak dipahami.
Alih-alih membantu, hal ini dapat memperburuk kondisi emosional dan berdampak pada hubungan dengan anak.
Regresi pada balita bisa terlihat dari beberapa perubahan perilaku, seperti:
1. Lebih sering tantrum atau mudah marah
2. Menolak tidur siang atau mengalami gangguan tidur
3. Kembali ingin menggunakan popok
4. Ingin diperlakukan seperti bayi (digendong, disuapi, atau minum dari botol)
5. Mengalami kemunduran pada keterampilan, yang sebelumnya sudah dikuasai, seperti tidur mandiri atau penggunaan toilet
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Di tengah drama kurang tidur, rutinitas yang jungkir balik, plus perhatian yang sekarang harus terbagi, wajar banget kalau si kakak tiba-tiba nunjukin sikap yang gak kayak biasanya.
Mulai dari lebih sering tantrum, mogok tidur siang, sampai mendadak minta pakai popok lagi.
Situasi kayak gini pasti bikin kita lelah sekaligus bingung, kan? Tapi tenang, perubahan perilaku ini sebenarnya respons yang wajar banget kok.
Bagi balita, punya adik itu bukan cuma soal momen bahagia, tapi sebuah perubahan besar yang memicu emosi campur aduk yang belum bisa mereka pahami atau ungkapkan lewat kata-kata.
Apa yang terjadi saat balita mengalami regresi?
Balita yang baru saja memiliki adik, pada dasarnya sedang menghadapi “perubahan peran” dalam keluarga.
Tanpa pilihan, mereka kini menjadi kakak, sebuah posisi baru yang tidak selalu mudah diterima. Perubahan ini bisa terasa membingungkan, apalagi di usia di mana kemampuan mengelola emosi masih berkembang.
.jpg)
(Sibling rivalry atau persaingan antara kakak dan adik kerap terjadi dalam keluarga. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh rasa cemburu akibat salah satu anak mendapat perhatian lebih. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Reaksi yang muncul bisa beragam. Ada balita yang mulai menguji batasan yang sebelumnya sudah dipahami, ada juga yang justru menunjukkan perilaku seperti bayi.
Misalnya ingin duduk di kursi bayi, kembali memakai popok, atau meminta minum dari botol. Bahkan, beberapa anak bisa kembali mengoceh seperti bayi, lebih sering minta digendong, atau tertarik dengan mainan adiknya.
Jika hal-hal tersebut terjadi, yang paling dibutuhkan adalah dukungan dan pemahaman. Kelley Yost Abrams, Ph.D., seorang psikolog perkembangan di California, menyarankan: “Sebisa mungkin, akui perasaannya ‘Oh, kadang-kadang memang enak jadi bayi!’ Dan bersikaplah ceria ‘Astaga, aku punya dua bayi kecil.’”
Sebaliknya, penting untuk menghindari respons yang bernada menyalahkan atau mempermalukan.
Kalimat seperti, “Anak besar tidak bertingkah seperti itu,” atau “Kamu sudah anak besar sekarang, jangan lakukan itu,” justru bisa membuat balita merasa tidak dipahami.
Alih-alih membantu, hal ini dapat memperburuk kondisi emosional dan berdampak pada hubungan dengan anak.
Baca Juga :
Drama Popok Belum Usai? Ini Mungkin Alasan yang Bikin Si Kecil Belum Mau Move On ke Toilet!
Tanda-tanda regresi yang perlu dipahami
Regresi pada balita bisa terlihat dari beberapa perubahan perilaku, seperti:
1. Lebih sering tantrum atau mudah marah
2. Menolak tidur siang atau mengalami gangguan tidur
3. Kembali ingin menggunakan popok
4. Ingin diperlakukan seperti bayi (digendong, disuapi, atau minum dari botol)
5. Mengalami kemunduran pada keterampilan, yang sebelumnya sudah dikuasai, seperti tidur mandiri atau penggunaan toilet
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)