FAMILY
Baru Jadi Mom/Dad Terus Kaget Liat Bayi Mau Muntah? Cek Faktanya
Yatin Suleha
Senin 09 Februari 2026 / 12:34
- Bayi kerap menunjukkan berbagai respons tubuh salah satunya gerakan seperti ingin muntah saat menyusu atau makan.
- Refleks muntah, misalnya, merupakan respons adaptif yang membantu bayi menyesuaikan diri dengan aliran ASI atau susu formula.
- Sementara tersedak adalah kondisi yang membutuhkan perhatian lebih serius karena berkaitan langsung dengan jalan napas.
Jakarta: Pada masa awal kehidupan, bayi kerap menunjukkan berbagai respons tubuh yang tampak mengejutkan, mulai dari batuk tiba-tiba, gumoh, hingga gerakan seperti ingin muntah saat menyusu atau makan.
Situasi-situasi ini sering memicu kepanikan karena sulit dibedakan mana reaksi normal dan mana yang berbahaya. Padahal, tubuh bayi sebenarnya telah dibekali mekanisme perlindungan alami yang bekerja sejak lahir untuk menjaga saluran pernapasan tetap aman.
Refleks muntah, misalnya, merupakan respons adaptif yang membantu bayi menyesuaikan diri dengan aliran ASI atau susu formula, sementara tersedak adalah kondisi yang membutuhkan perhatian lebih serius karena berkaitan langsung dengan jalan napas.
Tanpa pemahaman yang memadai, kedua kondisi ini kerap disalahartikan sebagai hal yang sama.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana refleks muntah bekerja pada bayi baru lahir, apa penyebabnya, serta bagaimana membedakannya secara jelas dari kondisi tersedak, agar respons yang diberikan tetap tenang, tepat, dan tidak justru memperburuk keadaan.
Dilansir dari BabyCenter bayi baru lahir dapat mengalami refleks muntah ketika ASI atau susu formula mengalir terlalu cepat, terutama pada masa awal ketika bayi masih menyesuaikan diri dengan proses makan.
Upaya yang dapat dilakukan adalah membantu bayi tetap rileks selama menyusu serta menghindari paksaan untuk menghabiskan susu lebih dari yang diinginkan.
.jpg)
(Refleks muntah, misalnya, merupakan respons adaptif yang membantu bayi menyesuaikan diri dengan aliran ASI atau susu formula. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Pada proses menyusui langsung, aliran ASI awal atau fase “letdown” sering kali terasa sangat kuat, khususnya pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan, dan kondisi ini dapat memicu bayi tersedak.
Posisi menyusui yang lebih tegak dapat membantu mengurangi kecepatan aliran susu. Alternatif lain adalah menyusui dalam posisi berbaring menyamping, dengan kedua pihak berada dalam posisi miring, sehingga aliran ASI menjadi lebih lambat dan mudah dikendalikan.
Jika produksi ASI tergolong banyak atau terdapat jeda menyusui yang cukup lama hingga payudara terasa penuh, memompa atau memerah ASI selama beberapa menit sebelum menyusui dapat membantu melewati fase “letdown” awal yang kuat. Setelah fase tersebut berlalu, aliran ASI umumnya menjadi lebih stabil dan lambat.
Pada bayi yang minum menggunakan botol, penting untuk memastikan ukuran dot sesuai dengan kemampuan menelan bayi.
Dot dengan aliran yang terlalu cepat biasanya memiliki lebih banyak lubang dan memungkinkan susu keluar dalam jumlah besar sekaligus, sehingga meningkatkan risiko tersedak.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Situasi-situasi ini sering memicu kepanikan karena sulit dibedakan mana reaksi normal dan mana yang berbahaya. Padahal, tubuh bayi sebenarnya telah dibekali mekanisme perlindungan alami yang bekerja sejak lahir untuk menjaga saluran pernapasan tetap aman.
Refleks muntah, misalnya, merupakan respons adaptif yang membantu bayi menyesuaikan diri dengan aliran ASI atau susu formula, sementara tersedak adalah kondisi yang membutuhkan perhatian lebih serius karena berkaitan langsung dengan jalan napas.
Tanpa pemahaman yang memadai, kedua kondisi ini kerap disalahartikan sebagai hal yang sama.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana refleks muntah bekerja pada bayi baru lahir, apa penyebabnya, serta bagaimana membedakannya secara jelas dari kondisi tersedak, agar respons yang diberikan tetap tenang, tepat, dan tidak justru memperburuk keadaan.
Dilansir dari BabyCenter bayi baru lahir dapat mengalami refleks muntah ketika ASI atau susu formula mengalir terlalu cepat, terutama pada masa awal ketika bayi masih menyesuaikan diri dengan proses makan.
Upaya yang dapat dilakukan adalah membantu bayi tetap rileks selama menyusu serta menghindari paksaan untuk menghabiskan susu lebih dari yang diinginkan.
.jpg)
(Refleks muntah, misalnya, merupakan respons adaptif yang membantu bayi menyesuaikan diri dengan aliran ASI atau susu formula. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Pada proses menyusui langsung, aliran ASI awal atau fase “letdown” sering kali terasa sangat kuat, khususnya pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan, dan kondisi ini dapat memicu bayi tersedak.
Posisi menyusui yang lebih tegak dapat membantu mengurangi kecepatan aliran susu. Alternatif lain adalah menyusui dalam posisi berbaring menyamping, dengan kedua pihak berada dalam posisi miring, sehingga aliran ASI menjadi lebih lambat dan mudah dikendalikan.
Jika produksi ASI tergolong banyak atau terdapat jeda menyusui yang cukup lama hingga payudara terasa penuh, memompa atau memerah ASI selama beberapa menit sebelum menyusui dapat membantu melewati fase “letdown” awal yang kuat. Setelah fase tersebut berlalu, aliran ASI umumnya menjadi lebih stabil dan lambat.
Pada bayi yang minum menggunakan botol, penting untuk memastikan ukuran dot sesuai dengan kemampuan menelan bayi.
Dot dengan aliran yang terlalu cepat biasanya memiliki lebih banyak lubang dan memungkinkan susu keluar dalam jumlah besar sekaligus, sehingga meningkatkan risiko tersedak.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)